๐—œ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐˜€ ๐—ž๐—ผ๐—ป๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐˜€๐—ถ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฆ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—”๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—•๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ธ๐˜€

๐๐ซ๐จ๐ฅ๐จ๐ 

Konsepsi berpacaran yang salah sering terjadi dikalangan generasi muda hari ini, hingga berimbas pada proses perbudakan seks untuk memenuhi kebutuhan biologis/hubungan pasangan kekasih (pacarnya)

“๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—™๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—น ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ” terjadi dalam orientasi berpacaran, mindset pria dan wanita generasi muda di Zaman sekareang (Era globalisasi) ini. Jika lakukan hubungan seks maka, hubungan berpacaran akan terjaga secara utuh.

Dampak negatif seks dalam berpacaran akan merujuk pada kehancuran moralitas dan pencemaran reputasi, serta hancurnya pencitraan pribadi. Dan hal ini juga akan berimbas pada terhambatnya proses pembentukan Intelektualitas Diri, serta menghambat pengembangan diri dikampus, gereja dan serta di organisasi lainnya.

๐„๐ฉ๐ข๐ฅ๐จ๐ 

Berpacaran yang tidak sesuai dengan ajaran agama maupun adat/budaya, akan berunjuk pada kehancuran moralitas dan pencitraan pribadi, dan tentunya akan tercemar dihadapan orang tua, lingkungan dan terlebih lagi di hadapan Sang Pencipta

Bubungan Seks bukanlah suatu kewajiban yang harus dilakukan dalam masa berpacaran. Wanita kadang mengorbankan keperawanan-nya yang juga sebagai wujud kesucian-nya demi pacar-nya yang labelnya “๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐—บ๐—ถ ๐˜€๐—ฎ๐—ต” dari seorang (wanita) tersebut.

Saat wanita masih muda (lajang) dijadikan sebagai komoditas oleh berbagai pria bujang maupun juga yang sudah menikah, walaupun wanita tidak tahu persis statusnya pria tersebut sudah menikah atau belum. Mereka pun relakan tubuhnya demi mencukupi kebutuhan sehari-harinya, baik kebutuhan ongkos taksi, makeup, makan minum, dan lainnya.

Wanita mampu mengorbankan kesuciannya demi pacarnya, hanya karena takut kehilangan. Seringkali wanita hamil cepat dan putus kulia akibat presepsi berpikir yang salah konsepsi terhadap hal berpacaran hingga ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ธ๐˜€ oleh pria alias ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ dan hal ini sangat krusial untuk dipahami oleh kaum muda di masa kini.

Terkadang tidak ada “๐’‰๐’Š๐’๐’‚๐’๐’ˆ” penguasaan diri akhirnya lupa dan tidak berpikir budi baik dan jasa dari orang tuanya, belum di balas. Pahadal mereka sedang merindukan kesuksesan anaknya demi kebahagiaan masa tua mereka “๐’ƒ๐’‚๐’‘๐’‚ ๐’…๐’‚๐’ ๐’Ž๐’‚๐’Ž๐’‚”

Bapa-mama, maafkan aku yang tak sempat balas budimu.

 

“๐™„๐™ฃ๐™จ๐™ฅ๐™ž๐™ง๐™–๐™จ๐™ž ๐™๐™ž๐™™๐™ช๐™ฅ ๐™ ๐™ž๐™ง๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™—๐™š๐™ง๐™ข๐™–๐™ฃ๐™›๐™–๐™–๐™ฉ” — (Yagai Kigodi Wiyai) — | Ket. Gambar: ilustrasi.

 

Tinggalkan Balasan