Sampah dan Owasi-owasika

)* Oleh Soleman Itlay

Semua orang ingin berjuang untuk berkunjung ke Kota Dingin. Salah satu tujuannya adalah untuk foto di depan Owadi-Owasika. Tetapi sayang, kamu tidak akan pernah merasa baik-baik. Satu hal karena kesadaran para pengunjung sangat minim. Mereka jalan dan mengabadikan momen tanpa rasa memiliki terhadap kota berwayang satu. Tidak mempunyai kepedulian tentang kebersihan. Mereka membuang segala macam dan bentuk sampah dimana-mana. Akhirnya apa, orang yang dari belakang berkunjung merasa jijik melihat sampah-sampah di kawasan wisatanya.

Jenis sampah yang paling banyak adalah produk dari perusahaan negara kolonial Indonesia dan lainnya, antara lain; plastik, dos gula-gula, botol dari berbagai jenis minuman toko, dan lain sebagainya. Kita muda temukan sampah-sampah non-organik ini misalnya di kawasan Owasi-owasika di Pugima, Parema, Megapura, Walesi, Napua, Gunung Susu,, Asologaima, Yiwika, Siep-Kossy, Anelagak dan lain sebagainya. Tapi sampah organik sangat minim. Rata-rata ini dibawah oleh orang-orang luar hingga khalayak setempat yang bertamasya ke sana.

Sampah ini menjadi masalah besar. Saat ini memang tidak nampak di media sosial. Tetapi di kapangan, kawasan Owasi-owasika, tempat dimana orang banyak pada belakangan ini berkunjung terdapat sejumlah tumpukan sampah hingga berhamburan di jalanan, bahkan di tengah-tengah bunga. Hingga saat ini, sampai bunga Owasi-owasika akan mulai gugur pada Juni ini, masih bisa ditemukan. Bakalan itu bisa ditemukan pada tahun depan dan seterusnya.

Hal ini wajar saja terjadi karena hampir semua tempat kawasan wisata masih berlaku sebagai status bebas. Sementara ini masyarakat setempat belum melihat sebagai potensi wisata alam. Jadi, mereka belum mengatur spot-spot. Belum mempunyai manajemen. Belum ada niat untuk menjadikan kawasan wisata tersebut sebagai sumber pendapatan ekonomi guna memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya jelas. Hingga saat ini belum ada petugas pelindungan kawasan wisata hingga petugas kebersihan.

Jika sampah tersebut dari tahun ke tahun meningkat pesat apa yang akan terjadi di kemudian hari? Pasti semua orang ingin berkunjung, tapi sampah bisa menjadi penghalang bagi siapa saja. Orang yang ingin menikmati keindahan alam justru akan dibatasi dengan jauh sampah yang busuk hingga merusak keindahan alam sekitarnya. Kalau memang itu tidak ditangani secara dini atau para pengunjung terus membuang sampah sembarang, tentu kelak akan menyensor niat semua orang. Bahkan bisa membawah kesunyian panjang.

Untuk itu, diharapkan supaya siapa saja yang berkunjung ke kawasan wisata apa saja, termasuk di tempat-tempat Owasi-owasika berbunga harus mempertimbangkan beberapa hal ini. Pertama, pergi ke Wamena atau tepatnya berkunjung ke kawasan Owasi-owasika harus dengan modal rasa memiliki terhadap tanah Papua, khususnya Kota Sayur-mayur satu ini. Kedua, kamu harus mempunyai rasa kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup sekitar. Ketiga, jangan buang sampah sembarang. Buang pada tempatnya.

Kalau tidak ada tempat, ya berusaha cari kantong, pegang atau bawah hingga cari tempat yang disiapkan atau cocok untuk dibuang. Dengan demikian, kamu tidak hanya membuat alam semesta bangga. Tetapi, lebih dari pada itu kamu membuat masyarakat setempat senang. Hal ini justru akan membuat Tuhan juga sangat berkenan pada kamu. Karena kamu telah berkehendak baik untuk kebersihan bumi manusia. Kelima, kalau mau post di media sosial atau apa saja, ingat ya? Gunakan nama rumput itu dalam bahasa Hugula. Sebut saja Owasi-owasika.

 

 

Tinggalkan Balasan