Tuhan yang Mempertemukan, Agama yang Memisahkan

*Oleh: Mr. Nomen

“Karena Kedua orang tua Menolak, Nogei dan Ogee mati dengan keadaan berpelukan di gunung Ekaugi Madi”

Pria ganteng, gagah dan berani, dia adalah Nogei, Pria kecil yang pandai ini baru baru selesai dari bangku SMP dan kini sudah kelas satu SMA di Enaro-Paniai. Nogei berasal dari keluarga yang sederhana, bapaknya seorang petani kebun dan nelayan di danau, sama halnya dengan ibunya. Kedua orang tua ini sangat fanatik dengan agama, karena memang bapaknya adalah diakonia (pelayan) di Gereja dan ibunya pun aktif dalam kegiatan Gereja. Dari kecil Nogei dibesarkan dan didik dalam ajaran Katolik Roma. Sebelum Nogei meranjak jauh di usia remaja, bapaknya sudah mencita-citakan Nogei anak sulungnya itu menjadi seorang pastor.

Semasa di bangku SMP Nogei bertumbuh dewasa dalam didikan orang tua yang baik. Nogei selalu membantu kedua orang tuanya pergi mencari kayu dan mencari ikan di danau. Benar-benar Nogei sangat di sayang oleh kedua orang tuanya karena keteladanannya. Setelah Nogei menyelesaikan SMP, kini Nogei sudah masuk SMA. Nogei sudah ikuti proses pembelajarannya selama satu tahun hingga sudah naik kelas dua. Nogei masih menjadi remaja yang berteladan, belum dipengaruhi oleh beberapa temannya di sekolah tentang dunia bebas.

Di bangku SMA Nogei mengenal banyak teman-teman yang berbeda-beda karakternya,di bangku kelas dua itu,Nogei semakin dipengaruhi oleh teman bermainnya karena sudah selalu bersama dengan mereka sehingga Nogei semakin berubah dalam pergaulan di lingkungan sekolah dan di rumah. Nogei benar-benar sudah di pengarui oleh teman bermainnya. Sering Nogei ikut teman bermainnya itu bolos sekolah dan duduk cerita tentang kebebasan cinta dan hal lainnya, kadang tidak pulang kerumah dan jarang ke pula ke Gereja seperti satu tahun lalu. Kedua orang tuanya semakin khawatir dengan perubahan anaknya itu, sering kalau Nogei tidak pulang ke rumah bapaknya selalu mencari hingga ke rumah temannya, mamanya pun ikut merasa khawatir dengan anaknya yang semakin arogan sambil mendoakan anaknya.

Pada hari Senin pagi di ruang kelasnya Nogei, ada siswa pindahan dari Whagete – Deiyai dan masuk di kelasnya mereka, wali kelasnya memperkenalkan, namanya Ogee. Sambil dia memperkenalkan namanya, Nogei sudah melihat Ogee dengan pandangan yang sedikit berbeda. Setelah Ogee duduk, sambil guru mengajar di di depan, Ogee dan Nogei saling melirik-lirik dan senyum-senyum manja dan sopan dan tiba waktunya untuk istrahat karena lonceng telah berbunyi. Ogee dengan malu tidak keluar kelas dan memilih tinggal dalam kelas saja, Nogei sudah keluar kelas dan bersandar di pagar sekolah sambil tunggu Ogee keluar dari kelas. Nogei nekat untuk berkenalan lebih dekat.!

Sekitar 30 menit lamanya Nogei menunggu, Ogee tidak keluar dari dalam kelas. Dengan niatnya dan percaya diri, Nogei pergi menghampiri Ogee di dalam kelas dan Ogee lagi santai main HP. Nogei berdiri di pintu kelasnya lalu melihat Ogee lagi duduk disana karena Nogei melihat Ogee dengan perasaan yang suka, tersenyumlah Nogei dan Ogee pun balas senyuman.

Nogei mendekati Ogee dan menyapa: ”Haii, tadi ko punya nama siapa, maaf saya lupa?

Jawab Ogee sambil senyum: ”Ogee”

Nogei balas dengan senyum: ”O….ia, truss disini ko tinggal dimana?

jawab Ogee:”Di Aikai”

tanya Nogei: ”O… kapan datang dari Whagete?

balas Ogee: ”Minggu kemarin”

tanya lagi Nogei: ”tinggal dengan siapa?

Balas lagi ogee: ”dengan kaka perempuan”

balas Nogei: ”O,,,ia”.

Belum lama kemudian teman kelasnya masuk karena jam istrahat telah selesai, Nogei dan Ogee berhenti cerita, tapi mereka dua sudah saling tukar nomor HP dari tadi.

Nogei dan Ogee sudah saling dekat, saat istrahat di sekolah sering bersama, duduk cerita dan jalan-jalan, ketika pulang sampai di rumah pun selalu saling memberikan kabar. Berjalannya waktu, Nogei dan Ogee sudah akrab dan mereka sudah berpacaran selama satu bulan, dengan status berpacarannya, Nogei dan Ogee selalu bersama dan bertemu ketika pulang sekolah.

Nogei telah berubah jauh hanya karena teman-teman bermainnya di sekolah dan Nogei telah mengenal dunia pacaran dan suka jalan tanpa waktu. Nogei semakin tidak sopan di hadapan kedua orang tuanya ketika di rumah, sering melawan jika orang tuanya melarang Nogei keluar rumah dan juga pulang malam.

Hampir sama juga dengan kehidupan Ogee dirumah di hadapan kaka perempuannya, Ogee memang gadis yang cantik, tinggi dan suka kerja keras. Dia dilahirkan dari orang tua yang aktif dalam Gereja Kristen dari kecil, bapaknya badan pengurus Jemaat dan Ibunya pun sangat aktif dalam kegiatan Gereja. Ogee pun di besarkan dalam Gereja dan lingkungan yang baik. Di Enaro, Ogee tinggal di kaka perempuan pertama (kaka besar). Selama beberapa bulan di rumahnya, sikap Ogee sangat sopan terhadap kakaknya dan selalu bekerja keras dan rajin namun, setelah Ogee mengenal Nogei di sekolahnya selama beberapa bulan di sekolah, Ogee semakin berubah sedikit demi sedikit.

Pergi sekolah dan pulang sekolah selalu bersama, tidak terasa waktu membawa mereka sampai pada di kelas tiga, ujian pun sudah dekat. Sudah dua tahun Nogei dan Ogee berpacaran, mereka dua sudah saling cinta mati karena berpacaran sudah lama. Nogei cinta mati sama Ogee karena Ogee cinta pertamanya dan Ogee cinta mati sama Nogei karena Nogei cinta pertamanya. Selama mereka dua bersama, tidur pun sering terjadi ketika ada momen yang pastinya. Pada hari Rabu sore hari yang indah, sementara matahari terbenam di pintu angin Yagai, Nogei dan Ogee duduk diujung lapangan terbang ”Awetako Enaa gapida”. Indahnya sore itu bersama nan alam yang dicampakkan sinar orange sunset dari sinar matahari sore.

Dengan posisi duduk yang berdekatan,

kata Nogei kepada Ogee: ”Ogee, saya sudah cinta mati sama kamu, jangan pernah tinggalkan saya”

balas Ogee sambil melihat Nogei dengan penuh cinta: ”Nogei sayangku, kau yang saya cinta, kamu orang pertama dalam saya punya hidup”

balas Nogei sambil peluk: ”sayang makasih, saya cinta kamu lebih dari segalanya”

balas Ogee dengan bertanya: ”sayang, sore ini kita ikat janji, setia sampai mati”

balas Nogei sambil mengelus pipihnya: ”sayang, saya berjanji, cintaku hanya untukmu sampai mati”

balas Ogee; ”Makasih sayang, saya juga berjanji, cintaku hanya untukmu hingga maut menjemput”.

Waktu berpacaran telah pergi dibawah hilang oleh terbenamnya matahari sore yang indah tadi, saatnya mereka pulang.Keesokan harinya bertemu di sekolah, sampai di sekolah Nogei dan Ogee duduk di pojok kanan dari gedung sekolah mereka saat istrahat jam belajar pertama. Mereka dua bercerita ketika selesai kuliah seperti apa langkah yang mereka dua tempuh.

Tanya Ogee: ”Nogei, selesai SMA kamu mau lanjut kuliah tidak”

balas Nogei sambil menatap Ogee: ”saya tidak tau, karena tidak ada yang tanggung kuliah jadi”

balas Ogee sambil nunduk bersedih: ”sayang sama, saya juga”

tanya Nogei sambil memegang tangan Ogee: ”Sayang bagaimana kalau selesai kita nikah saja”

Jawab Ogee dengan cepat: ”saya cinta kamu Nogei, saya ikuti kamu saja”.

Nogei hanya terdiam beberapa menit tanpa ada kata-kata. tiba-tiba bel masuk telah berbunyi, jam istrahat pertama selesai, mereka dua pun masuk kelas untuk terima pelajaran kedua.

Dengan berjalanannya waktu yang tak terasa,mereka sudah sampai pada tahap akhir, tinggal satu minggu lagi mereka akan ujian nasional. Dalam kurung waktu yang telah lewat itu, Nogei selalu perkenalkan Ogee di hadapan kedua orang tuanya untuk persetujuan hubungan mereka berdua namun, orang tuanya Nogei selalu menolak karena Ogee Agama Kristen. Sama nasibnya ketika Ogee membawa Nogei di hadapan orang tuanya di kampung Whagete Deiyai, menolak Nogei karena  Agama Katolik fanatik. Bukan sekali saja mereka pergi ke kedua orang tuannya untuk memastikan namun, jawabannya tetap sama, menolak karena bedah keyakinan Agama.

Setelah dua minggu berlalu, mereka sudah selesai tahapan ujian nasional. Minggu depan mereka akan mendengarkan hasil ujiannya. Setelah mereka dengar, sekolah mereka lulus semua (100%). Setelah tiga hari lamanya, acara kemeriahaan usai di sekolah, Nogei dan Ogee kembali menghadap ke orang tua yang ke sekian kalinya, nasib pun tetap sama, jawabannya tidak berubah. Nogei dan Ogee memutuskan untuk pergi dari rumah, mereka berdua lari menggunakan motor Jupiter lama ke Nabire.

Kedua orang dari Nogei dan Ogee panik karena belum pulang satu bulan lamanya karena terindikasi masalah keluarga dari pihak Nogei dan Ogee berkumpul di rumahnya Nogei untuk menyelesaikan masalah. Setelah mereka berkumpul, sebelumnya Nogei dan Ogee sudah berkomitmen kalau tidak akan berpisah karena demi cinta mereka, sehingga keduanya akan menolak jika tidak di nikahkan (taruh maskawin, bukan sebatas denda).

Setelah mereka membahas masalah, kepala perkara bertanya kepada kedua orang tua dari Nogei dan Ogee: ”apa kedua orang setujuh dengan pasangan kedua pria dan wanita ini?

balas kedua orang tua dengan jawaban yang sama: ”tidak setuju karena Agama sangat berbeda”

kepala perkara itu dan bertanya kepada kedua pasangan yang saling cinta itu: ”kamu berdua terima tidak, kalian dua siap berpisah karena orang tua kalian tidak setuju dengan kamu dua punya hubungan”

balas Nogei dan Ogee dengan penuh kesedihan yang membara: ”tidak bisa, kami dua mau kawin ,cinta kami berdua hanya maut yang dapat memisahkan”

Saling bertengkar dengan kedua orang tua pun terjadi, Nogei dan Ogee menolak masalah di selesaikan hanya dengan denda lalu putus hubungan. Mereka dua mau agar mereka dua disatukan dengan cara yang benar karena kedua orang tuanya berpegang pada prinsipnya tadi, masalah jadi rumit.

Saling berdebat pun terus terjadi, waktu semakin jauh mendekati sore, karena Nogei sangat emosional dan sedih melihat tindakan kedua orang tuanya itu, tiba-tiba saja Nogei berdiri lalu bertutur kepada orang tua yang lagi duduk itu: ”dengar kalian semua yang hadir disini, saya dengan Ogee ini, sudah berjanji dari lima tahun yang lalu kalau cinta kita ini hanya maut yang dapat memisahkan kita, kami sudah saling cinta dan sayang”.

Lanjut Nogei sambil berdiri dan sambil menarik tangan Ogee dan berdiri sebelum pergi, dia berkata dengan sedih dan sambil usap air matanya: ”mama dan bapa dari saya dan Ogee, tolong dengar baik-baik, selamat tanggung kami dua punya dosa karena, pertemuan kami berdua ini Tuhan yang mempertemukan karena cinta, tapi karena agama, kalian telah mempersulit kami, terimakasih dan selamat tinggal”

Nogei tarik tangan Ogee dengan cepat sambil menangis dan penuh kesedihan mereka dua pergi dari tempat itu menggunakan motor Jupiter lama itu. Nogei membawa motor dengan sangat kencang kearah kota Madi, Ogee tidak berkata apa-apa tentang kepergian ini. Ogee dengan air matanya, terus memeluk erat Nogei. Nogei sangat kencang menuju ke arah Madi dan naik gunung Ekaugi, dari belakang adik dari Ogee mengikuti mereka. Sesampainya di ujung bukit yang menakutkan dan jurang yang dalam itu, Nogei balap menuju jurang yang maut sebelah kiri dan Nogei dan Ogee hancur berderai dibebatuan yang keras. Adiknya yang tadi ikut di belakang pakai motor itu cepat-cepat melihat Nogei dan kakaknya Ogee itu telah bunuh diri, Dia duduk dan menangis disitu lalu balik membawa berita.

Adik dari Ogee ini balik dengan cepat ke tempat tadi mereka berkumpul itu, semua keluarganya masih ada, mereka sedang kumpul uang denda dari pihak laki-laki untuk pihak perempuan. Mereka semua kaget melihat adiknya balik dengan menangis lalu membawa kabar buruk itu. Semuanya kaget dan bergegas cepat untuk melihat kondisi Nogei dan Ogee disana.

Sesampainya di tempat kejadian tadi. orang tua dari Nogei dan Ogee menangis bersedih tak mampu menerima semua itu. Melihat kondisi Nogei dan Ogee sudah tidak bernyawa karena kepala hancur kena batu-batu besar yang keras, mereka dua mati dengan posisi berpelukan. Selanjutnya, keesokan harinya mereka makamkan dalam satu peti dengan keadaan yang berpelukan pula.

 

Kalau kita cari letak kesalahannya, sebenarnya siapa yang salah?, apakah kedua orang tuanya?, ataukah, Kedua pasangan yang saling cinta itu?, jawabannya bersambung di cerita berikutnya.!

 

Tinggalkan Balasan