Legislator Papua minta Maskapai Lion Air harus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Papua

 

Jayapura, nirmeke.com Legislator Papua Nason Utty sebagai wakil rakyat di Papua dan mewakili keluarga meminta kepada pihak Lion Air untuk menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Papua dan keluarga korban terkait kasus yang menimpa Franstinus Nirigi beberapa bulan yang lalu di Pontianak.

Hal tersebut di katakan anggota DPR Papua Nason Utty usai menjemput Nirigi di bandara udara Sentani, beberapa waktu lalu. Minggu, (18/11/2018), Abepura, Papua.

Ia mengatakan pihak Manajemen harus menyampaikan permohonan kepada masyarakat Papua bila ingin melayani di tanah Papua.

“Mereka harus menyampaikan permohonan maaf dengan sikap yang sopan dan tau diri untuk menyembuhkan hati orang Papua,” kata Nason.

Kata Nason, maskapai ini sudah menghancurkan harga diri orang Papua di negeri orang lain meskipun selama ini maskapai ini yang selalu mencari makan di Papua.

“Kami tidak minta uang dan lainnya, karena kami punya harga diri. Maskapai harus tunjukan sikap profesionalismenya,” kata Nason.

Sementara itu Bruder Stephanus Paiman dari keuskupan Pontianak yang juga ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) yang mendampingi Nirigi selama ini mengatakan dari inti masalah Frantinus Nirigi dari pengamatan FRKP, Nirigi di kerjain.

Kita ketahui bersama sendiri bahwa Lion Air selama ini di wilayah Indonesia memiliki pelayanan paling buruk sehingga untuk menutupi ini mereka harus membuat sesuatu untuk menghilangkan image tersebut dan terjadilah pada Nirigi yang menjadi tumbal.

“Kalau kita mau adil, ada anggota dewan yang di Jawa Timur atau Jawa Tenggah itu benar-benar mengatakan cerita tentang bom tapi kenapa tidak di proses, padahal di pangil Polresta Cirebon tapi tidak di proses hukum dan masih banyak lagi yang benar-benar menyebut bom dan di dengar oleh orang banyak namun tidak pernah di proses,” kata Bruder.

Dari sisi kemanusiaan kata Bruder Step, FRKP melihat adanya ketidakadilan. Frans hanya dikorbankan hanya demi sebuah kepentingan karena ini perusahaan besar. Jadi sebenarnya kita sedang melawan tembok besar.

“Namun saya selalu ingatkan jangan pernah takut, selalu punya prinsip ketika kita memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang benar jangan pernah takut karena Tuhan tidak akan pernah tidur,” katanya. (*)

 

Editor   : Admin

 

Tinggalkan Balasan