PMKRI Jayapura Sesalkan Kotbah Romo Agam, Yang Melukai Hati Umat Katolik di Papua

Jayapura, nirmeke.com –  Ilustrasi pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon, RJ, atau pangilan akrab romo Agam, dalam kotbah pada tanggal 24 Desember 2019 di hereja katedral Jakarta dinilai telah melakukan diskriminasi dan pelecehan terhadap orang Papua.

Hal tersebut dikatakan Wakol Yelipele, ketua presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jayapura santo Efrem kepada nirmeke.com, menanggapi ilustrasi kotbahnya beberapa waktu lalu yang melukai umat Katolik pribumi di Papua. Senin, (6/1/2020).

Wakol, mengatakan ilustrasi pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon, RJ, dalam kotbah pada tanggal 24 Desember 2019 di gereja katedral Jakarta, mengatakan  orang Papua belum paham berhitung, tidak mengenal mata angin, tidak tau kiri dan kanan, membawa persembahan sambil berlompat lompat tari susu, dan memamerkan susu sambil berlompatan tersebut ungkapan yang tidak etis oleh seorang pastor.

“kami PMKRI cabang Jayapura menilai bahwa kotbah seorang pastor ini merupakan salah satu ungkapan yang mendiskriminasi, dan pelecehan terhadap orang Papua. Ketika melihat thema nasional tahun 2019 adalah “Hiduplah Sahabat Bagi Semua Orang,” namun ilustrasi tersebut jauh beda dengan tema natal,” katanya.

Ia menambahkan ungkapan seorang pastor dalam mengkotbah perayaan ekaristi adalah salah satu aktor perusak kehidupan Papua. PMKRI sangat mengutuk pastor tersebut karena seorang pelayan bukan menilai dan mengajarkan hal-hal buruk kepada umat tetapi harusnya mengajarkan hal yang baik hidup bersahabat.

“Kami berharap juga kepada beberapa uskup keuskupan di tanah Papua agar hal ini penting untuk ditangani  secara cepat agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan,” katanya.

sementara itu, Aleks Alua umat Katolik di Waena menambahkan seorang pastor dengan yang secara intelektual (ordonya) terkenal, kembali menghina orang Papua. Ternyata tidak cukup belajar filsafat sehingga memandang rendah orang Papua sebagai manusia.

“pastor seperti ini harus ditindak tegas oleh keuskupan di Papua, agar tidak meluas yang dapat merugikan banyak orang dengan mengambil sikap tegas dengan sangsi yang di berikan kepada pastor tersebut,” katanya. (*)

Editor : Aguz Pabika 

Tinggalkan Balasan