Senandung Derita Mama di Kaki Freeport

Oleh: Victor Yeimo

Siang itu, 10 Mei 2018, dia mencuri pandanganku. Mama yang duduk termenung disana, depan jalan utama pelabuhan Pomako, Timika. “Mama sayang, apa yang sedang kau pikirkan? Ah, sudalah! ku tahu itu semua. Janganlah kau uraikan! sebab melihatmu saja saya sudah rapuh,” gumamku dalam hati yang sedang tersayat.

Paras wajahnya yang lesuh, dengan semua penderitaan yang terpendam. Menjalani hidup dalam rumah kumuh diatas sampah-sampah. “Mama sayang, kapal dan truk-truk pengangkut barang-barang milik Freeport dan Indonesia, yang sedang berlalu lalang tepat di depan rumahmu tak bakal memukau, apalagi menggugah hati mereka,” seruh ku dalam hancur.

Memang Freeport dan Indonesia tidak butuh engkau. Mahal harganya, dan mereka merasa rugi bila memberimu selembar papan atau seng, apalagi semen. Itulah watak kapitalis Freeport, yang setiap hari menghasilkan 114 milyar, 3,534 triliun per bulan atau 70 triliun per tahun dari gunung mu Memangkawi.

Mama sayang, yang mereka kasih padamu per hari 291.000 ton racun limbah Freeport, mengalir di Sungai Agawagon ke Otomona dan Ajikwa, tempat kau cari ikan dan mandi. Volume limbah itu akan bertamba dengan produksi baru Freeport yakni GBC, DMLZ hingga nanti Kucing Liar.

Mama sayang itu nama-nama produksi Freeport yang baru. Yang sudah mereka kuras adalah Estberg, GBT, Dos, Grasberg dan Big Gosan. Dari yang sudah itu telah meninggalkan limbah beracun mercuri di kawasanmu seluas 230 km2. Tentu akan lebih meluas kawasan pembuangan limbah beracun dengan produksi yang baru. Itu artinya kita mesti siapkan lonceng kematian, mama sayang.

Tidak ada masa depan kita dalam negara Republik Indonesia. Juga dalam kapitalisme AS. Mereka juga tidak butuh kita. Mereka lebih tergiur pada cadangan emas, tembaga, uranium, di gunung-gunung yang tak akan pernah habis-habis.

Mama sayang, sudahlah! Masuklah kesana! Lihat anak-anakmu yang terbaring lapar di dalam sana! Mereka pemilik masa depan, sebab masa depan itu pasti ada. Akh, kawanku Ones Nesta Suhuniap dan Huby Ferro, senandung kita pada jalan itu rapuh, walau kita tahu di setiap akar-akar pohon pinus adalah karaka tersebunyi. Ada waktu mama-mama Kamoro itu menghidangkannya.  

 
Sayang rakyat!
Jalan Pomako, Timika, 10 Mei 2018

Tinggalkan Balasan