Siapa Yang Ciptakan Perang Suku Di Papua?

 

“Orang Papua hidup di Negeri yang dipuji-puji Negara-Negara besar didunia hanya karena kekayaan Alamnya.tapi dibalik pujian itu,orang Papua mengalami implikasih yang berbedah setelah Negara hadir dalam bentuk kepentingan pihak ketiga”

 

Dalam politik adu domba ini konflik sengaja diciptakan.Perpecahan tersebut dimaksudkan untuk mencegah terwujudnya aliansi yang bisa menentang kekuasaan,entah itu kekuasaan di pemerintahan,di partai,kelompok di masyarakat,dan sebagainya.Pihak-pihak atau orang-orang yang bersedia bekerja sama dengan kekuasaan,dibantu atau dipromosikan,pada saat yang sama mereka yang tidak bersedia bekerjasama,dipinggirkan.

Ketidakpercayaan terhadap pucuk pimpinan partai atau kelompoknya sengaja diciptakan agar partai atau kelompok tersebut tidak tumbuh besar dan solid. Adakalanya tidak hanya ketidakpercayaan,bahkan permusuhan pun disamai. Teknik yang digunakan adalah agitasi, propaganda, desas-desus, bahkan fitnah. Dan praktik itu menjadi sangat subur di tengah perang media yang bebas tak terkendali.

Semenjak Papua berintegrasi kedalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), orang Papua mulai hidup tidak nyaman.ada ketakutan besar yang tercipta karena pembantaian melalui DOM(daerah operasi militer) tahun 1972. di lain dari pada itu,perang horizontal yang kerap mulai terjadi, perang saudara antara suku-suku di Papua hanya karena persoalan sepele namun karena ada indikasi lain terjadilah perang sengit hingga berjatuhan korban.

Mendengarkan cerita dari beberapa pelaku sejarah yang saya bertemu tidak pernah mereka menjelaskan akan perang besar yang mengorbankan belasan jiwa hanya karena perang suku di daerah-daerah Papua.”dulu tidak ada perang suku yang besar,apalagi perang yang korban saja belasan jiwa itu,sama sekali tidak ada.sekarang ini perang suku dimana-mana”.jelas bapak Amos Gobay dirumahnya sebagai pelaku sejarah.

Bapak Amos banyak bercerita tentang perang Nipon di Papua dan perang tumpas OPM oleh militer Indonesia di Papua setelah Pepera. Kata bapak Amos ”saya hidup di dua dunia yang berbeda, dunia Belanda dan Dunia Indonesia saat ini.benar-benar saya rasakan bagaimana Belanda datang lalu pulang dan Indonesia datang.tidak tau,apakah saya masih bisa melihat Indonesia akan pulang seperti Belanda atau tidak”

Beberapa cerita yang saya tangkap adalah tentang perang saudara atau perang suku di zaman Belanda dan Indonesia.tidak ada perang yang saling membunuh di waktu era Belanda di Papua,mereka menjajah tetapi mereka sambil memperdayakan kami dari berbagai aspek hidup.di zaman Indonesia hingga hari ini,benar-benar Papua tidak nyaman,ada kekuatan besar yang menginginkan perang/konflik suku di Papua harus di ciptakan secara masif dan sistematis,seperti di Wamena dan Timika.

 

Kenapa Di Wamena dan Timika Sering Terjadi Perang Suku?,Kenapa Tidak Perna Ada Solusi Dari Negara?

1539050926_1-orgc

Secara khultur penduduk di Wamena memiliki banyak suku,letak geografisnya kondusif untuk pertanian panggang dunia untuk melengkapi pasar ekonomi dunia bagi para investor global.alam Papua secara alamiah sudah kaya raya dan dikuti dengan perkembangan zaman hari ini secara politik orang Papua di Wamena sangat maju sehingga ada indikasi tertentu yang harus menjadi pintu persoalan utama demi menciptakan perang suku di Wamena,salah satunya di kabupaten Tolikara, pembakaran Mushola. ada aktor yang bermain guna kepentingan terselubung.

 

ps

Kota Timika kota dollar,sebutan orang kaya.tapi orang kelas menengah menyebutnya, kota Timika kota perang. kita tau kota Timika kota tambang mineral terbesar dunia,tambang ini dimiliki oleh Negara asing Amerika Serikat melalui kontrak karya dengan Indonesia.jika kota Timika kota dollar,kenapa perang suku sering terjadi, bukan uang yang banyak dalam hitungan dollar adalah suatu kebahagiaan?, ataukah ada indikasih yang urgen untuk menjaga stabilitas operasional PT. Freeport sehingga perang suku harus menjadi solusi alternatif untuk suatu politik tertentu.

Di beberapa Negara Afrika saat ini telah dikuasai investor asing melalui kerja sama kontrak pemerintah Negara bagian.sumber daya alam yang kaya raya di eksplotasi keluar,dibawah ke eropa dengan subsidi kerdil tanpa ada insentif layak untuk masyarakat local.kita ketahui Indonesia baru saja mendapatkan saham 52% dan 10% untuk Papua.jika dihitung dari kekayaan yang di ekspor keluar sangat tidak berimbang karena ketika terjadi fenomena alam maka yang memikul derita adalah orang Papua,seharusnya 50% untuk orang asli Papua.

gogog

Di Negara-Negara Afrika stabilitas sosial rusak,kriminal hampir setiap hari terjadi.konsolidasi dari badan dunia tidak pernah tepat dan seakan perang sengaja diciptakan oleh imperium yang sedang berbisnis dalam negara. cara inilah dipakai saat ini oleh Freeport dan Indonesia terhadap orang Papua di Timika dan beberapa daerah. perang harus disponsori atau harus dibiarkan membarah agar Freeport dan Negara hadir sebagai wing-wing solusi dan Wing-wing pemicu perang.memberikan masalah dan menawarkan solusi.inilah metode disosiatif Freeport dan Negara melawan ideologi orang Asli Papua.

 

“Stabilitas sosial hancur jika Negara hanya hadir sebagai karyawan perusahan asing di Papua”

 

Tinggalkan Balasan