Saat Jalan Damai Dipasung Senjata (Sabda Minggu)

Oleh; Victor Yeimo

* Kalau saja negara melalui TNI Polri tidak membiarkan atau tidak mendukung ormas meneriaki monyet dan usir Papua, lalu serang dan tangkap Mahasiswa Papua di Malang dan dan Surabaya (dan itu terjadi berulang kali) TIDAK mungkin rakyat Papua secara spontan turun jalan di seluruh Papua.

* Kalau saja mobil truk TNI tidak masuk menerobos masa aksi dan menabrak satu orang masa aksi damai pada 28 Agustus 2019 di Deiyai, maka tidak mungkin 8 orang Papua dan 1 anggota TNI mati terbunuh.

* Kalau saja TNI Polri mencegah segelintir warga pendatang yang mengklaim Masyarakat Nusantara menyerang warga sipil Papua tidak mungkin ada korban 4 orang pasca demo protes tanggal 29 Agustus di Jayapura. Toh rakyat Papua hanya sasar gedung-gedung, bukan manusia non Papua (100 milyar sudah bayar ganti rugi gedung-gedung, tetapi nyawa manusia tidak tergantikan)

* Kalau TNI dan Polri tidak tembak masa pelajar yang demo secara aman dan damai duduki kantor Bupati Wamena sampaikan aspirasi, maka tidak mungkin 31 orang warga sipil Papua dan non Papua mati pada insiden 23 September 2019.

* Kalau TNI Polri dan Rektor biarkan Mahasiswa Exodus duduki halaman Uncen dan biarkan mereka bicara menuntut nasib studi yang yang ditinggalkan di Indonesia. Dan kalau TNI Polri tidak mengantar mereka ke Expo lalu bersama segelintir milisi sipil (ormas Nusantara) menembaki dan menyerang Mahasiswa, tidak mungkin 4 orang Mahasiswa dan 1 TNI mati di Jayapura pada 23 September 2019.

* Kalau saja negara tidak selesaikan akar konflik Papua secara damai melalui referendum, dan justru menggunakan kekerasan TNI Polri,  Milisi sipil Barisan Nusantara, para oportunis orang Papua, didukung media nasional Indonesia yang dikebiri penguasa, untuk selesaikan akar konflik Papua, maka korban nyawa baik sipil Papua dan non Papua akan terus berlangsung tiada henti.

“Kekerasan akan memancing kekerasan, lalu membentuk spiral kekerasan, sebagaimana Dom Helder Camara bilang. Artinya, selama kolonialisme Indonesia masih ada diatas tanah Papua, maka konflik berdarah-darah akan selalu ada.

Seperti kata Filsuf  Frantz Fanon bahwa akan selalu ada kontradiksi antara kolonialisme yang semakin kokoh menanamkan kuku dan semakin tingginya spirit dekolonisasi dari bangsa yang terjajah. Kontradiksi tersebut kemudian akan meruncing kepada benturan konflik antara dua kepentingan yang berbeda ini.

Frantz  Fanon menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik yang terjadi terus menerus tersebut adalah dengan menghapuskan penjajahan itu sendiri. Sebab, penjajahan adalah akar dari konflik-konflik tersebut.

Siapapun engkau, Papua maupun non Papua yang mendukung penjajahan diatas tanah Papua, lalu menikmati hidup diatas penderitaan mayoritas bangsa Papua, pahamilah! Kita bisa dan akan hidup damai bersaudara sebagai bangsa manusia tanpa kekuasaan kolonial Indonesia diatas tanah air West Papua.

Mari kita desak penguasa Indonesia selesaikan konflik Politik Papua dengan damai dan bermartabat demi kemanusiaan yang adil dan beradab. Hanya penjahat kemanusiaan yang akan menolak referendum sebagai jalan damai. (*)

Salam sejuta cinta

Monyet Buronan!

Tinggalkan Balasan