Bagian kedua – Pendidikan ala kebun

 

12 November 2017

 

Ini catatan kedua tentang kebun, pertama kalinya saya tulis hampir satu bulan lalu. Catatan itu saya tulis setelah diajar oleh guru berkebun saya. Namanya Lena Daby. Cara mengajarnya simpel.

Sebelumnya saya sempat bertanya tanya, kenapa (di Jayapura) nota/ hipere dijual oleh kebanyakan mama-?ama dari Wamena sedangkan mama dari Paniai lebih banyak jual sayur padahal sebagian suku di Papua tanam nota/ hipere di kebunnya? Dan saya ingat cerita rakyat dari Wamena tentang Nene musanikhe yang dituturkan oleh Almarhum Niko Lokobal. Cerita tentang penghargaan, penghormatan dan perlindungan terhadap hipere yang telah menghidupkan manusia, yang membuat manusia kenyang dan bisa beraktifitas.

Setelah beberapa kali diskusi tentang hipere, melakukan perbandingan cara berkebun, cara olah tanah ala Paniai dan ala Wamena, cara rawat dan cara panen nota/ hipere. Kami diskusikan tentang ini karena kebetulan saya dari paniai dan kawan Lena dari Wamena. Dan untuk catatan ini saya pake konteks Wamena dan Paniai dulu, tidak seperti sekarang yang berkotak-kotak melalui pemekaran.

Diskusi seputar hipere Selesai. perempuan lulusan Sanata Dharma ini langsung ajak saya ke kebunnya. Dia tunjukkan tanah yang ditumpuk dan beberapa tumpukan tanah lagi yang di tanam hipirika ( daun dan batang ubi) dan sebagiannya sudah penuh dengan dedaunan ubi yang kemarinya sudah dibersihkan.

Dia potong beberapa batang ubi sebagai bibit untuk saya tanam. Dia ajar saya tentang buat tumpukan tanah hingga cara tanam. Itulah materi pertama pada bulan lalu.

Materi kedua, dia berikan kemarin tentang cara rawat. Dan itu diberikan setalah bibit yang diberikan itu telah saya tanam dan sekarang masuk pada proses rawat. Mulai dari bersihkan rumput hingga penggemburan tanah dan pemanfaatan batang dan daun yang panjang sebagai sayur dan makanan babi. Dan setelah selesai penyampaian, dia panen ubi untuk saya. Sungguh, ubinya sangat besar (seperti foto dibawah ini).

Perempuan yang juga guru Agama di salah satu SMA di Jayapura ini bilang lagi “ada satu cara lagi yang belum bisa saya sampaikan sekarang dan saya juga tra bisa bahasakan sekarang sehingga kita akan ke kebun kamu untuk selesaikan tahapan itu” dan saya mengiyakanya.

Kali ini tong akhiri sampe disini dolo. Untuk materi selanjutnya Saya belum bisa pastikan kapan dia ajar. Yah, saya sesuaikan dengan waktu yang ditentukan dari kawan hebat ini.

Kata penutup untuk catatan ini bahwa ” kenapa di Papua trada Sekolah berkebun?

 

Oleh: Agustinus Kadepa, aktivis pendidikan Papua dan pengagas komunitas Gerakan Papua Mengajar (GPM) di Jayapura. 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: