Markus Kabes, Montir Papua Pemilik Bengkel Mobil “Rehobot”

Di Papua, Jarang kita temui orang asli Papua berkecimpung dalam usaha perbengkelan. Jenis usaha satu ini lebih didominasi oleh orang non Papua.

Markus Kabes pemilik bengkel otomotif mobil Rehobot – Doc

Tapi tidak bagi pak Markus Kabes. Pria berusia 45 tahun, asli Fak-Fak ini sudah 6 tahun terjun dalam usaha perbengkelan. Bahkan ia telah memiliki bengkel mobil sendiri yang berlokasi di pinggir Perempatan jalan SPG Taruna Bakti, Prumnas II Waena, dan bengkel yang diberinama, Bengkel Mobil Rehobot itu memiliki empat orang tenaga kerja.

Awalnya saya hanya bantu-bantu di sebuah bengkel milik orang pendatang di Jalan Yoka, Waena. Dulu bengkel di Daerah Waena cuma satu itu saja.

Kemudian pada tahun 1996, saya ikut kursus di BLK Jayapura, mengambil Jurusan Mobil Diesel dan berhasil menamati pendidikan tersebut dengan hasil yang sangat baik, ujarnya ketika ditemui di bengkelnya kemarin.

“Kemudian saya lanjutkan pendidikan di Jepang selama 2 tahun, mengambil jurusan konstruksi bangunan. Pulang dari sana, dengan mengandalkan modal secukupnya dari hasil simpanan, lalu saya membeli alat-alat bengkel dan membuka bengkel sendiri dengan empat orang pekerja, sambung pria beranak enam itu,” kata Max.

Bengkel Rehobot
Bengkel Rehobot – Doc

Niat terbesarnya, ingin mengembangkan usaha agar dapat bersaing dengan orang non Papua, karena menurutnya, modal merupakan faktor utama penghambat niatnya, tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, dirinya telah berulang-kali mengajukan proposal ke pemerintah, namun hingga kini tak satu pun yang di jawab.

Bengkel otomotif yang di buka Max Kabes, panggilan akrabnya tersebut mengatakan sudah berdiri 9 tahun lebih sejak tahun 2008 dengan nama bengkel mobil Rehobot.

“untuk karyawan sendiri lebih banyak saya ambil anak-anak asli Papua karena saya lebih condong untuk kita mentransfer ilmu ke mereka agar kita juga memberdayakan orang Papua supaya terus ada kelanjutan dalam bidang otomotif,” kata Max yang juga mewarisi profesi orang tuanya yang juga mekanic didikan Belanda.

Di bengkel otomotif miliknya, Max mempekerjakan semua karyawannya anak-anak asli Papua. Di bagian bongkar mesin dua anak dari Merauke, satu Evi Kogoya dari pegunungan di tambah untuk bagian painting (duko) atau cat bodi dari non Papua karena tidak semua anak-anak Papua bisa ahli di bidang ini, ada juga namun masih tahap proses belajar di kami.

Max menjelaskan di bidang otomotif orang Papua yang bergelut di bidang ini sangat minim, meski ada banyak anak-anak Papua yang menekuni bidang otomotif namun kurang serius untuk mengembangkan keahliannya untuk menjadikan satu usaha perbengkelan.

“nyali untuk buka bengkel itu yang kurang untuk anak-anak Papua, meski skil dan kemampuan mereka (anak-anak Papua) punya dengan demikian kita bisa bersaing dengan non Papua yang punya perbengkelan, kita tunjukan bahwa kita juga bisa,” katanya.

Ketika kita punya kemauan untuk menekuni, mencintai kita punya usaha itu akan berjalan baik tergantung keseriusan kita untuk jalankan usaha tersebut. Terutama kata Max, konsep cara berpikir orang Papua harus lebih luas dalam artian kita jangan terus mencari kerja ke PNS tapi bagaimana kita menekuni bidang lain yaitu wirausaha.  (*)

Sumber: kepugemagaijr.wordpress.com dan nirmeke.com

Tinggalkan Balasan