Karena sedikit orang asli Papua jadi penulis

Jayapura, nirmeke.com BADAN Eksekutif Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (BEM USTJ) menggelar pelatihan jurnalistik di Kota Jayapura pada Sabtu, 9 Maret 2019.

Pelatihan bertema “Bersinergi Membangun Generasi Kritis” tersebut menghadirkan pemateri Hendrikus Yeimo dari Jubi. Pesertanya 27 mahasiswa dari USTJ dan Universitas Cenderawasih.

Peserta Finsen Jigibalom menilai pelatihan yang diikutinya penting untuk mengembangkan daya kritis mahasiswa. Ia berharap pelatihan tersebut bisa digelar secara rutin oleh BEM seluruh Perguruan Tinggi di Papua.

“Ilmu jurnalistik perlu dikembangkan di kalangan mahasiswa, apalagi jumlah orang asli Papua yang menjadi penulis sangat sedikit,” katanya.

Pelatihan jurnalistik bagi mahasiswa, kata Jigibalom, bisa meningkatkan minat mahasiswa untuk menulis. Baik menulis berita, maupun opini dan artikel.

“Saya ingin lebih banyak anak Papua yang menulis buku atau menjadi wartawan,” ujarnya.

Peserta lain, Natalia Rumbiak, mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Cenderawasih, mengatakan ia ikut karena karena tertarik kepada dunia jurnalistik.

“Sebelum saya dituntun membuat karya jurnalistik dalam bentuk opini, opini yang saya tulis selama ini ketika ada hari raya besar, tapi ketika ikut pelatihan ini saya mengerti bagaimana cara menulis opini beserta teknik menulisnya,” katanya kepada Jubi usai pelatihan sehari tersebut.

Ia mengakan selama ini tidak terlalu paham bagaimana menulis opini. Namun di pelatihan tersebut ia mengerti bagaimana cara menulis opini dan menyiapkan data awal, baik melalui referensi, ide, dan diskusi, lalu dikelola menjadi sebuah opini yang benar dan baik.

“Saya sangat senang dan berterima kasih kepada BEM USTJ karena telah menyelenggarakan pelatihan ini dan apa yang selama ini saya tidak tahu soal produk jurnalistik, terlebih dalam membuat opini, karena selama ini saya tahu membuat opini diharuskan pada event hari besar saja, padahal tidak seperti itu,” katanya.

Usai pelatihan Rumbiak mulai berencana membuat opini terkait kurangnya fasilitas pendukung mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Uncen.

Rumbiak berharap kepada mahasiswa Papua lain yang aktif kuliah agar tidak menjadi mahasiswa yang “kuliah-rumah-kuliah-rumah”, tapi terlibat dalam organisasi maupun pelatihan-pelatihan kecil seperti yang diikutinya.

“Ikut terlibat, karena di situ apa yang belum tentu kita dapat di perkuliahan bisa kita dapatkan di organisasi maupun pelatihan, agar kita tidak hanya tahu apa yang dipelajari di kampus, tapi kita juga dituntut untuk mengetahui hal lain, ilmu dan pengetahuan lain lebih luas lagi,” katanya.

Pemateri Hendrikus Yeimo menyampaikan apresiasinya terhadap minat peserta untuk belajar jurnalistik.

“Minat mahasiswa untuk mempelajari dasar jurnalistik harus kita apresiasi, karena Papua membutuhkan lebih banyak penulis muda yang mampu menuliskan masalah budaya, ekonomi, maupun peristiwa yang terjadi di sekitar mereka,” kata Yeimo.

Yeimo berharap BEM kampus lainnya juga menggelar pelatihan jurnalistik bagi para mahasiswa.

“Jika semakin banyak orang asli Papua yang menulis, semakin terasah pula kemampuan kita untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada di sekitar kita, pengetahuan tentang dasar jurnalistik bisa menjadi bekal awal yang baik, semoga mereka tidak putus menulis setelah pelatihan berakhir,” kata Yeimo.

Ketua Badan Eksekutif (BEM) USTJ, Alexander Gobai, menjelaskan sasaran pelatihan jurnalistik tersebut lebih kepada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) per kampus.

“Pelatihan ini awal untuk menghimpun teman-teman mahasiswa yang didukung oleh BEM,” katanya.

Gobai mengatakan usai raker BEM pada 30 Maret 2019 kegiatan pelatihan akan ditetapkan sebagai agenda rutin BEM melalui tahapan bimbingan khusus.

“Mereka yang telah ikut pelatihan dan sudah mengisi formulir akan dibimbingan khusus, ini bertujuan untuk mereka menjadi wartawan kampus sehingga bisa menulis tentang lingkungan kampus,” katanya.

“Bagaimana agar mahasiswa ini menjadi kritis? Maka perlu dilakukan bimbingan, tidak hanya ketika ada kegiatan pelatihan, namun harus menjadi agenda rutin dan dilakukan secara internal juga supaya mereka bisa mengenal dunia jurnalistik,” katanya.

Ia juga berharap para peserta tidak hanya aktif di kampus dan pelatihan seperti itu, tapi juga terlibat dalam diskusi, mengikuti seminar, dan lokakarya yang bersifat ilmiah.

“Tapi juga tidak terlepas dari nilai-nilai kemahasiswaan, yiatu berperan dalam keadilan, demokrasi, perdamainan, dan kesejahteraan, itu yang harus diperjuangan oleh mahasiswa tanpa melibatkan diri pada pengusaha dan penguasa, hingga saat itulah mahasiswa diuji untuk kritis,” katanya. (*)

 

Reporter : Agus Pabika

Sumber    : Jubi.co.id

 

Tinggalkan Balasan