Mitos suku Sentani

Oleh : M. Wilson Umpain

 

Bapa Gerson Deda ( 78 Tahun ) Pada Bulan Febluari 1990. Gerson Deda ialah : Pensiunan Polisi Belanda yang dilatih oleh Tentara Sekutu di Kota NICA Sentani Timur lembah Makanuay Tahun 1944 -1946, kemudian dipindahkan oleh Pemerintah Belanda ke Base G Hollandia ( Depflaat ). Sebelumnya Gerson adalah tamatan Jongers Verkvolgschool di Kampung Joka yang dibangun oleh Pendeta Izak Samuel Kijne Tahun 1930 an setelah sebelumnya didirikan di Miei Wondana Tahun 1925.

Mitos dianggap sebagai kisah suci dan diyakini kebenarannya oleh komunitas penganutnya, oleh Sukunya atau Bangsanya, namun belum tentu dipercaya oleh komunitas lain yang memiliki mitologi yang berbeda. Mitos adalah suatu cerita tradisional mengenai peristiwa gaib, asal usul tentang kehidupan dewa leluhur.

Mitos berasal dari : Bahasa Yunani ( Mythos ) Latin ( Mithous ) Belanda ( Mite ) semua artinya perkataan, ungkapan, atau cerita turun temurun yang telah lama ada. Orang pertama yang memperkenalkan Mitos ke publik ialah Plato sehingga Plato dianggap sebagai Bapa Mitholog sampai saat ini. Plato menggunakan istilah Muthologi atau Mithologi artinya : menceriterakan dan mempelajari lebih dalam suatu cerita mengenai peristiwa alam, peristiwa gaib, atau peristiwa dalam kehidupan dewa dewa leluhur.

Mitos juga bagian dari suatu folklor yang berupa kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta misalnya terjadinya sebuah sungai, sebuah gunung, sebuah danau, sebuah telaga, atau seekor binatang yang berubah menjadi gunung sehingga bisa dianggap penciptaan dunia termasuk makluk didalamnya maka diyakini benar benar terjadi oleh komunitas marga, clans, Suku dan Bangsa yang empunya cerita atau kaum penganutnya.

Dengan demikian mitos dapat mengacu pada cerita tradisi masa lalu tentang terjadinya alam semesta, bentuk topografi daerah, keadaan dunia sekitar dan para makluk penghuninya. Contohnya ada gunung yang berbentuk kus kus, ada pulau yang berbentuk kambing, ada tebing yang berbentuk wajah manusia dan sebagainya.

Deskripsi tentang para makluk mitologis dalam cerita Bapa Gerson Deda ada banyak kesamaan dan kecocokan dengan peristiwa alam banir bandang  yang terjadi terus menerus dalam waktu tertentu sepanjang sejarah di Sentani maupun tempat lain termasuk yang baru saja mengejutkan dunia dengan menelan ratusan korban jiwa.

Mitos dapat timbul sebagai peristiwa sejarah yang sudah, sedang dan akan terjadi kapan saja tidak bisa diketahui pasti oleh manusia sebagai personifikasi bagi fenomena alam, ganasnya sang penjaga, amarahnya sang penunggu akibat dirusak, diganggu, dipindahkan, dikikis, dijual belikan, dipotong, ditebang, digusur, dimusnahkan, dipindah tangankan, dibiarkan tak terawat dan seterusnya adalah hubungan erat dengan apa yang dinamakan mitos yang benar terwujud di dunia nyata.

Menurut Mansar Gerson Deda di Sentani dahulu kala terjadi perang suku berkepanjangan sehingga banyak masyarakat berpindah lari ke arah Nimboran / Genyem, Kemtuk, Depapre, Skanto dan Arso. Tinggallah hanya 1 keluarga di Ifar yang terdiri dari dua istri. Istri yang pertama sudah 2 anak dan Istri yang muda belum ada anak.

Istri pertama menjaga dusun dusun sagu tinggal di danau dan menjadi penunggu penjaga dan penghuni danau, kedua anaknya pindah sebelah danau yang kakaknya diarah Koya koso yang sekarang bisa dilihat dari udara telaga besar dan adiknya dialang alang yang sering disebut Danau Love. Istri kedua yang masih muda pindah tinggal di arah Timur dari gunung Tami sebelah pantai Holtkamp sekarang bisa melihat telaga bulat warna biru yang ada dibalik gunung Tami ( Gunung Bogainville ).

Untuk suaminya karena suatu saat takutnya ada serangan dari musuh maka berpindah tinggal di Goa Batu puncak Gunung Dobonsolo bahasa Sentani ( Cycloop ) Bahasa Depapre Dafonsoro menjadi telaga batu dan sewaktu waktu menurunkan hujan dan banjir untuk menyuburkan dusun sagu dan kebun kebun yang dikelola istri dan kedua anaknya, sambil memantau juga kedua istrinya serta dusun sagunya yang ditinggalkan. Dengan demikian 1 keluarga besar ini menjadi penghuni telaga yang bersahabat baik dengan manusia sekitar.

Orang orang yang pada saat saling serang lari ke arah Genyem, Kemtuk, Depapre,  Skanto dan Arso pelan pelan  satu demi satu kembali ke dusunnya sekitaran danau. Menurut Gerson Marga Yoku banyak yang menetap di Skanto dan Arso sedangkan Marga Wally lari ke arah pedalaman dan menetap di Kampung Ubrub dan Dubu di Daerah Web perbatasan Papua – PNG.

Marga Yoku yang ke Genyem lama lama rubah nama Marga menjadi Yaku dan Yaru. Menurut penuturan Paitua Gerson pada Tahun 1930 saat Dia masih umur belasan tahun pernah terjadi banjir bandang di Sentani karena Pemerintah Belanda membabat sejumlah dusun sagu di Plafou, Ifale, Yahim dan Asey untuk membangun Bandara dan perumahan Pos Pemerintah.

Akhir perang dunia ke 2 Tahun 1946 juga pernah banjir bandang di Sentani karena kerusakan ekosistim serta hancurnya banyak dusun sagu akibat perang sehingga pace di goa batu Sycloop marah. Banjir awal Tahun 1946 tidak hanya di Sentani tetapi merata di kota Hollandia sehingga banyak bangkai pesawat, bom serta bekas peralatan perang lainnya ikut terkubur dalam tanah.

Dari Data Bapa Gerson Tahun 1960 pernah juga banjir bandang di Sentani.Tahun 1978 juga pernah terjadi banjir bandang di Sentani dan Genyem karena banyak dusun sagu dan kebun kebun yang dialih fungsikan untuk lokasi pemukiman transmigrasi. Tahun 1984 seluruh Arso,  sebagian Abepura dan Kotaraja ditutupi banjir bandang pasca pembabatan dusun sagu di Vim, areal pasar Yotefa dan perumahan DPRP. Tahun 1987 banjir bandang di Entrop pasca penimbungan puluhan hektar dusun sagu dari AL sampai PTC mengakibatkan 5 orang korban jiwa.Tahun 2003 juga terjadi banjir bandang di Sentani pasca pembabatan dusun sagu di Kehiran, Hawae, dan Doyo.

Tahun 2005 banjir bandang yang dasyat terjadi di Arso Keerom pasca ditanda tanganinya pelepasan ratusan hektar tanah di Arso Timur untuk lahan kelapa sawit kepada PT. Rajawali. Pada Tahun 2007 juga terjadi banjir bandang di Sentani mengakibatkan rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan, belakangan diketahui banjir terjadi pasca pembabatan dusun sagu di Hawae dan Kehiran belakang BTN Purwodadi November 2007.

Banjir bandang yang baru saja terjadi ini terjawablah pesan pesan Paitua Gerson Deda, Robert Ohee, Frans Hamadi, dan Hendrik Yoku sebelum mereka meninggal Tahun 90 an. Salah satu pesan yang disampaikan kepada Anak Cucu ialah : “Jikalau kalian melepaskan dusun sagu dan kebun kebun yang menjadi sumber penghidupan ini kepada pihak mana pun, apalagi mengalih fungsikan maka pasti kalian akan berhadapan dengan fenomena alam yang mematikan.”

Kelakuan manusia sering terkonekting dengan Intensitas hujan yang tinggi, dibarengi dengan topografi daerah yang jurang dan miring tak sanggup lagi membendung alam punya mau hendak kemana? Mitos mitos yang tersembunyi pun ikut membuka tabir misteri setelah bencana alam terjadi di dunia nyata semoga.

Mitos Bapa Gerson ini pernah dimuat dalam buku cerita Rakyat Suku Sentani pada Balai Bahasa dan Budaya Provinsi Irian Jaya Tahun 1982. Pernah juga dimuat dalam SKM.Tifa Irian terbitan Maret 1984 minggu ke 2 dengan Topik berita : Nilai Fantazti, dibalik pohon sagu yang  kena tebang di Vim Koraraja, Di Expo Waena, dan di Kemiri Sentani. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan