Bersuara, Bertindak dan Melawan Atas Nama Kebenaran

 

“Bersuara, bertindak dan melawan atas nama kebenaran”

 

OCTHO – Tulisan ini mengajak kita untuk berpikir ulang, saat ini kita berada pada posisi apa, dan seperti apa? Menjadi pengecut dengan segala pengetahuan kita atau menjadi pahlawan dengan segala ketidaktahuan kita?

Saya sengaja menuliskan ini, agar kita bisa saling koreksi diri. Ada tiga versi pengecut menurut saya. bisa di baca di bahwa ini, semua tidak mutlak, namun saya katakan mutlak hanya karena memang demikian. Hanya karena pengamatan saya pribadi, bukan pengamatan orang lain.

 

Takut Bersuara

Pengecut yang pertama; takut bersuara. Dengan mata kepala Papuana melihat sendiri kebenaran di bungkam untuk menjajah yang lemah. Kebutuhan hidup yang menuntut, disertai hawa nafsu penguasa yang semakin menjadi-jadi membuat mata hati mereka buta. Semua bermula dari kepentingan mereka diatas tanah Papua. Kepentingan itu meliputi; kepentingan perut, kepentingan harta, kepentingan uang dan kepentingan-kepentingan lainnya yang ada di atas tanah Papua.

Papuana sadar, ini sebuah dosa. Dosa yang “penjilat” lakukan kepada TUHAN, kepada manusia Papua, serta kepada tanah Papua. Papuana sadari itu tindakan biadab serta tidak berbudaya. Papuana tahu itu, bahwa tindakan ini telah melecehkan hak-hak dasar masyarakatnya. Bahkan Papuana juga telah mengerti betul tentang kebenaran, serta hakekat dari kebenaran itu sendiri.

Papuana seharusnya membuka mulut untuk menyuarakan mereka. Papuana harus bertanggung jawab, dengan segala kebenaran yang sengaja “penjilat” bungkam untuk mengambil segalanya yang ada di Papua. Dan Papuana juga harus berusaha membuka mulut masyarakat lainnya untuk bersuara, nyatakan, sampaikan serta ucapkan bahwa kebenaran adalah kebenaran.

Namun ketika Papuana tidak melakukan apa-apa alias takut berbicara, Papuana mungkin lebih jahat dari “penjilat”. Menikmati kehidupan diatas pengetahuaannya tentang kejahatan terselubung yang penjilat lakukan di atas tanah Papua. Papuana harus bersuara, Papuana harus bicara dan Papuana harus berteriak dengan segala kemampuan, nyatakan bahwa kita harus jaungkan kebenaran. Papuana harus berteriak terus, jika saja “penjilat” bikin telinga mereka sok tuli. Itu tugas Papuana. Saya akan bilang Papuana PENGECUT jika Papuana tetap pada jalannya, dimana tidak bersuara ketika suara itu sengaja di redupkan oleh penjilat dan penguasa yang biadab.

 

Takut Bertindak

Pengecut yang kedua; takut bertindak. Papuana mungkin tau persis bahwa, hanya sebatas omongan tidaklah mampu menjawab sebuah kebutuhan, yang kiranya telah menjadi harapan terdalam dari setiap orang Papua. Papuana juga telah paham, bahwa teori dan praktek harus dahulukan praktek yang paling utama. Karena praktek sudah tentu melaksanakan amanat pemikiran, sedangkan teori masih menggagaskan sebuah pemikiran.

Papuana tau salahnya berteori melulu. Papuana juga mengerti bahwa penjajah lebih kejam, lebih jahat, serta lebih licik dari roh halus sekalipun. Papuana juga telah paham, bahwa tidaklah etis, bila melihat lumuran darah dan potongan tubuh manusia Papua yang tidak berdosa, darah daging itu terkucur serta tergeletak diatas tanah kelahiran mereka sendiri. Kadang darah daging itu menjadi santapan binatang buas, santapan elang ganas, serta menjadi makanan serigala hutan.

Papuana tidak boleh lipat tangan, serta membatas langkah bertindak. Papuana harus bertindak, nyatakan bahwa itu salah, itu dosa, dan itu tindakan biadab. Papuana harus ngomong, utarakan keberatan, bila perlu rancang sebuah “tindakan”, yang sistematis, tindakan yang membalas apa yang jahat dengan yang jahat-pula. Omong kosong kalau kejahatan harus dibalas dengan kebaikan. Sampai kapan-pun, tindakan kasih tidak akan pernah merubah, maupun menyelesaikan nasib suatu kaum.

Papuana jangan takut bertindak. Tindakan yang Papuana ambil adalah jalan yang paling tepat, dan jalan yang memang betul-betul tepat. Papuana berjalan, berkumpul, serta melakukan tindakan, tanah Papua tahu semua keringat, usaha, dan kerja keras itu. Tanah Papua akan mendukung tindakan yang Papuana ambil. Segera siap “pemberontakan” siapkan semua kemampuan, buat sebuah “tindakan” yang sistematis.

Tetapi tanah Papua akan bilang bahwa Papuana sangat biadab dan lebih dari PENGECUT, ketika Papuana hanya tutup mata, tidak merancang sebuah tindakan, tindakan yang menyelamatkan. Tindakan yang mengubah nasib suatu kaum, kaum Papua. dan Papuana harus ambil tindakan yang bisa Papuana ambil, jangan ambil tindakan diluar batas kemampuan Papuana, karena hal ini sendiri kadang menjadi bumerang bagi diri sendiri dan orang banyak.

 

Takut Melawan

Pengecut yang ketiga; Takut melawan. Lawan dan lawan, jika Papuana sadar bahwa semua tindakan “penjilat” sangat-sangat berbahaya untuk masa depan rakyat Papua. Kita telah sadari, Papuana tidak memiliki kekuatan yang sebanding dengan kekuatan mereka, namun bukan berarti Papuana harus menyerah dengan keadaan, seraya tidak bertindak untuk sebuah perlawanan.

Perlawanan yang Papuana dan rakyat Papua susun haruslah memberi manfaat kepada seluruh masyarakat Papua. Yang di maksud dengan memberi manfaat itu sendiri, gaung dari pada perlawanan yang disusun haruslah memberi dampak dan pengaruh yang menyeluruh kepada seluruh orang Papua, serta masyarakat Internasional.

Papuana yang betul-betul percaya akan sebuah perubahan, tidak pernah berkompromi dengan “penjilat” apalagi sampai duduk makan satu meja dengan penjilat. Papuana harus sadar, gaung dari dialog, perundingan serta sejenisnya yang di katakan sebagai solusi untuk rakyat Papua tidak akan mengubah nasib kita. Nasib rakyat Papua hanya akan berubah, jika ada perlawanan yang bersikukuh dengan “penjilat” itu sendiri.

Perlawanan dengan kedepankan kasih hanyalah sebuah “jargon” omong kosong yang di buat untuk menjinakan Papuana. “penjilat” memang pandai dari menjinakan, serta meninabobokan Papuana dan rakyat Papua. Mengatakan bahwa selesaikan persoalan Papua dengan mengedepankan kasih, padahal atas nama kasih itu rakyat Papua di bungkam, untuk tidak bicara, tindak bertindak dan tidak melawan. Ini sekali-kali tidak boleh kita terima, karena kasih hanyalah tameng untuk sebuah penjajahan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Papuana harus melawan, harus melawan, dan sudah harus lawan. Lawan karena kita benar, lawan karena kita jadi korban, lawan karena kita sedang di rampok. Kebenaran hanya akan nampak jika kita berusaha membuktikan bahwa itu benar. Usaha itu sendiri seperti yang telah saya maksud diatas, bersuara, bertindak, serta seraya melawan, itu usaha untuk membuktikannya.

Tetapi tanah Papua akan bilang Papuana pengecut. Jika saja Papuana menutup diri, tidak menunjukan kekuatan, tidak menyatakan bahwa kita mampu melawan. Tanah Papua benci dengan Papuana yang punya nyali kerdil. Tanah Papua akan berpikir, bahwa Papuanan bukanlah orang Papua jika saja menutup mata diatas segala penderitaan itu. Semoga kita sadar, dan tidak menjadi pengecut yang menutup mata hati kita, termasuk pikiran kita untuk bertindak dan melawan.

Tanah Papua juga benci dengan Papuana yang berlagak pahlawan, pemimpin, bahkan penyelamat rakyat Papua, dan atas nama itupula mereka di besarkan oleh komprador. Papuana mungkin akan memberitahukan, menyatakan, serta mengatakan bahwa benar itu benar, salah itu salah.

Untuk mewujudkan kebenaran itu, semoga saja ada Papuana yang bertindak untuk melakukan sebuah “penculikan” kecil-kecilan, mungkin seperti peristiwa G30SPKI. Ini sebuah impian, yang mungkin saja akan terwujud, jika saja perjuangan untuk membebaskan rakyat Papua hanya jadi topeng untuk melindungi, memelihara bahkan memperkaya diri sendiri. Semoga kita insaf, apa selama ini kita menjadi pejuang murahan alias seorang pengecut, atau kita sedang sungguh-sungguh berjuang untuk masyarakat akar rumput yang menjadi korban kelemahan masalah lalu.(*)

 

Papuana = Orang Asli Papua, terutama Pemuda-pemuda Papua yang menjadi Aktivis dan sedang berjuang untuk mengungkap sebuah kebenaran.

 

Tinggalkan Balasan