Rektor Universitas Cendrawasih Setujuh Penghapusan Ujian Nasional

Jayapura, nirmeke.com Rektor Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura, mendukung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, sola persoalan penghapusan Ujian Nasional (UN) sebagai syarat penentuan kelulusan tahun 2021.

Dr. Ir. Apollo Sapanfo, Rektor Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura, mengatakan alasan dukungan tersebut dilihat dari fungsi dan waktu dari pendidik (guru) dihabiskan untuk urus administrasi bukan mendidik siswa. Senin, (9/3/2020).

“misalnya guru kita secara profesional, prosesinya itu sebagai pengajar dan dia bertugas untuk mengajar dan ketika dia pulang mempersiapkan materi apa yang akan diberikan besok namun mereka ini disibukan dengan membuat soal UN dan memeriksa soal untuk melatih siswa hadapi UN,” kata Rektor.

Banyak waktu guru itu habis untuk bikin soal UN dan periksa soal sedangkan untuk menjagar dan mendidik siswa tidak ada. Mereka sebenarnya pendidik profesional tetapi waktunya banyak terhabis di administrasi. Dan Pelajar seharusnya ia belajar, bagaimana menimbah ilmu tetapi waktu mereka habis untuk latihan soal, baca soal dan ujian soal.

“yang belajar itu sedikit tapi untuk persiapan UN itu paling banyak, karena dia (siswa) ini harusnya belajar,” katanya.

Rektor menjelaskan, secara masif di seluruh Indonesia dari pusat sampai daerah itu kita hanya sibuk dengan ujian nasional saja. Orang lain belajar, kita cari, soal dan kerja soal. Dari sisi efesiensi dan efektivitas waktu belajar memang ada sisi positifnya. Tapi memang kita harus punya instrument untuk mengukur sejauh mana hasil pembelajaran kita.

“setelah Ujian Nasional ini kita tiadakan, instrument apa yang akan kita gunakan dipakai untuk  mengukur hasil pembelajaran kita. Apakah capaiannya sudah memenuhi kopetensi yang kita inginkan atau kurang, nanti bisa dipikirkan kembali,” kata Rektor Uncen.

Dengan ditiadakannya Ujian Nasional tahun depan, paling tidak siswa diuji oleh sekolah. Karena guru lebih mengetahui kemampuan siswa daripada guru lain yang membuat soal bukan dari Papua.

“misalkan saya guru dari siswa ini, saya mengajar, melatih dan membimbing dia maka saya yang paling tahu kemampuannya. Inikan sekolah yang mendidik anak tersebut, tapi orang lain yang mau tes siswa ini. Kompetensinya lain, soal-soalnya lain dan otomatis dia tidak bisa mengerjakan soal itu, diangap gagal padahal tidak,” katanya.

Biarkan guru mengidentifikasi talenta siswa ini dimana, biar itu dikembangkan. Kalau tidak tidak bisa terjun payung, jangan paksa dia belajar terjun payung. Orang yang jago matematika belum tentu menguasai kimia. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan