Martin Luther King, Pun Tewas Ditembak Karena Melawan Rasisme di Amerika

Oleh: Mr. Nomen

Perlakuan Rasisme adalah konflik Batin bagi kulit Hitam yang terus subur hingga sekarang

Pada tahun 1955 Martin Luther King memimpin aksi boikot terhadap kebijakan bus yang memisahkan kulit putih dan hitam. Kasus bermula ketika Rosa Parks ditahan polisi di Montgomery karena duduk di bangku untuk kulit putih.

Dalam pidatonya saat konvensi nasional Federasi Buruh dan Kongres Organisasi Industri Amerika (AFL-CIO) pada 11 Desember 1961, King menyatakan sudah saatnya warga kulit hitam mendapatkan upah layak. Pidato King di Lincoln Memorial menjadi salah satu momentum paling penting dalam perjuangan warga kulit hitam.

Usaha Martin terpaksa berakhir dengan tragis. Memphis menjadi saksi bagaimana King tewas ditembak seorang suprematis kulit putih bernama James Earl Ray pada 4 April 1968, tepat hari ini 51 tahun lalu. Kematian King mengakibatkan kerusuhan terjadi di seluruh negeri. Warga kulit hitam kehilangan salah satu juru bicaranya yang paling hebat. (tirto.id)

Pertama Kali Kulit Hitam Menjadi Presiden, Belum Juga Menghapus Rasisme di Amerika

Kemenangan Obama telah membuat sejarah baru di AS Pada 4 November 2008. Ia menjadi warga Afrika Amerika pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Gedung Putih.

Presiden Barack Obama mengatakan Amerika Serikat belum mengatasi masalah rasismenya. Berbicara kepada komedian Marc Maron dalam wawancara untuk podcast-nya, Obama mengatakan, “kita belum pulih dari rasisme.”

Ia kemudian menggunakan kata negro, yang digunakan untuk merujuk pada warga kulit hitam dan di Amerika berkonotasi rasis.

Dua debate Obama menjadi Presiden, Rasis belum juga sembuh. Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama secara mengejutkan menggunakan cercaan rasial untuk meluapkan kejengkelannya atas “penyakit” rasisme di AS yang tidak kunjung sembuh.

Almarhum Mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe pernah berpidato di depan rakyat di Negara yang bahwa, “Rasisme tidak akan pernah berhenti selagi mobil putih masih menggunakan ban hitam.”

Apakah Konflik di Papua karena Rasisme yang sudah membusuk?

Jika jawabannya adalah Ia, maka perlukah orang asli Papua harus menjadi Presiden, Kedutaan, Menteri, Gubernur dan Bupati. Jika tidak, kenapa orang Papua meminta jabatan. Masalah Papua sangat kompleks dan sungguh serius. Persoalan besar tidak bisa diselesaikan oleh satu atau lebih oleh pejabat tinggi Negara, sekalipun Presiden.

Rezim pertama di Era Jokowi-JK (2014-2019) ada orang asli Papua menjabat sebagai pejabat Negara tertinggi Republik Indonesia. Ibu Yohana dan Bapak Fredy Numberi. Apakah hari ini tanah Papua sudah damai dan hidup sejahtera? Silakan menilai sendiri, jika anda kecewa dengan kabinet kerja Jokowi.

Konflik di Papua sama tidak beda jauh dengan saudara kita di Africa, Aborigin dan Indian sejak itu dan hingga kini. Rakyatnya diperdadukan para Penguasa dunia yang mengendalikan dunia. Karena kepentingan segelintir orang di salah satu Negara, sudah pasti rakyatnya dibuat sepertinya boneka.

Rasisme sudah ada semenjak orang Papua hidup bersama Indonesia pada tahun 1961. Pada Senin 19 Agustus 2019 dua bulan yang lalu, mahasiswa Papua di Surabaya mengalami rasisme dan persekusi. Seluruh tanah Papua ramai memprotes. Rasisme sudah ada semenjak Ir. Soekarno mengeluarkan Tri Komando Rakyat untuk membubarkan Negara West Papua.

Sekalipun orang asli Papua memimpin Indonesia selama dua dekate atau lebih, rasisme tidak akan pernah sembuh. Obama yang memimpin Negara super power dengan masyarakat yang secara Intelektualitasnya tinggi saja tidak mampu menekan rasisme di Amerika Serikat.

Rasisme adalah konflik batin yang akan terus ada karena orang Papua hanya inferior di Negeri ini. Minoritas hanya boleh hidup dengan kecerdasan yang hakiki dengan memiliki ruang kerja yang kecil. (*)

*Penulis adalah mahasiswa Papua asal Meepago yang mengkritisi kinerja serta ketidakberpihakan pemerintah kepada rakyat Papua di tanah Papua.

Tinggalkan Balasan