Rintihan hati seorang perempuan Papua, Berdiri diatas (Rasisme) Hinaan

*Oleh: Insos Papuan

Tepat  pada  tanggal 17 Agustus  2019 yang lalu dimana NKRI sedang merayakan Hut Kemerdekaan Bangsa Indonesia di seluruh pelosok Indonesia dengan gembira, disanalah (Surabaya, Jawa Timur Indonesia) sanak saudara kami yang berada di tanah Jawa (mahasiswa-mahasiswi Papua) sedang menjerit ketakutan karena di intimidasi,rasisme dan kekerasan yang mereka alami tepatnya di salah satu asrama Papua yang terletak di kota itu.

Saya secara pribadi dalam Solidaritas Perempuan Melanesia Papua Barat  menentang keras aksi Anggota Aparat TNI dan kepolisian yang jelas-jelas turut beraksi dalam tindakan tidak terpuji tersebut. Menurut info yang saya dapatkan pun adalah karena adanya penolakan menaikan bendera Merah Putih  yang pada saat itu berada di depan asrama Papua tersebut pada hari kemerdekaan Indonesia. Dan saudara saudari kami disana dituduh mematahkan tiang bendera tersebut dan menjatuhkan bendera merah putih ke dalam selokan  yang berada tepat di bagian belakang tiang tersebut berdiri.

Apakah benar saudara saudari kami yang melakukan tindakan tersebut ? atau adakah hal lain yang tidak dapat kami ketahui dari hal ini ? Entahlah.

Setelah itu saya menyaksikan sendiri melalui siaran langsung yang dibagikan beberapa orang di media sosial online, saya sangat menyayangkan aksi-aksi yang dilakukan aparat serta warga disana terhadap saudara kami,  mereka dicaci-maki, dihina ( beberapa macam sebutan binatang ) dan ancam serta di lempar batu berukuran sedang dari luar pagar ke dalam halaman asrama.

Perbuatan agresif aparat Indonesia terus terjadi saat  dimana semua saudara kami sedang berdiri disana untuk berusaha menjelaskan apa yang sedang terjadi tetapi tidak di gubris sama sekali. Pada malam harinya pun masyarakat di kota tersebut membuat aksi pengusiran masyarakat Papua untuk kembali ke Papua saja dan meninggalkan kota Surabaya.

Sebagai perempuan Papua, saya sejenak berfikir, apakah ini yang dinamakan NKRI? keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Ketika suatu masalah yang belum jelas asal usulnya dan kebenarannya sudah langsung mendapat tindakan anarkis oleh bangsanya sendiri ? Bagaimana dengan masyarakat NKRI sendiri yang melakukan aksi menyobek, menginjak dan membakar Bendera Kesatuan Republik Indonesia dihadapan aparat hukum NKRI itu sendiri saat melakukan aksi demo dan lain lain ? Indonesia hanya melihat West Papua  sebelah mata, tanpa ada rasa persaudaraan.

Sudah terlalu lama kami berdiam diri atas kejahatan kemanusiaan dari semua tindakan kekerasan dan memutar balikan fakta untuk setiap tindakan kejahatan yang kami dapatkan di NKRI bahkan terlebih di tanah West Papua kami sendiri.

Sudah cukup kami menitihkan air mata atas kematian ratusan  ribuan saudara kami yang berjuang ingin mendapatkan kebebasan dan keadilan bagi bangsa kami sendiri. 74 tahun tepat di HUT kemerdekaan NKRI ini, air mata dan darah kami tumpah di negeri ini. Hati ini bertanya, dimana letak kesalahan kami atas penindasan yang dilakukan oleh NKRI di tanah kami sendiri ?

Tidak  puas kah NKRI telah merampas kekayaan alam kami, tidak puas kah NKRI merampas anak, cucu,suami, istri, bapa ,ibu kami ?

Tidak puas kah Indonesia  memegang penuh ekonomi yang berada di tanah West Papua  kami ?

Tidak  puas kah  NKRI dengan semua kedamaian yang kami berikan terhadap kalian yang datang mengungsi di tanah kami ?

Semua  NKRI renggut dari tangan kami, bahkan kami sendiri tidak mendapat apa yang kalian dapatkan di tanah kami Melanesia – Papua Barat.

Salah satu contoh nyata kecil yang bisa dilihat adalah kalian mendapat tanah  sekian hektar ditanah kami disaat kalian di pindahkan dari pulau Jawa ke Papua, kalian bebas membangun usaha dan beranak cucu di tanah kami Papua, namun apa yang kami sebagai OAP sendiri dapatkan ? Tdak ada. Kami  kesusahan mendapatkan tanah diatas tanah kami sendiri. Kami harus membayarkan sejumlah uang untuk mendapatkan sekecil tanah untuk anak cucu kami dimasa depan, apakah ini keadilan yang ada menurut NKRI ?

Sementara itu apapun yang kami utarakan mengenai isi hati kami pun tidak dapat diungkapkan ke media massa, apa yang sebenarnya terjadi atas tanah kami mungkin hanya akan menjadi dongeng bagi anak cucu kami jika nanti kami tiada! Kami menginginkan keadilan, kebebasan dari segala hak kami.

Kami menginginkan menjadi jati diri kami sendiri. Kami menginginkan senyuman dan kebahagiaan. Kami menginginkan perdamaian atas tanah kami sendiri. Kami menginginkan cinta yang tulus atas tanah kami sendiri.Kami tidak ingin dipaksa, kami lelah berpura pura atas drama yang kalian ciptakan sendiri. Tanpa  kami sadar mereka (penguasa West Papua) hanya mendapat bayaran atas ketidak adilan yang telah terjadi diatas tanah kami sendiri.

Sampai  kapan ini akan berlangsung jika tidak dihentikan dari sekarang ? Sampai  kapan kami akan terus melihat penderitaan, kemiskinan dan kekerasan atas tanah kami sendiri ? Apakah kami harus merelakan anak cucu kami punah satu per satu barulah kami bertindak ? Tidak .

Mohon jangan terlambat untuk merampas kembali hak kebebasan kami di tanah kami West Papua. Kami berharap penuh kepada saudara saudari kami yang sampai sekarang masih berjuang di negeri orang untuk menyuarakan isi hati kecil kami yang terdalam, kami yakin Tuhan Allah Bapa di sorga akan membantu kami di suatu hari nanti, dimana kami semua bangsa West Papua  akan berhenti menangis dalam kesedihan; melainkan kami akan menangis kegirangan dan berbahagia atas kebebasan hak kami yang kami nantikan selama berpuluh – puluhan tahun lamanya.

Saya secara pribadi selalu menitipkan doa kepada Allah Bapa di surga  agar saya pun bisa dapat merasakan kebebasan itu di hari yang Tuhan Allah pilih. Salam sejahtera dan hidup kemerdekaan yang sesungguhnya  #FreeWestPapua

 

*Penulis adalah Insos Papuan, seorang aktfits HAM Solidaritas Perempuan Melanesia Papua Barat.

 

Tinggalkan Balasan