Bagian pertama – Pendidikan ala kebun

 

17 September 2017

 

Kemarin, saya dan kawan saya ke kebunnya. Kawan ini pulang dari Jogja setelah menyelesaikan pendidikannya. Kami ke kebunnya untuk ambil bibit hipere, rica, kunyit, gedi, pepaya, dan pisang untuk tanam di kebun baru saya.

Kami ke kebun sambil cerita, cerita tentang bagaimana berkebun, apalagi kebun besar yang dibuat satu kampung, pantangan saat buat kebun, hal yang diperhatikan sebelum kebun dibuat, dampak yang terjadi jika mengindahkan hal hal tersebut.

Kawan ini menceritakan kasus yang terjadi di kampungnya. Hanya karena lihat kekayaan yang dimiliki setelah menduduki jabatan dalam birokrasi pemerintah mendorong mereka untuk buka kebun baru tanpa persetujuan dari yang dipandang layak dari sisi adat dan seluruh penghuni kampung. Akibatnya semua yang berkerja terkena luka, ada yang matanya membuta, dan lainnya. Dan akhirnya mereka panggil orang yang dilayakan itu lalu meminta maaf dan dia mengizinkan untuk buat kebunnya. Hasilnya, membuat heboh di kota kawan ini berasal.

Sampai di kebunnya, dia tanam banyak jenis tanaman. dari semua itu, saya jadi penasaran dengan cara dia tanam hipere, karena cara tanam hipere berbeda dgn cara tatam didaerah saya.

Saya tanya cara tanam dan dengan senangnya dia beritahu Sambil ambil Batang hipere sebagai bibit untuk saya, kawan ini mulai jelaskan bagaimana kelola tanah, hingga cara tanam. Dia juga ajar bagaimana pemeliharaan hipere hingga panen. Pokoknya lengkap sdh. sebenarnya, alumni kampus Sanata darma ini bersedia untuk ajarkan langsung di kebun saya, hanya saja Trada kesempatan membuat saya batalkan kerelaan kawan saya ini.

Saya bersyukur jumpa kawan satu ini, dia ajar dan memberi saya hidup, ilmu tentang hidup secara praktis dan gratis dan langsung di lapangan.

Bagi saya, ini model pendidikan untuk hidup meski semuanya dipandang muatan lokal oleh sekolah formal yang akhirnya sebagian pelajar berorientasi untuk sekolah luar Papua dan luar negeri.

Didukung juga oleh pemerintah dengan program 1000 doktor. Melalui program ini banyak yang pergi kuliah dan ada yang sudah pulang setelah selesai kuliah.

Maaf, meskipun sudah begitu tapi macam Trada warna yang diberikan, ada yang masih nganggur setelah selesai di luar Papua dan luar negeri. masih banyak persoalan terjadi dan macam tong tra rasa dampak dari ilmu yang diterima disana. Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bermaksud mendiskreditkan kawan kawan yang kuliah diluar Papua dan luar negeri tapi ini saya tulis hanya karena merasa kehilangan identitas kepapuaan. ilmu yang tong terima disana, tong agungkan dong disana dan akhirnya menjadi jengkel dengan diri Kita hanya karena pembelajaran kita disana.

Dalam sebuah diskusi kecil bersama Ibiroma Wamla, dkk, Pace satu ni bilang begini: ” dari pada banyak uang digunakan untuk kirim mahasiswa keluar Papua dan mempelajari budaya, ilmu, dll yang konteksnya diambil dari daerah tsb, kenapa pemerintah tidak kontrak prof dan doktor untuk mengajar di universitas yang ada di Papua? Supaya pengetahuannya tersalur pada seluruh mahasiswa dan tahu persoalan dan ada solusi yang diberikan secara ilmiah untuk dientaskan.

Saya sepakat dengan konsep kawan Kurniawan Patma dan mungkin konsep ini bisa menjadi alternatif untuk bangun Papua. konsepnya adalah ATM (Ambil, Tiru dan Modifikasi).

 

Oleh: Agustinus Kadepa, Aktifis Pendidikan Papua juga ketua Gerakan Papua Mengajar (GPM) di Jayapura, Papua.

 

Tinggalkan Balasan