Jembatan Hanyut, Jalan Trans Jayapura-Wamena Tak Bisa Dilalui

Jayapura, nirmeke.com – Jalan Trans Papua ruas Jayapura-Wamena kini tak bisa dilalui masyarakat atau terputus, lantaran jembatan Yahuli yang berada di kilometer 383 hanyut terbawa arus sungai.

Tak hanya itu, sebanyak 10 titik ruas jalan mengalami kerusakan parah. Diduga hal itu disebabkan curah hujan yang tinggi dan juga tingginya volume muatan kendaraan dari Kota Jayapura menuju Wamena, dengan muatan sembako.

Kepala Balai Pembangunan Jalan dan Jembatan Kementerian PUPR Wilayah XVIII Papua, Osman Hariyanto Marbun menjelaskan curah hujan yang tinggi belakangan ini mengakibatkan Jembatan Belly di sugai Yahuli yang menghubungkan Jayapura – Wamena hanyut terbawa air akibat besarnya arus sugai Yahuli yang berada di KM 383.

“Memang jembatan itu masih bersifat sementara. Tetapi selama ini jembatan itu sangat membantu untuk arus transportasi dari Jayapura – Wamena,” ungkap Osman Marbun di Jayapura, Selasa (5/2/2019) pagi.

Osman menjelaskan dari 10 titik jalan yang rusak, sebanyak 5 titik telah selesai dikerjakan. Sedangkan 5 titik lainnya masih dalam proses perbaikan.

“Sampai saat ini proses perbaikan jalan terus kami lakukan. Begitu juga dengan jembatan yang hanyut dibawa air. Namun ini butuh waktu yang lama, mengingat semua bahan berasal dari luar Papua,” pungkasnya.

Informasi yang diproleh putusnya jalan trans Jayapura – Wamena menyebabkan ratusan kenderaan angkutan barang dari Jayapura menuju Wamena dan 8 kabupaten di wilayah Pengunungan Papua Tengah terpaksa harus kembali.

Ia menambahkan, selama jembatan dalam perbaikan diharapkan kenderaan tidak ada yang melintas dari ruas jalan tersebut, agar proses perbaikan tidak terhambat.

“Jangan sampai ada mobil yang bermuatan barang harus kembali dari tengah jalan, sangat merugikan. Untuk itu kami sampaikan bahwa selama 3 bulan kedepan ruas jalan ini ditutup sementara,” katanya.

Ia menambahkan selama ini mobil bermuatan agar berat, rangka baja dan juga mobil bermuatan sembako dengan bobot angkutan 7-12 ton telah melintasi jalan Trans Papua, diduga hal ini juga menjadi penyebab jalan rusak.

“Jalan itu belum sepenuhnya selesai. Masih ada beberapa kilo lagi belum di aspal. Hanya saja sudah terkoneksi. Tetapi jalan itu belum sempurna, masih ada kemiringan. Namun kendaraan yang melintas bisa bermuatan 7-12 ton, bagaimana jalan itu tidak cepat rusak,” katanya.

“Sebenarnya kita senang dan bangga jalan ini sudah tembus dan bermanfaat untuk masyarakat. Tetapi kita harapkan ada kerja samanya selama jalan ini masih dalam perbaikan. Alangkah lebih baiknya, jalan ini kita tuntaskan perbankannya. Bukan memaksakan kehendak membawa barang dengan mengejar volume,” lugasnya. (*)

 

Sumber: KOMPAS

Tinggalkan Balasan