Bukan Rumput Mei

)* Oleh Soleman Itlay

Tak hanya pada bulan Juni dan Juli, yang identik dengan Festival Budaya Lembah Baliem serta Karnaval pada setiap bulan Agustus. Sebenarnya, hampir setiap bulan Wamena itu sangat menjanjikan. Salah satu momen paling indah dan sangat menarik itu pada bulan Mei. Tidak lain, hal itu dengan adanya tumbuhan eksotis yang tumbuh pada bulan Mei. Bunga ini biasa mekar pada bulan April. Biasa menuai musim gugur pada bulan Juni. Puncak keindahan Rumput langkah satu ini selalu jatuh pada bulan Mei. Itulah yang orang mengenalnya Rumput Mei—membuat “Kota Dingin” indah—layak disebut momen wisata yang tepat. Selalu naik daun di media sosial kalau sudah masuk bulan lima tersebut.

Rumput Mei Dalam Bahasa Hugula

Nama yang sebenarnya dalam bahasa Hugula itu ada dua versi, yakni Owasi-owasika dan Laga-lagaka. Muasalnya dari empat kata, yakni; owa, owasi, laga (laga-laga) dan eka. Owa artinya dirinya atau padanya (menunjukkan kepada suatu objek). Owasi berarti berbau (wangi atau harum dlst). Laga berarti pergi atau jalan. Dengan kata lain, laga-laga berarti sesuatu yang jalan atau merambat terus menerus. Sedangkan Eka artinya daun atau dedaunan. Dengan demikian, Owasi-owasika atau Laga-lagaka merupakan sebuah jenis tumbuhan (rumput) berbunga yang mengandung wangi yang begitu harum dan mampu menjalar kemana-mana dengan cepat.

Mengapa nama Rumput Mei lebih populer ketimbang Owasi-Owasika? Begini kata Tarci Acex (akun Facebook), seorang Fotografer di Wamena yang meng-upload di Facebook pada 7 Mei 2020. “dalam bahasa daerah di Lembah Baliem memang nama rumput ini Owasi-owasika. Namun di beberapa tahun belakangan ini, bunga rumput ini muncul hanya di bulan Mei. Sehingga dijadikan momen kunjungan bagi Wisatawan. Nah, kenapa dalam keterangan foto saya, saya ‘menyebut’ Rumput Mei? Karena di kalangan publik sudah lazim menyebut Rumput Mei, dimana karena bunga Rumput ini hanya muncul di bulan Mei”. Pernyataan ini dikutip dari komentar Acex terhadap komentar saya yang menyebut Bukan Rumput Mei. Tapi Owasi-owasika.

Muncul Pada 1970-1980-an

Rumput Mei ini bukan tumbuhan asli di Wamena. Dia baru muncul sekitar 1970 memasuki 1980-an. Hingga saat ini belum jelas, di kawasan mana yang pertama tumbuh. Namun, kurang lebih muncul pada tahun-tahun itu. Dari awal hingga saat ini, Owasi-owasika rata-rata tumbuh diatas permukaan tanah yang cukup tinggi dan dataran atau perbukitan yang tanahnya cukup kering. Rumput yang menurut Pater Lishout berasal dari Belanda ini mudah tumbuh dan cepat merambat di lahan yang notabene bekas perkebunan, pinggir jalanan raya dan lainnya.

Bentuk Laga-lagaeka

Dia berakar dalam tanah dengan kedalaman kurang lebih 1-5 centimeter. Batangnya kecil-kecil. Tidak lebih dari 2-4 diameter. Satu batang atau satu cabang suku bunga bisa memakan jarak lebih dari 1 meter. Jika dia sambung menyambung, bakal bisa memakan lebih dari 10-50 hektar. Dia punya batang pada usia mudah berwarna hijau. Tapi kalau sudah tua suda lain warna, cokelat. Dia mudah lengket dengan pakaian. Tapi kalau musim kemarau tiba dan dibakar, mudah sekali terbakar hingga di akar-akarnya.

Fungsi dan Manfaat

Sejak Owasi-owasika ini muncul hingga saat ini, orang-orang di Lembah Agung ini banyak difungsikan untuk kepentingan ternak hewan dan pembangunan pagara rumah, kebun dan Gereja. Rumput ini bisa menyembuhkan ternak hewan, terutama ternak babi yang sakit demam atau kedinginan. Pemiliknya, kalau sudah tahu ternaknya sakit demikian, dia akan pergi potong rumput itu dan kasih masuk di kandang babi untuk menghangatkan tubuh ternak sekaligus menyembuhkannya.

Selain itu, kalau sudah membuat pagar kebun, rumah, gereja, kantor kampung dan lainnya, biasanya masyarakat manfaatkan rumput langkah tersebut. Kelak, rumput ini bisa menjadi salah satu obat untuk mengobati orang yang membutuhkan lem, obat untuk menyembuhkan orang atau ternak yang sakit demam, malaria dan lainnya. Namun hal membutuhkan kajian akademis yang mendalam guna memastikannya. Tapi yang jelas, kelak akan bermanfaat bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan kelak.

Kata Kunci

Mengapa nama “Rumput atau Bunga Mei lebih tersohor cepat ketimbang Owadi-Owasika atau Laga-lagaka? Kata kuncinya ada pada keterbatasan akses pendidikan, pengetahuan, informasi dan teknologi bagi masyarakat adat pribumi di ‘Kota Dingin” yang sejuk itu dengan para migran atau masyarakat urban. Bagi masyarakat setempat mempunyai pengetahuan tentang bahasa, budaya dan nilai-nilai kearifan lokal setempat. Namun mereka sangat terbatas soal keterampilan pendidikan, pengetahuan, teknologi dan cara mengakses informasi serta mengadaptasi diri dalam perkembangan modern..

Akibatnya, segala sesuatu yang ada di depan mereka sekalipun tidak terakomodir, terorganisir dan dikrmbangkan secara baik. Memang ada anak-anak dari Lembah Agung itu, yang mempunya pendidikan, pengetahuan, informasi dan teknologi yang cukup mumpuni. Namun itu juga bermasalah tatkala bakat dan minat menulis demi pengembangan ilmu pengetahuan, budaya dan bahasa setempat sangat minim. Faktor lain karena kurang mempunyai keterampilan, kemampuannya, bahkan boleh dikatakan pantas karena belakangan ini baru mereka mulai mengembangkan bakat mereka melalui akses teknologi.

Pencaplokan Secara Sepihak

Tentu ini merupakan masalah fundamental bagi orang Hugula. Masalah tersebut menyelimuti sepanjang masa (sejarah hidup orang Hugula). Akibatnya bisa dirasakan pada beberapa aspek. Salah satunya kita bisa lihat dan belajar dari pencaplokan nama rumput atau bunga ini dari bahasa asli setempat ke bahasa kolonial Indonesia oleh orang luar tanpa sedikitpun melakukan penelitian lebih dalam, sepengetahuan, ijin, bekerja sama, dan kompromi dengan masyarakat adat setempat. Banyak orang, lantaran terpengaruh dengan bahasa kolonial Indonesia, tanpa mempertimbangkan secara bijak, mereka langsung melabelkan sesuatu dengan mudah.

Orang luar yang masuk ke daerah ini atau kebetulan lewat dengan kemampuan dan keterampilan tertentu—kemudian melihat sesuatu yang bisa diakses oleh mereka, segera dicaplok dalam konteks yang lebih luas. Mereka menyebut nama sesuatu yang mereka lihat, dengar dan rasa baik, diberi nama, diartikan, dikembangkan, disebarluaskan secara sepihak tanpa melakukan membangun pendekatan seperti yang diharapkan oleh semua pihak terkait.

Mumpung mereka mempunyai kemampuan dan keterampilan serta akses pendidikan, pengetahuan, teknologi dan informasi, jadi cepat sekali mereka sebarkan di media masa. Pada saat yang sama, kaum pribumi setempat dengan nilai-nilai kearifan lokal, termasuk bahasa Hugula disingkirkan secara sistematis. Disini terdapat motif pencaplokan secara sepihak di sektor wisata, budaya, bahasa dan lainnya atas nama sensasi tertentu—di samping mengharumkan nama baik kota paling subur ini melalui keindahan alamnya.

Silvester Korwa, fotographer asal Papua, disebut-sebut orang pertama yang memotret dan mempublikasikannya Owasi-owasika. Dia media massa, menurut travelblog, sebuah website berbasis traveling tidak menjelaskan kalau Korwa publikasikan nama rumput itu Bunga Mei atau sebaliknya (Rumput Mei). Namun dalam rentan waktu yang singkat, nama Rumput Mei menjadi terkemuka ketimbang nama tumbuhan tersebut dalam bahasa Hugula, Owasi-owasika atau Laga-lagaka. Untuk memastikan ini, alam. Pater Frans Lishout, OFM berharap, agar kelak orang atau lembaga tertentu melakukan penelitian lebih lanjut.

Motif Aneksasi

Trend ini bukan baru. Tentu ini melekat pada sistem aneksasi atau neo-kolonialisme modern. Motif ini erat kaitannya dengan sistem perbudakan modern. Dalam kasus Rumput Mei ini sangat jelas. Artinya, mengandung motif aneksasi (kolonialisme). Hal ini bisa dilihat dari pencaplokan nama tumbuhan tersebut, dimana dari nama rumput Owasi-Owasika dirubah sesuka hati oleh orang yang mengunjungi hingga mengupload di media masa sampai menjadi populer dimana-mana dengan menggunakan bahasa kolonial Indonesia.

Bukan sesuatu yang asing. Ini merupakan entitas perbudakan mutakhir pada modern di sektor wisata. Sebagai pribumi setempat, dengan tegas menolak dan tentu tidak kompromi dengan label-label kolonialisme yang mengandung motif aneksasi. Motif pencaplokan hingga perubahan nama Owasi-Owasika ke Rumput Mei itu secara tidak sadar dan langsung identitas ekologi pada ekosistem dan habitat asli setempat. Disini tsecara halus, tidak langsung menghilangkan muasal etimologi, pedagogi dan pengetahuan dasar kosmositas terhadap Owasi-Owasika.

Motif Perbudakan Modern (Neo-kolonialisme di West Papua)

Rumput Mei, sebutan untuk Owasi-Owasika ini mengantarkan pada pemahaman, bahwa ini merupakan motif perbudakan modern (neo-kolonialisme di West Papua). Orang harus pahami, bahwa perbudakan di Papua juga sarat dengan bahasa kolonial Indonesia. Bahasa kolonial Indonesia rentan memusnahakan bahasa daerah dari kaum budak modern. Bahasa kolonial juga menjadi ancaman besar bagi bahasa daerah, termasuk terhadap tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hidup—di seluruh sektor wisata.

Perubahan ini dalam sistem kolonialisme bukan sesuatu yang langkah. Dalam sistem kolonialisme ada beberapa hal. Pertama, sebelum kolonial memusnahkan suatu etnis, dia akan menghancurkan seluruh tatanan hidup, terutama adat istiadat, budaya, bahasa dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat budak lainnya. Kedua, sesudah membuka daerah koloni, kolonial pasti akan menghancurkan sistem pendidikan yang berpotensi melahirkan intelektual, cendikiawan yang bisa melawan hingga menggoyahkan presente kolonial itu sendiri.

Kejahatan Luar Biasa

Sekali lagi, dalam penamaan Owasi-Owasika ke Rumput Mei (terlepas dari siapa yang kasih nama) murni bentuk awal pemusnahan—pembunuhan bagi kaum Hubula. Ini merupakan kejahatan terbesar dan sistematis terhadap alam semesta. Tapi juga merupakan kejahatan luar biasa terhadap bahasa dan budaya Hubula. Harap, supaya nama rumput atau bunga tersebut disebut menurut namanya “Owasi-Owasika”. Bukan Rumput Mei lagi. Harap semua orang yang mengunjungi di lokasi-lokasi tersebut bisa menerima dan mengakui ini sebagai bentuk penghormatan terhadap alam semesta, bahasa, budaya dan masyarakat adat setempat.

Musnahkan Bahasa Sebelum Musnahkan Manusia

Pada saat yang sama menghilangkan identitas budaya dan bahasa masyarakat budak (adat) setempat. Tanpa sadari, ini bukan lain pula. Tetapj bagian dari pembunuhan sistemik, yang menurut Benny Giyai adalah pemusnahan etnis terselubung (disguised slavey). Dengan sadar menyatakan, bahwa bahasa kolonial Indonesia memusnahkan bahasa daerah. Sebelum membunuh manusia oleh manusia, bahasa membunuh bahasa.

Ancaman Bahasa Indonesia Terhadap Eksistensi Orang Hubula

Bahasa kolonial Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan pemersatu. Lebih dari pada itu, bahasa kolonial Indonesia adalah bahasa pengantar atau saran yang paling efektif untuk memusnahkan seluruh identitas segala satwa yang terdapat di tanah koloninya, West Papua. Bahasa kolonial Indonesia merupakan sarana komunikasi dan alat kekuasaan untuk meruntuhkan segala eksistensialisme di tanah koloni Indonesia paling timur.

Rumput Mei, sebutan untuk Owasi-Owasika ini mengantarkan pada pemahaman, bahwa ini merupakan motif perbudakan modern (neo-kolonialisme di West Papua). Orang harus pahami, bahwa perbudakan di Papua juga sarat dengan bahasa kolonial Indonesia. Bahasa kolonial Indonesia rentan memusnahkan bahasa daerah dari kaum budak modern. Bahasa kolonial juga menjadi ancaman besar bagi bahasa daerah, termasuk terhadap tumbuh-tumbuhan dan lingkungan hidup—di seluruh sektor wisata.

Perubahan ini dalam sistem kolonialisme bukan sesuatu yang langkah. Dalam sistem kolonialisme ada beberapa hal. Pertama, sebelum kolonial memusnahkan suatu etnis, dia akan menghancurkan seluruh tatanan hidup, terutama adat istiadat, budaya, bahasa dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat budak lainnya. Kedua, sesudah membuka daerah koloni, kolonial pasti akan menghancurkan sistem pendidikan yang berpotensi melahirkan intelektual, cendikiawan yang bisa melawan hingga menggoyahkan present kolonial itu sendiri.

 

)* Penulis adalah masyarakat Papua di Jayapura.

Tinggalkan Balasan