Dorkas dan Dunia malam Dikota

Oleh: Mr. Nomen

 

“Semua hal dapat terjadi ketika malam tiba,apalagi jika saja sebuah kota tanpa Polisi dan lingkungan yang kurang baik maka, kejahatan akan terus dinamis hingga menjadi hakikat hidup yang objektif”

Di sebuah kota kecil telah lama dihidupi oleh banyaknya kalangan remaja yang kacau balau, mereka hidup bebas tanpa di kontrol dari polisi yang berani, seakan remaja-remaja itu dipelihara karena memang ada sikap pembiaraan. Kenakalan remaja di kota itu tidak terkontrol oleh pemerintah daerah maupun kota, dan pula peran Agama maupun perang penting lainnya bisu, takut dan malu. Semua yang diharapkan itu semakin hilang jauh dari mereka. Di kota kecil itu pun seakan neraka sudah hadir. Mereka berkumpul untuk pesta miras, berhubungan sex, isap aibon, dancer sexy, dan kejahatan lainnya. Semuanya itu semakin menjadi hal yang biasa, malah katenangan akan hal itu pun menjadi hal yang menentang mereka. Anak-anak remaja semakin mencintai dunia malam dan lebih memilih hidup dijalan bersama komunitasnya. Orang tua mereka tidak berdaya karena mereka sudah dewasa di alam sana. Itulah kondisi hidup di sebuah kota yang dianggap kota beriman namun kejahatan tidak terkontrol dan semakin parah.

Pada suatu ketika ada disko (acara malam) bongkar di kompleks perumahan Polwan (polisi wanita) di kota kecil itu, lampu disko dan lagu ala Dj, Hippop dan Reggae versi Papua tidak terkontrol oleh operator topi miring, namanya Karet. Remaja dari sudut mana pun datang, acara dibawah tenda biru semakin ramai walaupun sudah semakin malam, kejahatan pula semakin ramai di tengga acara disko bongkar itu, anak-anak remaja saling berkumpul di sampaing acara itu dan berbisik-bisik untuk mencari miras, baku tambah dan tamba, jika jumlah uang mencapai dua ratus ribu maka yang mereka beli minuman toko seperti vodca, wiro, jenever dll. Tapi kalau uang dibawah seratus ribu, maka yang mereka beli adalah minuman lokal. Terjadilah acara pesta bebas miras dan goyang baku ambil di tengah acara yang di hiasi lampu versi natal.

Acara masuk jauh malam, volume musik pun tidak disentuh turun oleh opereter Karet tadi. Tetangga Rumah disekitar itu gelisah tak bisa istirahat malam karena suara musik dan kompleks di penuhi oleh teriakan-teriakan para remaja yang mabuk berserakan dijalan. Bapak RT namanya Puss sudah menelepon Polisi untuk dibubarkan dari jam satu malam tadi, namun hingga saat ini sudah jam tiga malam polisi belum juga muncul, kedua kali lagi karena bapak Puss melihat belum ada Polisi yang datang, bapak Puss menelpon yang kedua kalinya namun sayangnya nomor kantor kepolisian yang tadinya aktif, kini tidak aktif. Bapak Puss sebagai ketua RT sangat kesal dengan sikap keamanan yang bertugas di kota kecil itu, dan acara disko bongkar itu pun berlanjut hancur hingga pagi menyapa.

“Jika dihitung-hitung, kejahatan lebih melampaui akal sehat manusia di sebuah kota kecil, Miras di jual bebas, Narkotika sengaja dipermainkan di kalangan remaja yang telah korban, Lem Aibon terus dijual seakan permen karet, berhubungan intim dan ganti pasangan demi kepuasan nafsu sudah menjadi biasa. Siapa yang salah?, mereka atau kita?, marilah kita menjawabnya sendiri”

Kisah Dorkas Yang Hancur Karena Dunia Malam

 “Dulu Dorkas rajin pergi ke Gereja, aktif dalam kegiatan-kegiatan Gereja. Ia pun rajin membantu kedua orang tuanya ke kebun dan ke hutan, Dia sangat pemalu, sopan, cerdas dan pula cantik natural, tapi itu berlaku saat Dorkas di kampunya sendiri, saat masih SD dan SMP, tapi ketika Dorkas berada di Kota kecil yang hidupnya kacau balau, Dorkas berubah”

Namanya Dorkas, gadis kecil yang masih perawan, asal dari Kampung Obayo yang menempel di perbukitan Deiyai di Kabupaten Dogiyai. Kehidupan Dorkas sangat tradisional dan Agamais, Dorkas belum mengenal dunia komunikasi modern dan hal lainnya. Perempuan kecil ini sudah selesai SMP di Kabupaten Dogiyai. Dorkas besar dalam Agama Kristen dan hidup dalam pergaulan Gereja lantaran orang tuanya aktif dalam kepegurusan Gereja (BPJ) di kampungnya Obayo.

Setelah Dorkas tamat SMP, Ia ingin melanjutkan SMA di Kota Timika karena di Kabupaten Dogiyai tadi belum ada SMA yang bagus, tetapi karena kedua orang tuanya sudah tua dan sakit-sakit, Dorkas bersabar membantu kedua orang tuanya di Kampung selama satu tahun lebih, dan suatu saat mamanya memaksa Dorkas harus lanjutkan SMA lagi. Benar dan setelah satu tahun itu, Dorkas berangkat ke Kota Timika dan tinggal bersama ade kandungnya mamanya Dorkas (om) yang bekerja di PT. Freeport sekitar enam belas tahun (16).

Dorkas adalah gadis kecil yang masih awam dengan kehidupan di perkotaan, Dorkas masuk SMA di Timika dan sudah kelas tiga SMA, dan sebelumnya sekitar satu tahun lamanya dia selalu dirumah lalu ke Sekolah dan ke Gereja, tidak pernah jalan-jalan kemana pun, tetapi setelah sudah dua tahun lamanya di kota. Dorkas sudah semakin biasa dengan kehidupan di perkotaan. Gadis kecil itu sudah mulai dewasa dan memiliki teman yang banyak di sekitar dia tinggal, di Gereja dan pula di sekolah. Teman Dorkas memang banyak namun yang lebih Dia akrap adalah teman Tebi, Mice dan Lona, mereka ini teman kelasnya Dorkas. Mereka sering bicara bebas tanpa kontrol karena memang mereka sudah satu otak. ketika temannya itu sudah mengenal dunia malam, sudah sering ke tempat acara, pacaran lebih dari biasanya dan suka jalan.

Sudah dua tahun mereka bergaul seakan seperti keluarga dekat, tinggal satu tahun lagi mereka akan berpisah karena akan tamat dari bangku SMA. Karena dipengaruhi oleh ketiga temannya tadi, Dorkas semakin kehilangan langka kaki ke Gereja, dahulu Dorkas masih kelas satu, Ia sangat rajin ke Gereja dan rajin bekerja membantu kerja di rumah Ia tinggal, tetapi ketika semakin akrab dan semakin jatuh hati kepada filosofi teman-temannya tadi, Dorkas telah berubah. Dorkas semakin mengenal lagu-lagu acara, dari yang goyang naik turun sampai dengan yang baru adalah goyang panta bola (Patola).

Hampir tiap hari Dorkas sering pergi ke kos temannya Lona yang tidak jauh dari mereka bersekolah, disana mereka melakukan banyak hal, dari yang mengosip laki-laki, nonton film goyang patola di medsos dan semakin hari mereka ikut mempraktekkannya pula. Sungguh Dorkas sudah berbeda jauh dari kebiasaan semestinya dari kampung sebagaimana seperti orang tuanya mendidik. Karakter Dorkas sudah berubah total, seratus persen ikut kebiasaan teman-temannya, dari yang makan pinang, bergosip, suka jalan tanpa waktu dan suka bolos dari rumah ke berbagai tempat. Semuanya sudah menjadi satu kesatuan dalam diri Dorkas dan teman-temannya.

Jumat pagi di ruang kelas, mereka empat termasuk Dorkas, berbisik-bisik untuk kegiatan Minggu malamnya besok, mereka sudah atur rencana. Tiba besoknya di malam Minggu, Dorkas mulai gelisah di rumah karena ada perjanjian yang mereka sudah atur kemarin di sekolah. Dia mulai memutar otak untuk menipu tuan rumahnya untuk keluar satu malam ke temannya.

Sebelum pergi dari rumah, kata Dorkas dengan muka tipunya kepada kakaknya di rumah,” kaka, malam ini kami ada kerja kelompok di rumah teman, jadi saya mau pergi, sekaligus bermalam disana”.

kakaknya balas dengan bertanya, ”Tugas apa sampe harus bermalam begitu”.

Balas Dorkas dengan muka munafiknya, ”Tugas mulok kaka, buat kue”.

Balas kaka dengan percaya full, ”oke sudah, yang penting besok harus pulang, ingat gereja”.

Balas Dorkas dengan muka ceriah, ”oke,sip kaka”.

Dorkas dan teman-temannya berkumpul seperti biasa di kosnya Lona, mereka duduk sambil putar exsus (minuman extra joss susu), tidak ada kegiatan lain. Duduk ketawa-ketawa dengan bermain HPnya masing-masing. Sekitar beberapa jam berlalu, sudah jam tujuh malam, tiba-tiba pacarnya Tebi telfon dan berkata, ”sayang bentar malam ada acara kita pergi e..”. Balas Tebi dengan senang hati, ”Oke, sayang”.

Setelah itu Tebi lanjut cerita kepada ketiga temannya, ”kamu sebentar malam ada acara kita rame-rame pergi ka,”.. balas Dorkas dengan kesal, ”saya malas, karena yang dulu kita pergi itu, saya dapat marah dari saya punya kaka dirumah jadi”. Dengar Dorkas, balas Mice, ”kali ini saja tidak papa, nanti kita goyang dua lagu saja baru pulang”. balas Dorkas, ”kkhhmmmm… yoi sudah”.

Mereka sudah duduk sampai pukul 20.00 wit malam, diam-diam Tebi sudah hubungi pacarnya dengan tiga pria ganteng, mereka datang dengan motor masing, yang satu motor Vixson baru, yang satu motor Kawasaki hijau dan yang satu lagi motor KLX Hitam. Mereka saling tawar untuk naik motor setelah mereka tiba menjemputnya, Dorkas naik motor KLX Hitam dan pergi ke acara goyang di Perumahan Polwan. Sepanjang jalan pria ganteng yang datang pakai motor KLX itu minta kenalan dengan Dorkas dan Dorkas tidak menolak karena Dorkas suka sama motornya dan memang pria itu ganteng dan kaya juga. Sesampainya di tempat acara, mereka goyang berpasangan sesuai mereka datang tadi.

Sudah Pukul 02.00 wit subuh, acara semakin ramai dan pula remaja-remaja yang datang pula banyak, lagu dikontrol tertip oleh opereter senior ternama, Karet. Dorkas dan pacarnya terus goyang polo dan naik turun tanpa henti. Sebelumnya hanya dua lagu saja mau goyang lalu pulang, tapi karena sudah lebih dari suka dunia malam, terjadilah hingga jauh malam hingga mendekati pagi. Pacarnya Dorkas dan ketiga teman tadi ternyata sudah belanja minuman di toko, mereka sudah mabuk dan semakin tidak terkontrol. Dorkas tahan perasaan bersama pacar barunya yang mabuk itu, sekitar lima belas menit Dorkas dan pacarnya sudah goyang di dalam, tiba-tiba Dorkas melihat-lihat temannya keluar, sudah tidak ada, dan ternyata ketiga temannya tadi sudah pergi bersama pacarnya, tinggal Dorkas dan Pacarnya barunya itu.

Waktu semakin jauh malam dan semakin mendekati subuh, Dorkas semakin cape dan Dorkas ingin pulang namun tidak bisa karena tempat tinggal Dorkas dan Perumahan Polwan itu sangat jauh terpaksa Dorkas memaksa pacar barunya itu untuk pulang antar kerumah. Mereka dua pulang dengan pacar barunya itu, ceritanya mau antar Dorkas pulang kerumah, tapi sesampainya di pertenggahan jalan, tiba-tiba pacar Dorkas itu memutar stir ke arah perkantoran dan duduk dibalik gedung yang kosong.

Karena Dorkas sangat ketakutan, Dorkas berdiri di depan perkantoran yang ada cahaya lampuh. tidak lama kemudian pecarnya Dorkas semakin depresif dengan keiginannya. Pacar Dorkas itu menarik Dorkas masuk duduk di kegelapan, di atas sepengkal semen, Dorkas terus menolak tapi karena pacarnya itu sudah mabuk berat, terus memaksa dengan keras dan akhirnya Dorkas ikut kemauan pacar barunya itu terjadilah semua kemauan yang pacarnya mau, Dorkas hanya terima walaupun sakit dan sakit.

Seusai mereka dua duduk sebentar dibelakang gedung kantor itu, mereka dua pulang dengan penuh lega dan cape sudah pukul 06.00 pagi, pacarnya antar Dorkas pulang kerumah, sesampainya di rumah, kakak perempuannya sedang menyapu halaman rumah, tiba-tiba dia melihat Dorkas masuk dari pintu pagar dengan muka yang asam dan cape.

Tanya kakanya,”E.. Dorkas, kamu dari mana, muka lain sekali”

Balas Dorkas dengan membalik muka ”dari teman rumah kaka, ”

Balas lagi kaka, ”muka lainnya jadi saya tanya”

Balas Dorkas dengan senyum munafiknya, ”biasa to kaka, tahan mata buat kue jadi”

Balas kaka sambil menyapuh kembali, ”Yo, masuk sana, mandi baru pergi ke Gereja”

Dorkas masuk rumah dan mandi lalu tidur di kamarnya sampai sore hari, tidak pergi ke gereja.

Ujian sudah dekat, Dorkas dan ketiga temannya sudah menganggap dunia malam seperti biasa, pulang malam dan pulang pagi sudah menjadi hal biasa walaupun orang tua mereka dan kakak mereka dirumah selalu marah, namun mereka anggap itu soal biasa sebagai orang tua sering demikian. Acara malam selalu ramai mereka ikut, Dorkas dan teman-temannya sering temani pacar mereka minum di tempat acara dan di jalan hingga pukul pagi tiba. Sungguh, Dorkas sudah lupa kedua orang tua yang sudah tua itu dan Dorkas sudah tidak hidup sebagaimana seperti dulu lagi.

Dorkas sudah cinta mati sama pacarnya, tapi karena pacarnya itu anak Pejabat, punya uang yang banyak dan punya mobil dan motor yang bagus, pacarnya itu hanya biasa saja sama Dorkas, tidak cinta, dia anggap Dorkas hanya pelengkap kebahagiaan. Kebetulan pacarnya itu pun kelas tiga SMA dan akan ujian bersama. Setelah ujian telah berlalu dan pacarnya itu lanjut kuliah di Surabaya dan Mereka dua putus, tidak ada kamunikasi lagi walaupun Dorkas sangat cinta mati kepada pacarnya itu karena dia pacar pertama yang menyentuh tubuhnya dibalik bangunan perkantoran yang Dorkas tidak menduga, namun entahlah apa, sudah berlalu dan tak mungkin lagi kembali yang telah rusak itu, karena diantara Dorkas dan pacarnya  tidak ada cinta yang mengikat mati.

Dorkas sangat terluka berat dengan pacar pertamanya itu, tapi karena Dorkas berkeniginan untuk lanjut kuliahnya di Malang bersama temannya Mice, namun karena karakternya dia, kakaknya tidak ingin membiayai Dorkas lanjut kuliah di Malang. Dorkas tidak punya pilihan siapa-siapa lagi selain kakaknya itu, orang tua Dorkas tidak mungkin membiayai Dorkas lanjut kuliah karena sudah tua dan pula petani. Dorkas sangat stres dan Dia memilih untuk pulang ke Kampung Oboyo Kabupaten Dogiyai. (*)

 

Selesai

Tinggalkan Balasan