Cinta Tidak Punya Rasis

Oleh: Mr. Nomen

 

Kamu membawa ku ke dunia hidupku, di gunung dimana aku besar bersama kedua orang tuaku didalam ternak dan bertani. Kau adalah anak perempuan dari penduduk pantai yang suka dengan gunung. Kamu mengenal ku ketika aku terbaring dijalan dimana banyak orang ada dijalan hedonisme namun saya tidak paham tentang itu.

Kita duduk disana, tepat sore jam empat,cahaya matahari sore membela dedaunan dan semak-semak dihadapan, dimana kita duduk. Indahnya atmosfer di sore itu bersama senyum kita berdua dan cahaya matahari yang datang dapat tersenyum pada kau dan aku yang telah mengalahkan rasisme mereka diluar sana.

Cara kita duduk disini adalah bukti Cinta kita. Sudah lama kita saling kenal dalam satu warna hidup. Delapan tahun adalah Cinta yang luar biasa. Kau memberi, dan aku memberi, saling menerima tanpa keluh dan kesah. Dulu aku pernah tanya. “kenapa kamu cinta sama aku.” Jawabmu sederhana dan singkat, “Manusia itu sama semua, beda hanyalah cara berpikir. Kau adalah aku dan kamu adalah aku. Cinta kita satu warna di ruang yang sama, walaupun kita berbeda oleh mata manusia”.

Aku tidak beruntung bertemu dengan kamu kalau hari ini adalah bukan pikirannya Tuhan. Kau pernah berkata, “Apapun perbedaan tidaklah mengabadikan hidup kita di akhirat. Kita hanyalah meminjam bumi ini untuk hidup dan duduk kita disini hanyalah punya Cinta yang luar biasa.” Aku cinta lebih dari sebatas berkenalan lalu menghilang.

Kau berkata di sore itu, “Aku cantik karena kulitku yang putih, tapi kamu ganteng karena kulitmu yang hitam. Saya benci pada mereka yang Menghitung hitam dan putih di bumi ini”. Saya suka cerita hitam dan putih diruang yang sama. Tidak ada satu garis yang membedakan kau dan aku selain garis keturunan kita.

 

Bersambung disana . . . . .

Tinggalkan Balasan