Bagi orang Papua, Indonesia seperti Israel untuk Palestina

Oleh: Nomen Douw

 

KONFLIK negara Israel dan warga Palestina adalah salah satu konflik paling tragis di dunia, sama halnya dengan konflik yang terjadi antara negara Indonesia dan orang asli Papua (OAP) dalam konflik ideologi ”NKRI Harga Mati” dan “Papua Merdeka harga mati”.

Pada tahun 1917, tak lama sebelum Inggris menjadi kekuatan kolonial di Palestina, negara itu mengeluarkan deklarasi Balfour yang menyatakan; “Pemerintah yang mulia mendukung pendirian rumah nasional untuk rakyat Yahudi di Palestina, dan akan melakukan upaya terbaik mereka untuk memfasilitasi pencapaian tujuan ini”.

Warga Palestina menolak langkah itu, tetapi sejarah tidak menguntungkan mereka. Menyusul kengerian Holocaust di mana hingga enam juta orang Yahudi terbunuh di Eropa, dorongan untuk mendirikan negara Yahudi menjadi semakin kuat.

Warga Palestina memprotes keberadaan  enam juta orang Yahudi di tanah mereka hingga menjadi konflik antara militer israel dan warga Palestina di jalur Gaza. Puluhan ribu warga Palestina turun ke jalan berkumpul menuju perbatasan Gaza pada Sabtu, [30/3], menandai setahun peringatan Great March of Return. Dalam protes besar-besaran ini dilaporkan seorang pemuda 17 tahun Palestina tewas, ditembak peluru tajam oleh Tentara Israel.

Berdasarkan laporan Kementerian kesehatan di Gaza, selain seorang pemuda tewas, tercatat 59 orang lainnya cedera. 13 diantaranya luka terkena tembakan langsung pasukan Israel. Sehari sebelumnya, seorang warga Palestina juga tewas pada malam menjelang protes besar-besaran di sejumlah titik perbatasan Gaza.

 

Bagimana dengan konflik dalam negara Indonesia terhadap warga asli Papua?

 

Pada tahun 1952, Pemerintah Belanda mengakui penentuan Nasib Sendiri Bangsa Papua sebagai suatu hal dalam kaitannya dengan pasal 73 dari piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mulai menyiapkan bangsa Papua untuk kemerdekaan.

Pada 1 Desember 1961 pengibaran bendera Bintang Kejora (BK) sebagai bentuk kedaulatan negara dikibarkan bersamaan dengan bendera kerajaan Belanda.

Berjalannya waktu Indonesia yang telah lama mengklaim Papua, pada tanggal 19 Desember 1961 Indonesia melalui perintah Presiden pertama, Soekarno dengan lebel Trikora membubarkan negara West Papua yang telah dibentuk oleh negara Belanda.

Semenjak tahun 1961 itu juga mulai terjadi aksi brutal melalui operasi militer Indonesia di tanah Papua menjadi catatan paling sadis bagi orang Papua, bahkan  komunitas kemanusiaan dunia. Banyak masyarakat Papua dibantai dengan senjata dan bom, sama halnya seperti negara Israel membantai warga Palestina di jalur Gaza.

Indonesia mencopot Papua dari tangan Belanda demi kepentingan politik dengan negara-negara Eropa. 1 Mei 1963 sistem pemerintah Indonesia mulai di bangun di Papua. Orang Papua melalui Organisasi Papua Merdeka (OPM) masih memprotes (proses) keberadaan negara Indonesia di tanah Papua.

Banyak orang Papua dibantai oleh militer Indonesia hanya karena menuntut Indonesia ilegal di atas tanah Papua [catat hukum internasional]. Konflik di Papua hingga hari masih sengit seperti konflik negara Israel dan warga Palestina. Sekitar 2280 jiwa orang asli Papua dibantai oleh militer Indonesia. Jumlah ini terhitung dari 2008-2012, mungkin hari ini sudah mencapai 5000 lebih jiwa yang terbunuh.

 

Indonesia mengecam tindakan Israel kepada warga Palestine, bagaimana dengan warga Papua yang juga diperlakukan sama kejamnya?

 

Melalui berbagai media massa, Indonesia melalui Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecam tindakan Israel yang menghancurkan perumahan warga Palestina di Sur Bahir, sebelah timur Yerusalem. Penghancuran ini dilakukan oleh Israel karena perumahan itu dianggap ilegal dan terlalu dekat dengan tembok pemisah di daerah yang diduduki di tepi barat.

“Indonesia mengecam keras Israel atas tindakan penghancuran perumahan warga Palestina di Sur Bahir,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri RI melalui keterangan tertulis, Rabu, (24/7/2019) dimuat di laman detik.com.

Indonesia mendesak Israel menghentikan tindakan penghancuran itu segera. Sebab, hal ini merupakan pelanggaran atas hukum internasional yang berlaku serta resolusi Dewan Keamanan PBB yang ada.

Pemerintah Indonesia juga angkat bicara mengenai eskalasi konflik antara Jalur Gaza dan Israel sepanjang akhir pekan lalu,yang menewaskan 23 orang Palestina termasuk seorang ibu dan bayinya.

“Indonesia mengecam keras aksi kekerasan terhadap warga Palestina di Gaza (5/5),” tulis Kementerian Luar Negeri RI via twitter, Senin, [6/5/2019].

Indonesia juga pernah mengecam keras serangan ke rumah sakit Indonesia di jalur Gaza Palestina yang mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bagian rumah sakit.

“Indonesia tetap akan selalu di belakang Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaannya, tidak ada kata mundur,” kata Presiden Jokowi, (28/10/2018) dimuat di ANTARA News.

Indonesia mendukung kemerdekaan Palestine tapi bagaimana dengan Papua yang kau tangkap ketika mereka berteriak minta Merdeka. Ketika warga Palestina di bantai oleh Militer Israel, Indonesia selalu memberikan perhatian empatinya. Bagaimana dengan Militer Indonesia di tanah Papua yang masih depresif kepada warga Papua.

***

Semestinya Indonesia memperbaiki citra lebih dulu lalu melihat negara lain. Bagaimana jawabannya ketika Indonesia mendukung Palestina merdeka, tapi Papua tidak diberikan hak kebebasan. Apapun statusnya warga Palestina dan warga Papua ada hukumnya. Indonesia harus menghargai hukum Internasional, begitu pun dengan Israel demi kenyamanan dunia yang lebih aman damai dan sejahtera.

Kalau rakyat Indonesia dan pemerintah Indonesia begitu peduli pada Palestina, mengapa hal yang sama tidak untuk orang Papua? Mengapa ada diskriminasi yang begitu mendalam antara rakyat Indonesia ras melayu dengan orang Papua yang adalah ras melanesia? Mungkin bagi sebagian orang, masalah Papua itu biasa-biasa saja. Orang hanya berpikir, bahwa masalah Papua adalah masalah uang. Kalau orang Papua dikasih uang, itu sudah cukup! Sesungguhnya, Papua memiliki permasalahan yang kompleks. Papua memiliki sejarah. Papua memiliki kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah.

Tetapi, persis di atas kekayaan itulah, orang asli Papua memiliki sejumlah masalah yang pelik, ibarat benang kusut yang sulit terurai. Ibarat pepatah tua; “gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang laut tampak.” Itulah Indonesia. Masalah di Papua belum selesai, setiap hari orang Papua mati, tetapi tidak dibiarkan. Sedangkan saat Palestina digempur Israel karena ulahnya, Indonesia langsung bereaksi. Bagi Indonesia Palestina lebih berharga daripada Papua. Sentimen apa yang menyebabkan Indonesia menjadi buta dan tuli terhadap jerit tangis orang Papua? Apakah kemanusiaan orang Palestina lebih utama dibandingkan orang Papua?

 

*). Penulis adalah jurnalis, tinggal di Papua.

Tinggalkan Balasan