Sikap Arogan TNI/Polri di Intan Jaya membuat trauma masyarakat

Jayapura, nirmeke.com – Komunitas Mahasiswa Independent Somatua Intan Jaya (KOMISI SOMATUA) kota studi Jayapura menilai pihak keamanan TNI/Polri di kabupaten Intan Jaya menjadi aktor permasalahan di tenggah masyarakat terbukti dengan pembunuhan, penembakan, pemerasan, pemerkosaan, pencurian dan pengerusakan aset-aset milik warga dan pemerintah daerah.

Kalesmus Bagau sekretaris Komisi Somatua kepada wartawan mengatakan sesuai dengan dasar hukum UU RI nomor 2 Tahun 2002 tentang kepolisian seharusnya fungsi kepolisian melakukan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat namun sangat terbalik dengan apa yang di lakukan pihak kepolisian di dua Polsek kabupaten Intan Jaya.

“Buktinya, membiarkan masyarakat bentrok depan mereka, di duga juga melakukan pemerkosaan terhadap ibu-ibu ada 4 orang dan jug terhadap seorang ibu dokter yang bertugas di Puskesmas oleh Brimob,” katanya.

Lanjutnya, tidak hanya itu, mereka juga melakukan pengerusakan dan mencuri fasilitas kantor serta membongkar kolam ikan milik warga di Wagugate milik kepala Desa Yokatapa dan kolam lainnya di kampung dengan alasan melakukan penyisiran.

“Mereka juga (keamanan) membunuh hewan ternak milik warga baik babi dan ayam di setiap kampung yang mereka lalui dan mereka beralasan bahwa Pemkab Intan Jaya tidak pernah memfasilitasi mereka selama bertugas di sana,” katanya.

Hal yang sama juga di katakan Hans Baguba. Ia mengatakan kehadiran dan pihak TNI/Polri ini sangat membuat masyarakat Intan Jaya sangat trauma dan tidak nyaman untuk beraktifitas. Kehadiran pihak keamanan selama 3 tahun belakangan ini sangat meresahkan masyarakat setempat.

“Kehadiran mereka (pihak keamanan) hanya menanamkan bibit permasalahan di Intan Jaya terutama 2 Polsek belum lagi mereka membangun Polres pasti masyarakat merasa tertekan dengan trauma kejadian sebelumnya,” katanya.

Lanjutnya, saat masyarakat menolak memberikan barang mereka yang di ambil secara paksa, pihak keamanan menodongkan senjata dan pistol ke muka warga sehingga mereka tidak berani melawan dan merelakan barangnya di ambil sepihak, tanpa berbuat apa-apa. (*)

 

Editor  : Admin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: