Opini – Buka Hati Doakan Papua

Oleh: Beni CF. Bame 

 

Papua surga kecil yang jatuh ke bumi itulah julukan papua dari masa ke masa. jika kita melihat historis terbentuknya Palau kecil di Indonesia timur (Papua) antara dua lempeng, Pasifik dan Autralia. Fenomena alam yang terjadi memberikan satu mujizat nyata bagi orang Papua bahwa Papua itu indah dengan dihiasi alamnya.

Bicara Papua tidak saja di Indonesia melainkan dunia Internasional juga mengetahui betapa indahnya Pulau Papua yang kini muncul di pita dunia bahkan menjadi topic utama dalam pembahasan.

Jika kita bicara Papua dari masa ke masa tentu ibarat bunga mewar di taman dimana kita jaga dan rawat akan tumbuh menjadi hijau bahkan indah terlihat dengan memberikan harum semerbak filosofi ini mengambarkan bahwa seiring berjalannya waktu Papua di hantui berbagai gejolak. dulunya Papua terlihat indah kini menjadi muara persoalan Bangsa.

Hantu yang datang bukan saja satu aspek tetapi banyak aspek yang mengakibatkan wajah keindahan Papua menjadi buram. Pertanyaannya siapa  hantu itu? untuk mengguraikan secara detail setiap persoalan belum tentu habis sehingga saya coba spesifik satu persoalan yang di alami bahkan di rasakan orang Papua beberapa tahun belakangan ini.  persoalan lebih urgen adalah kemanusiaan, kini cukup tinggi di Papua dimana dunia Internasional pun ikut menyoroti Bangsa Indonesia.

Dari kejadian kemanusiaan berupa Ancaman, Teror, Penembakan, Pembunuhan, pemukulan, penculikan, Penikaman, Pemboman dan Intimidasi yang terus terjadi terhadap orang Papua semakin meningkat dan orang Papua merasa tidak ada “nilai kemanusiaan yang di junjung tinggi” oleh pemerintah Indonesia terhadap orang Papua, sebut saja intimidasi dan teror terhadap Mahasiswa Papua yang ada di luar Papua seperti di Jawa, Bali, Makasar, Surabaya, Jakarta, Kejadian tersebut  tidak manusiawi terus terjadi.

Darurat kemanusiaan terus terjadi di tengah kemajuan bangsa ini menunjukan bahwa negara tidak mampu memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat Indonesia termasuk masyarakat asli Papua. Papua kini masih dalam kondisi darurat,  dara yang terus mengalir, air mata yang menetes sepanjang waktu, hidup terasa trauma dengan kejadian luar biasa, Operasi Militer yang semakin melonjak melewati ambang batas nilai kemanusiaan, negara menurunkan dan menyebarkan aparat keamanan mengelilingi rakyat sipil di tanah Papua.

Ruang berekspresi masyarakat Papua di tutup rapat, Hal ini menunjukan Papua benar-benar darurat, lebih sadis lagi para pelaku kepentingan tersembunyi di balik layar dan mereka hanya mendorong scenario konflik kekerasan bagi masyarakat sipil di bumi cenderawasih. Konsitusi bangsa ini memang benar-benar “tumpul ke atas tajam ke bawa”.

Pemerintah pusat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) belum selesaikan persoalan kemanusiaan di Papua alasan pemerintah pusat bahwa negara ini  dihuni oleh beragam suku, agama dan ras dan tentu semua ingin mendapatkan sentuhan dari negara tetapi bagi saya yang paling penting itulah negara focus selesaikan karena akan mengakibatkan konflik baru bahkan dunia luar ikut menyoroti Papua.  

Untuk menyelesaikan persoalan Papua tidak melewati pembangunan Infrastruktur yang di kampanyekan presiden RI memang itu juga penting tetapi ada yang lebih penting lagi. Pendekatan negara untuk menyelesaikan semua persoalan Papua masih salah katakanlah pendekatan aparat keamanan yang turun mengajar di sekolah lalu foto up date, atau pembangunan pos di setiap jalan dengan berlapis.  

Papua juga di endapkan dengan masa lalu yang negara perlakukan kurang wajah sejarah ini tidak terhapuskan dari anak cucu bahkan folosofinya negara boleh ambil nyawa tetapi idelogi tidak akan mati.

Oleh karenanya orang Papua berharap presiden ke tujuh ini bisa mampu selesaikan persoalan Papua selama ini, nyatanya di kepemimpinan malah bertambah persoalan. Saya juga menghormati kebijakan atas pembangunan di Indonesia termasuk Papua, karena tidak lama lagi Papua jemput ajang PON 2020  di Papua artinya dukungan yang luar biasa dengan kepercayaan untuk pemerintah Provinsi Papua.

Persoalan Papua Akhiri Dengan Kejujuran

Kata jujur dalam benak telinga saya belum terdengar negara sampaikan untuk tuntaskan persoalan tanah air termasuk Papua, fakta dan kebenaran sudah ada dalam sejarah.  hanya saja negara belum jujur siapa pelaku atas persoalan Papua selama ini? bagi masyarakat sudah tau siapa pelaku tersebut tetapi negara sembunyikan semua. Ini kepentingan siapa?

Oleh karena itu, kalau saya salahkan TNI/Polri yang menjadi pelaku atas semua persoalan Papua pertanyaannya siapa yang perintahkan TNI/Polri lalukan tindakan yang kurang wajar terhadap rakyat sipil di tanah papua?.  

Rakyat sipil di Papua memang di perlakukan kurang adil di negara ini, apa ada alasan lain yang negara ingin menghancurkan rakyat dan tanah Papua? Tidak ada jalan lain yang menjadi pilihan terakhir untuk menghapus seluruh pertumpahan.

Genocide di penghujung mata, belum ada kata selamatkan kemanusiaan di tanah Papua. Semua yang masuk di Papua selalu melalui aparat TNI/Porli artinya pendekatan negara selalu lewat aparat, termasuk pembangunan ekonomi contohnya jalan trans Papua yang di kerjakan bukan rakyat sipil melainkan TNI. Pendekatan ini yang  salah dan akhirnya terjadi konflik berkepanjangan setiap waktu, negara harus hentikan kekerasan dan merubah metode pendekatan aparat untuk menyelesaikan persoalan di tanah Papua.

Dengan demikian, saran saya yang pertama, negara harus jujur dan transparan untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan di Papua, kedua negera harus menerapkan koridor hukum tajam ke atas tumpul ke bawa artinya hukum harus melindungi rakyat bukan menindas rakyat. ketiga, negara harus hindari pendekatan melalui aparat keamanan untuk membangun Papua. Keempat, negara juga memilik strategi yang tepat dalam upaya menyelesaikan persoalan bangsa termasuk papua.  Kelima, orang Papua bersama buka hati doakan Papua. Semoga!

*Penulis adalah : Ketua Presidium PMKRI Cabang Jayapura Priode 2017-2019

Tinggalkan Balasan