Hesty Imelda Kere, Jurnalis Perempuan yang ingin berdiri di atas tanah Sendiri

Laporan : Agus Pabika

Di luar kesibukannya sebagai jurnalis, Hesty Imelda Kere menyempatkan diri mengurus segala menu dan kebutuhan cafe yang ia dirikan kurang lebih 4 bulan lalu.

Dengan bangunan memanjang seluas 390 meter persegi yang diberi nama cafe Andre di Roobing area itu tak hanya memanjakan pengunjung menikmati aneka kuliner, namun juga menghadirkan warung dengan pemandangan alam.

Cafe Andre yang berada di pingiran danau Sentani samping dermaga Kalkhote - Agus Pabika
Cafe Andre yang berada di pingiran danau Sentani samping dermaga Kalkhote – Agus Pabika

Selain menu ikan gabus danau Sentani ada juga mujair dari danau Sentani yang masih segar juga ada ubi ubi dan sayuran asli dari Papua,” kata Hesty kepada nirmeke.com.

Cafe Andre diakui masih sederhana dengan menyajikan menu khas Papua. Diantaranya ikan gabus danau Sentani yang merupakan endemik yang keberadaan mulai langka. Umbi-umbian dan sayur-sayuran khas Papua juga menjadi menu menarik yang sedemikian rupa menghasilkan cita rasa tersendiri menu Cafe Andre.

“Kami juga berusaha mencari menu baru yang bisa kita buat misalkan ubi dicampur keju sehingga ada cita rasa berbeda termasuk keladi tumbuk yang menjadi khas di cafe ini,” kata Hesty membocorkan sedikit rahasia dapur cafenya.

Aktivitas yang ganda sebagai jurnalis yang membuka usaha itu di latarbelakangi prinsip bahwa orang asli Papua harus bisa menunjukkan kreativitasnya. Hesty sadar, meski seorang wartawati yang setiap hari memburu berita.

“Tetapi kenapa tidak kita punya potensi tidak kita kembangkan? Kenapa tidak ini bisa menjadi motivasi bagi anak anak muda Papua lain,” kata Hesty mengawali cerita awal motivasinya mendirikan usaha.

Para Pengunjung cafe Andre - Agus Pabika
Para Pengunjung cafe Andre – Agus Pabika

Bagi Hesty, menjadi tuan di atas tanahnya sendiri merupakan cita-cita yang dirindukan halnya pemimpin-pemimpin Papua. Dengan prinsip itu anak muda Papua bisa bekerja di atas tanahnya sendiri dan dia bisa menghasilkan dan menjadi pemilik usahanya sendiri.

Prinsip itu ia tuangkan dengan aktivitas usaha yang telah Ia jalani 4 bulan ini. Jiwanya yang ingin Mandiri bersama anak asli Papua terus ia jalani hal itu ia buktikan para pekerja di cafe yang ia kelolah dilakukan mama-mama asli Papua.

Meski ia akui di kafe yang ia kelola belum punya koki ternama, namun itu tak menghalangi kreativitasnya menghadirkan orang lokal yang punya kemampuan mengelola bahan pangan Papua untuk dihidangkan di cafe Andre. “Cafe Andre menu tradisional tapi memiliki cita rasa nasional,” kata Hesti menjelaskannya.

Karyawan mama-mama asli Papua yang bekerja di cafe Andre - Agus Pabika
Karyawan mama-mama asli Papua yang bekerja di cafe Andre – Agus Pabika

Bahan baku masakan seperti ikan gabus danau Sentani, ia jalin mitra bekerja sama dengan para nelayan setempat. Kemitraan dengan nelayan menyuguhkan ikan gabus besar itu sebagai bukti ingin menunjukkan anak Sentani juga bisa memperkenalkan kuliner khas.

Saat ini Hesty mempekerjakan 4 karyawan Mama-mama asli Papua yang masih ada hubungan kerabat. Prinsip lain yang diperlukan dalam Cafe Andre tak hanya pelaku yang asli Papua, namun juga menu lokal khas Papua namun juga menu lokal khas Papua.

Hal ini ini justru menarik minat pengunjung, terutama menjelang penyelenggaraan PON 2020 di Papua. Keberadaan Cafe Andre yang berdekatan dengan stadion utama Papua Bangkit di Kampung Harapan Sentani mampu memperkenalkan tamu luar mengenal tentang Papua dari cafe yang ia kelola.

“Yang jelas saya mau yang terbaik, dan kehadiran kami bisa menjual danau Sentani kita, potensi kuliner khas Papua di danau Sentani dan ini juga bisa menjadi satu lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar terutama keluarga dekat kita,” katanya.

Mimpi Hesti tak hanya sampai disitu, perempuan asli Papua ini berencana mengembangkan penginapan di area cafenya yang masih menyisakan lahan, meski hanya untuk 2 hingga 3 tamu bisa menginap di Kalkhote area cafe yang ia kelola.

Cafe yang ia kelola mampu menampung 200 orang pengunjung karena posisi hanya tambatan Perahu namun jika dihitung hingga di lapangan parkiran, bisa menampung 500 orang karena lahan kita cukup besar.

aksesoris sewaan milik cafe Andre yang bisa di sewa oleh pengunjung untuk berfoto - Agus Pabika
Aksesoris sewaan milik cafe Andre yang bisa di sewa oleh pengunjung untuk berfoto – Agus Pabika

Meski memiliki usaha Cafe yang melayani pelanggan setiap hari, Hesty mengaku tidak terganggu dengan aktivitas profesinya sebagai wartawati. Semua pengelolaan dilakukan karyawan yang ia bisa dipercaya apalagi hubungan kekerabatan yang dekat.

Semangat Hesti ingin berdiri di atas tanahnya sendiri diakui bukan hal mudah. Ia mengaku sebelum mendirikan cafe yang ia kelola sekarang sering mengalami kegagalan.

“Yang penting lakukan dulu, kalau menghadapi kendala, gagal bangkit lagi dan lakukan lagi karena saya sudah buka cafe ini 5 kali gagal. Tapi saya tetap tidak akan pernah berhenti dan saya akan tetap jalan,” ujar Hesty penuh semangat. (*)

Tinggalkan Balasan