Kesetiaan cinta seorang Pria

 

Di awal bulanJanuari adalah bulan pertama dalam setahun, matahari mulai tampak di ufuk timur ketika aku berjalan di sepanjang jalan yang masih sepi, di saat itu yang terdengar di telingaku hanyalah kicauan burung yang bersaut sautan membangunkan setiap insan yang hidup di muka bumi ini. Langkahku terhenti ketika aku melihat sekelompok burung-burung yang berterbangan di langit .membentuk satu kolaborasi yang begitu unik, sesaat aku terjatuh dalam khayalan yang membuat pikiranku melayang membayangi betapa indahnya dunia ini dengan hadirnya mereka, di saat yang bersamaan itu pula aku berharap jika aku memiliki sayap, pastilah aku akan terbang bersama mereka melintasi jagat raya ini.

” Aduh….. aku tersadar dari khayalanku ketika ada suara sapaan yang terdengar di telingaku.

Di saat itu aku sadar  kalau aku sedang berada di jalan. Ketika aku berpaling ke arah datangnya suara itu, aku menjadi sangat gugup. Sosok itu membuat aku tidak dapat bergerak, aku terdiam dan aku hanya dapat menatapnya, di saat yang bersamaan itu pula hatiku merasakan gejolak yang tak bisa ku hentikan seakan aku bermimpi bertemu dengan dirinya. Sekian tahun aku berpisah dengan dia dan tanpa aku menyadari kalau aku akan bertemu dirinya lagi. Ketika aku menatapnya dia  hanya tersenyum padaku dan senyuman itu membuat hatiku  gerah, karena saking kangen dengan dirinya, aku tidak menyadari pipiku ini sudah dibasahi dengan air mataku, aku tidak dapat menahan air mataku itu, karena sudah sangat lama aku tidak berjumpa dengan dirinya. Dia menghampiriku dan memelukku, dan  berkata padaku…..

Hai……..  sayang!!!

Apa kabar ,?

Di saat itu aku tidak dapat berkata-kata aku hanya berdiam diri, air mataku pun terus mengalir di pipiku. Aku berusaha agar aku tetap tegar, kalau semua ini memang benar-benar terjadi. Aku hendak berkata kalau aku baik-baik saja namun aku tak kuasa mengatakan hal itu, aku terdiam beberapa menit dan berusaha menenangkan pikiranku dan akhirnya aku berusaha  untuk berbicara padanya,

Aku baik baik saja, bagaimana denganmu ?, kataku.

Aku baik baik saja, sama juga dengan dirimu “katanya sambil mengenggam tanganku.

Tanpa aku sadari, waktu pun terus berjalan dan matahari pun sudah mulai nampak di ufuk timur. Nampak juga beberapa orang yang terlihat sudah mulai melakukan aktifitas mereka masing-masing, tanpa banyak membuang waktu aku segera ingin meninggalkannya. Namun aku masih mencari alasan yang tepat agar ia juga bisa menerima alasanku.

“Hmm,,,,,, maaf aku ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan, jadi aku harus segera pulang,” kataku sambil melepaskan tanganku dari tangannya pria yang sangat ku cintai itu.

disaat ku hendak melangkah Ia menahan tanganku, dan berkata;

”Seperti itukah dirmu yang sebenarnya, aku berharap kau akan menemaniku untuk beberapa menit ini bersamaku.”

Aku terdiam sesaat mencari jawaban yang pas untuk ku jawab; “Maaf aku sibuk dan aku tidak punya banyak waktu untuk bercerita denganmu.”

Sesibuk apakah dirimu?, tidak kah kau merindukanku?, kata Dia yang tak ingin aku pergi meningalkannya.

Pertanyaan itu membuat hatiku tidak dapat menahan dahaga yang seakan membuat diriku ingin berteriak sekuat mungkin, namun aku berusaha menahan perasaan itu walaupun berat rasanya buat aku, dan aku berusaha menjawab pertanyaan itu walaupun berat rasanya untuk mengatakan hal itu.

“Aku sama sekali tidak merindukanmu,” kataku dengan suaraku terdengar gemetar.

diapun berkata,” jika memang kau tidak merindukanku, mengapa tadi kau meneteskan air matamu didepanku? Itukah  yang kau maksudkan kalau kau sama sekali tidak merindukanku.???

Disaat itu bibirku tak manpu berkata kata, aku berusaha menghindari pertanyaan itu dengan melepaskan tangannya yang masih menggenggam tanganku, akupun segera berlalu meninggalkannya.

Sesampai dirumah akupun langsung membentangkan tubuhku di atas kasur kamarku, aku membayangi semua yang baru saja terjadi itu, pertemuan itu hanya membuatku mengingat semua masa laluku dengannya dirinya. Tapi kenapa di saat yang seperti ini barulah kau datang lagi ke dalam kehidupanku, belum puaskah kau dengan wanita yang kau pilih  itu, belum cukupkah pengorbananku pada dirimu?. Semua itu membuatku bingung, tapi itulah hidup yang harus aku lalui, kadang ada suka, ada duka, ada tawa, dan ada tangis. Namun aku tetap berusaha untuk tetap tegar dan menganggap semua kejadian yang terjadi itu seolah-olah tidak pernah terjadi.

Seketika aku  menatap setiap sudut dinding kamarku tanpa aku sadari aku melihat sebuah kertas putih yang terpampang di dinding kamarku yang memang sudah tidak lazim lagi aku lihat.

Adu,,,,, kataku.

Aku baru menyadari kalau aku ada janji dengan sahabat-sahabatku aku segera meninggalkan tempat tidurku dan bergegas ke kamar mandi untuk mandi, lima belas menit kemudian akupun keluar dari kamar mandi dan menuju ke kamar untuk menyiapkan diriku dan segala keperluanku untuk di bawah. Sebelum aku meninggalkan rumah aku segera pamit ke temanku, karena aku tinggal bersama temanku “Melan”.

Sayang aku ada janji dengan teman-teman sekolahku ni….” kataku.

“ iya sayang hati-hati ya…” Ia hati-hati jawabnya.

“ terimah kasih sayang sampai jumpa.“ Akupun membalas jawabanya dengan senyuman.

Melan  : “iya  sayang.“

Sesaat kemudian aku berlalu dari hadapan Melan, karena saking terburu-buru aku lupa membawa hendphoneku, aku menyadari hal itu ketika aku sudah berada di dalam taxi angkutan. Tiga puluh menit berlalu aku tiba di tempat tujuanku, di sana ada Rivel, Kheni, Devalen,Titin, dan Silvia. seturunnya aku dari dalam taxi angkutan teman-temanku langsung menyapaku.

Kheni, “ hai mat pagi thina,…

“ iya selamat pagi juga semuanya maaf yah aku terlambat,” kataku.

Di saat itu kami semua terkejut ketika melihat Titin yang keluar dari sebuah Toko  yang letaknya tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Kami semua tertawa karena Titin memaksakan dirinya membawa barang-barang yang begitu banyak dari dalam Toko tersebut, sehingga  beberapa barang terjatuh ke lantai.

Titin : “ tidak lucu  tahu”

Rivel : “ makanya, ajak-ajak kalau ingin beli barang yang banyak seperti ini,…”

Titin  : “ iya-iya tapi bantuin dong jangan hanya lihat aja.”

Aku hanya tersenyum melihat Titin dan Rivel yang salin  beradu mulut dengan barang belanjaanya Titin. Aku berfikir dalam hatiku, aku sangat bahagia memiliki teman-teman seperti mereka yang selalu bersama setiap saat dan saling berbagi.

Tidak lama kemudian kami meninggalkan tempat  di mana awal kami semua berkumpul dan kami segera pergi ke tempat yang biasa menjadi tempat favorit kami. Kami pun mulai melangkah dengan menggunakan angkutan umum.

Disaat dalam perjalanan aku mulai merasa mengantuk, “aaauuuhhhhwwww,,,”. Aku mulai menguap begitupun juga dengan teman temanku. Kami pun tertidur begitu pulas dalam angkutan yang kami tumpangi tersebut. Kami terbangun ketika angkutan yang kami tumpangi itu berhenti, di tempat itu banyak sekali kendaraan yang macet begitu panjang, sehingga membuat kami harus antri untuk mencapai tempat tujuan kami. Entah mengapa hatiku gelisa dan aku penasaran sebenarnya apa yang terjadi di luar sana yang menyebabkan antrian panjang ini, aku segera keluar dari dalam angkutan tersebut dan langsung menuju ketempat dimana orang orang ada berdiri mengerumuni sesuatu yang belum aku ketahui. Aku berusa melihatnya dan ternyata ada kecelakaan, ketika aku melihat sosok tubuh yang tergeletak di jalan tersebut aku kaget, karena aku merasa bahwa sosok itu sangat tidak lazim  lagi bagi diriku,

“Bruukkk,,,,,,,”

aku terjatuh bagaikan pohon yang di tebang, disaat itu aku tidak sadarkan diriku, kelima temanku sangat kanget dan terkejut ketika melihat aku terjatuh, meraka segera berlari mendapatkanku dan membawaku ke tempat peristirahatan yang letaknya tidak jauh dari jalan. Tidak lama kemudian aku siuman, ketika itu yang teringat di kepalaku hanyalah nama Alfin.

Alfin…. Alfin..,”kataku hendak mencarinya.”

Ternyata petugas ambulan telah membawanya ke rumah sakit, agar segera di berikan pertolongan pertama. Aku dan teman temanku segera menyusulnya ke  rumah sakit. Berselang beberapa menit aku dan teman temanku tiba di rumah sakit, ketika kami masuk, kami segera bertanya kepada para medis yang bertugas dan mereka memberitahukan kepada kami kalau Alfin sedang di rawat di UGD (Unit Gawat Darurat). Setalah mendapatkan informasi tersebut , aku dan sahabat sahabatku segera menemuinya. Ketika aku melihatnya, entah mengapa aku tidak dapat berkata apa apa, dan kakiku pun sulit untuk melangkah seakan ada beban yang menahan kakiku, namun aku tetap berusaha agar aku tetap tegar. Ketika aku mendapatinya terbaring dengan kondisi tubuh yang begitu parah. seakan membuat hatiku tidak dapat menahan dahaga, sehingga air mataku menetes membasahi pipiku bahkan aku terus menangis.

Tiga jam pun berlalu, Alfin belum juga siuman. Kondisinya semakin bertambah parah. Para Dokter sudah berusaha dengan melakukan segala tindakan dan cara namun sampai detik ini, belum juga Ia sadarkan dirinya. Melihat kondisi Alfin seperti itu, aku merasa bersalah pada diriku sendiri, karena aku belum bisa menjaganya dengan baik. Disaat seperti itu teman temanku terus menemaniku dan menenangkanku dengan memberikan saran untuk diriku agar bersikap tenang.

“kamu yang sabar ya”. Kata Melan padaku.

Titin: Iya, kamu harus kuat menghadapi semua ini dan kami tidak bisa membantumu, namun kami hanya bisa berdoa smoga Alfin dapat pulih kembali.

Aku tidak dapat berkata apa apa, namun aku hanya bisa menangis dan memeluk teman temanku dan berkata, terima kasih untuk semua yang telah kalian lakukan untukku, karena ini semua sudah lebih dari cukup buatku.

Rossa… rossa….. rossa….,

aku mendengar ada yang memanggil namaku, ketika aku berbalik ternyata itu suara Alfin, aku sangat bahagia ketika melihatnya siuman kembali, aku segera mendapatkannya dan aku merangkul tangannya ,,

“syukurlah sayang, kamu sudah siuman, kataku sambil menggenggam tangannya.

Ia hanya tersenyum melihatku, bahkan Ia belum dapat berbicara karena kondisinya yang belum stabil dengan baik. Dalam hatiku berfikir kalau dia sudah baik baik saja, namun keadaannya malah bertambah parah. Aku hanya dapat berdoa dalam hatiku agar Dia dapat kembali pulih, aku menatapnya serta berdoa dalam hatiku, ”Tuhan ku mohon sembuhkanlah Dia untuk ku, karna aku sangat mencintainya, aku tidak dapat hidup tanpa dia.”

Detik demi detik berlalu, matahari mulai memerah di sebelah barat, bertanda kalau senja telah tiba, Aku teringat akan teman temanku.

“Maaf, aku sudah merepotkan kalian,” kataku.

Devalen : “tidak mengapa sayang, kau kan sahabat kami Rossa,”

Terima kasih, karena kalian masih mau menemaniku,” jawabku sambil memelik mereka.

Silvia : tidak perlu sungkan-sungkan kepada kami, anggap saja kami keluargamu Rossa.

Teman-temanku terus menemaniku hingga malam tiba, tidak terasa waktu terus berputar, hingga pada pukul 19.45 malam, terdengar bunyi yang sangat tidak lazim lagi kami dengarkan, aku segera berlari melihat Alfin dan pada saat itu keadaan Alfin sudah tidak berdaya lagi.

Tit……tit….tit….

“Dokter…dokter…” kataku sambil berteriak meminta tolong.

Dokter segera datang dan mengambil tindakan untuk menyelamatkan Alfin, namun apa artinya jika semuanya sudah terlambat, dokter hanya berkata, “maaf kami sudah berusaha semampu kami namun kami tidak dapat menolongnya.” ketika mendengar penjelasan dokter seperti itu aku menarik nafasku, aku bingung, kecewa, sedih, semua perasaanku menjadi satu membuat diriku tidak berdaya. langka demi langka aku berjalan mendekati Alfin ketika aku melihat wajahnya,

Tidak… tidak mungkin, Alfin…Alfin…bangun sayang ,  buka matamu,aku masih disini…. Tidak dokter ini mustahil,

A……….L……F……..I………N…..!!!!!!, “teriak ku.”

Aku merasa benci pada diriku sendiri, kenapa aku tidak menjaganya dengan baik, hingga akhirnya seperti begini. Aku terjatuh ke lantai dan tubuhku sudah tidak dapat di gerakkan lagi. Aku merasa ada salah satu dari anggota tubuhku yang hilang, yang mengakibatkan tubuhku lemas tidak berdaya. Teman-temanku terus berusaha menenangkan aku, Mereka turut bersedih melihat semua ini, pada saat kami sedang menangis datang seorang suster dengan membawa beberapa barang barang milik Alfin dan suster menyerahkan barang barang itu padaku, ketika aku membuka dompetnya ternyata ada sebuah kertas dan aku segera membukannya. Kertas putih tersebut  penuh dengan tulisan yang indah, aku segera membacanya. Ketika aku mulai membacanya aku melihat kapan Alfin menulis surat itu, ternyata Alfin baru saja menulisnya di saat pagi hari tadi.

“Awal aku berjumpa dengan dirimu, dalam perjalanan di pagi hari itu,

Rasa cinta ini sudah lama ada, namun aku tidak dapat mengungkapkannya, mungkin karna statusku sehingga kau jauhi aku dan kau ingkari aku,

Walaupun kita tidak dapat hidup bersama, namun cinta ku tetap untukmu dan cintaku ini akan abadi selamanya.

Sampai kapan pun, aku akan tetap mencintaimu, biarlah pertemuanku dengan mu itu, aku harap itu bukan pertemuan yang terakhir,  karena pertemuan itu membawa sejuta kenangan yang indah bersama dirimu.

Aku cinta padamu”

Alfin

Setelah aku selesai membaca tulisan itu, aku tidak sadarkan diriku, beberapa menit kemudian aku tersadar dan ketika aku ingin melihat Alfin, dia sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi yang dapat aku lakukan selain berkata, “aku sayang kamu Alfin, tidak ada kata kata yang indah hanyalah selamat jalan kasihku, doaku akan selalu buatmu, karena kaulah kekasih hatiku yang selalu membuatku bahagia”.

Seminggu berlalu namun kenangan indah bersama Dia selalu membayangiku. Aku sadar bahwa dialah yang terbaik untukku, namun aku telah melakukan satu kesalahan yang begitu besar yang selalu membuat diri ini seharusnya tidak bertemu denganmu, dan tidak ada lagi satu orang pun yang dapat menggantikan dirinya di hatiku.

 

     ====== TAMAT =====

 

Oleh: Paulina Pabika.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Muhammadiyah Yayapura, Papua. Konsentrasi Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan