Opini – Papua Dermaga Kapitalisme

Oleh : Beni Cf. Bame

Papua surga kecil yang jatuh ke bumi slogan ini dikeluarkan dari buah bibir masyarakat Indonesia juga para Wisatawan atau turis yang banyak melakukan perjalanan rekreasinya ke Papua. Namun Papua bukan lagi surge kecil yang jatuh ke bumi melainkan dermaga terakhir para kapitalis lokal dan asing yang berlomba menguasa Ekonomi untuk memperkayakan diri serta meninda Rakyat di belahan Tanah Papua.

Jika bicara tentang papua tidak terlepas Sumber Daya Alam yang terpendam di perut bumi seperti Minyak dan Gas Bumi (Migas), di LNG Tangguh Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat, Nikel, Tembaga, Emas dan Batu Barat di Freeport Kabupaten Mimika Provinsi Papua terlepas dari perut bumi di atas permukaan Bumi pulau Papua di hiasi oleh Flora dan Fauna yang beranega ragam berada laut yang biru sepanjang pulau-pulau di Papua termasuk Raja Ampat Papua Barat kini menjadi tempat wisata terkemuka Internasional, sungai Mamberamo yang panjang dan berliku-liku kini tak mampu di telusuri sepanjang hulu hingga hilir sungai, hutan Papua yang luas, sangat menjanjikan harapan hidup bagi masyarakat di negeri Cendrawasih.

Papua kini menjadi perebutan dunia Internasional, namun perebutan tersebut bukan membangun Manusia Papua dari perspektif Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan dan Infrastruktur melainkan perebutan tersebut dari Sumber Daya Alam Papua. Awal mula alam Papua hidup bebas dan penuh berinteraksi bersama manusia. Tetapi kini Alam Papua berada dalam kurungan yang ketat oleh kapitalis Nasinol dan Global yang menyebar di Tanah Papua. Mata kapitalis pun terpusat di Papua menguasai segala sector kehidupan. kapitalis masuk seperti jarum menindas rakyat dari ekonomi maka yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Kapitalis memang tidak memiliki mata dan hati, penindasan, pembunuhan, penganiayaan diskriminasi tanpa memandang nilai kemanusiaan di Tanah Papua. Masyarakat Papua memang menabur luka batin serta air mata yang mengalir taka ada hentinya dengan semua kejadian bagi kehidupannya.

Tekanan kehidupan masyarakat dari ekonomi semakin meningkat maka yang lemah, buta, janda, juda, tidak mampu memberdayakan anak-anak mereka yang sekolah akhirnya mereka memilih untuk menikmati hidup mereka dengan Minuman Keras (Miras), Aibon dan Perampokan. Jika selamatkan Generasi Papua tidak melewati jalan lain selain melalui perbaikan sistem tertata pembangunan ekonomi jangka pendek, menengah dan jangka panjang serta menata pendidikan dari kampung hingga kota seluruh Tanah Papua. Melihat dampak lambatnya pembangunan selama ini karena faktor kapitalis yang mengisap kekayaan alam dari perut bumi hingga permukaan, menutupi sector ekonomi bagi masyarakat memperlambatkan Pendidikan bagi Generasi Papua dan menindas secara perlahan masyarakat menuju kepunahan.

Selamatkan Papua dari Kapitalis

Memilih untuk selamatkan Tanah, hutan, Manusia dan Generasi Papua membutuhkan pemimpin yang tulus, rendah diri, santun, berani, tegas, dan visioner dengan mengendepankan konsep Bonum Commune atau kesejateraan bersama, artinya mengangkat semua rakyat berdiri sama tinggi dudukpun sama rendah. Akselerasi pembanguna melalui Ekonomi yang mandiri bagi masyarakat di seleurh tanah Papua.

Oleh karena itu, papua kini di perlambatkan dengan berbagai polemic persoalan yang tidak bisa di uaraikan satu per satu. Pelangaran Hak Asasi Manusia HAM terus terjadi, persoalan Busum Lapar yang baru-baru ini terjadi di Kabupaten Asmat Provinsi Papua. Lambatnya Pendidikan di daerah pedelaman Papua karena Guru yang malas untuk bertahan mengajar, Ekonomi Rakyat yang tidak merata, penyebaran Minuman Arkohol (Miras) yang meningkat, lemahnya kepemimpinan dalam mengambil kebijakan dan budaya jual tanah yang tinggi. Tambang illegal masuk tanpa meminta izin bagi pemilih hah wilayah.

Kapitalis mengunakan kekuatan yang melebihi untuk menguasasi sector Ekonomi di Papua maka rakyat tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bersaing di papan atas kesejateraan yang merata serta mandiri secara Ekonomi. soal Kecerdasan Masyarakat papua memeiliki kualitas alami yang terbentuk dari rahim bersaing secara sehat, tetapi terkadang kapitalis mengunakan kekuatan untuk menutupi sistem atau jalan yang ingin di tempuh masyarakat untuk membangun kehidupannya. Alam Papua menyediakan segalanya tanpa di ragukan. Soal sistem pengelolaan ekonomi yang mandiri itu yang membutuhkan tuntunan yang baik. Sistem Pendidikan harus di evaluasi secara totalitas di seluruh kabupaten di tanah papua.

Dengan demikian, selamatkan tanah papua dari kapitalisme ada beberapa faktor yang harus di perbaiki dan perlu genjotkan, pertama, Perbaiki Pembanguna Ekonomi kerakyatan yang terpusat dengan nilai buaya lokal papua, kedua, Sistem Pendidikan harus berbasis budaya setempat dan guru yang bertugas wajib hukumnya menerapkan nilai kultur dimana ditugaskan. Ketiga, kebijakan pembangunan harus merata di berbagai sector, keempat, kepemimpinan yang visioner serta tegas berpihak pada Rakyat. Cugito Ergo Sum, Semoa.

Penulis adalah : Ketua Presidium PMKRI Cabang Jayapura Santo Efrem Priode 2017-2019.

Tinggalkan Balasan