Effect Piala Dunia dan Pilkada serentak

PIALA DUNIA EFFECT DAN PILKADA SERENTAK

(Oleh: Kurniawan Patma*)

PROLOG

“World Cup is not just an art of kicking the ball, pitting strategy and winning. It is an amazing masterpiece of art that sucks and unifies the attention and spirit of all human in the world-as if their goal of life is to be part of the world cup”(Vladimir Putin) 

Kalimat dari seorang tokoh dunia yang adalah Presiden dari Rusia di atas adalah sebuah bentuk legitimasi bagaimana daya tarik magnetis dari pagelaran akbar piala dunia sangatlah luar biasa. Dia mengatakan bahwa: “Piala dunia bukan sekedar seni menendang bola, mengadu strategi dan menang. Piala dunia adalah sebuah mahakarya seni yang menyedot dan menyatukan perhatian serta semangat semua manusia di dunia-seakan tujuan mereka hidup adalah menjadi bagian dari piala dunia”

Piala dunia FIFA 2018 kali ini diadakan di Rusia dan tercatat sebagai piala dunia ke-21. Sebagai mahakarya yang menyajikan turnamen sepak bola secara internasional, tidak dapat dipungkiri keberadaannya dari tanggal 14 Juni-15 Juli 2018 mendatang akan memberikan dampak bagi kehidupan pribadi, komunitas bahkan agenda bersama. Salah satunya adalah agenda nasional, pagelaran pilkada serentak yang rencananya akan dilaksanakan besok pada 27 Juni 2018.

PIALA DUNIA: SILENCER TENSI POLITIK

Pilkada serentak yang akan diikuti oleh 171 daerah di seluruh Indonesia tentunya akan menjadi pesta demokrasi yang sarat dengan manuver manuver politik yang akan menciptakan tensi panas. Kita bisa mengambil contoh pilgub di Papua-dengan seksama kita bisa menelusuri bagaimana atmosfer yang disajikan pra kontestasi kian hari memanas, karena manuver politik dari masing-masing pendukung.

Perang narasi dalam wujud yang varian, mulai dari narasi yang mengedukasi sampai pada narasi destruktif pun gencar dilakoni lewat media. Hoax dan hatespeech sepertinya menjadi amunisi ampuh untuk menjatuhkan lawan dan semakin memperkeruh suasana.

Namun kemunculan Piala Dunia seakan membawa angin segar untuk sedikit meredam tensi yang panas tersebut. Walau keberadaanya tidak akan berkelanjutan dan hanya memberikan dampak yang temporer, namun hal yang perlu dipetik adalah intensitas para pendukung masing masing calon gubernur untuk saling menyerang di media sosial menurun drastis.

Piala dunia secara temporer telah menyedot perhatian para pendukung masing masing calon gubernur. Mereka sementara menanggalkan baju, bendera dan atribut partai dan digantikan dengan atribut bendera negara pada ajang piala dunia yang difavoritkan. Mereka bisa saja berbeda partai dan berbeda calon gubernur yang didukung namun bisa dipersatukan dalam kesamaan negara favorit di piala dunia-inilah the world cup effect yang bisa menjadi silencer atau peredam tensi.

INTEGRASI PESAN-PESAN TERSIRAT PIALA DUNIA DALAM PILKADA

Dalam wawancara bersama majalah Times¸Pele-salah satu legenda sepak bola yang berhasil membawa Negara Brasil menjuarai piala dunia sebanyak tiga kali pernah berkata: “Jangan melihat piala dunia dari sudut pandang yang kerdil dengan hanya melihatnya sebagai ajang olahraga. Piala dunia selalu menyisahkan dan menyelipkan pesan moral dan pesan damai-dan sebagai penikmat piala dunia, kita harusya memiliki sensitivitas untuk menangkap pesan pesan itu”

Piala Dunia FIFA 2018 yang sedang bergulir untuk memperebutkan tiket menunu 16 besar tentu telah mengisahkan banyak kisah kisah unik dan menguras emosi. Mari belajar dari kalimat seorang legenda sepak bola, Pele yang menantang kita agar bisa menjadi penikmat piala dunia yang peka dengan pesan moral yang tersirat dalam tiap laga. Hal ini pun kita bisa adopsi menyongsong pesta demokrasi Pemilhan Kepala Daerah.

Argentina vs Croasia

Argentina adalah salah satu tim raksasa yang masuk sebagai tim favorit calon kuat juara Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia. Namun siapa sangka pertemuannya dengan tim Kroasia pada laga penyisihan Grup D di Stadion Nizhny Novgorod, Kamis (21/6/2018) yang oleh beberapa pengamat dimasukkan dalam kategori underdog malah bisa mengalahkan tim Argentina secara telak tanpa balas.

Hal ini memberikan kita pesan bahwa don’t judge the book by it’s cover (jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya). Kontestasi pesta demokrasi pun bisa menyuguhkan kompetisi kompetisi yang tidak terprediksi sebelumnya. Para calon kepala daerah yang tidak dijagokan dan tidak diperhitungkan oleh lawan politik bisa saja menjadi pemenang sejati karena ada sentuhan sentuhan positif tertentu yang selama ini telah diinvestasi dan ditanam seperti prestasi kerja dan lain sebagainya. Hal ini kemudian menjadi stimulus positif untuk dirinya, timnya dan masyarakat untuk bisa memilihnya menjadi yang terbaik dan menjadi pemenang.

Brasil vs Kostarika

Salah satu laga yang juga paling menguras emosi adalah laga di Saint Petersburg Stadium, Saint Petersburg, Jumat (22/6/2018) yang mempertemukan antara tim samba, Brasil dan tim los ticos, Kostarika. Peluang demi peluang tercipta oleh tim samba namun tak ada satupun yang berhasil dikonversi menjadi gol sampai pada menit normal berjalan. Gol baru bisa tercipta di menit tambahan waktu.

Hal ini memberikan kita pesan bahwa apapun bisa dilakukan oleh para lawan politik secara intens, masiv dan tak kenal lelah untuk mencapai sesuatu bahkan di menit menit akhir pertandingan. Gerakan yang selama ini disebut serangan fajar bisa saja menjadi amunisi yang dalam kontestasi pesta demokrasi kali ini.

Namun hal yang menjadi pesan utama dari laga ini adalah orang yang concern memberikan tenaga dan menunjukkan semangat positif akan menjadi man of the match walaupun pada akhirnya bisa kalah.

Kiper dari Kostarika, Keylor Nafas menjadi man of the match dan mendapat simpati bahkan empati dari lawan-lawannya. Hal ini terbukti dari beberapa pemain dari tim samba memberikan salam sembari mengacungkan jempol pada sang kiper di laga akhir.

Hal ini pun sekiranya memberikan pesan damai bahwa kalah dan menang adalah hal yang biasa dalam kontestasi. Berbesar hati menerima kekalahan-yang penting sudah memberikan yang terbaik dengan cara yang bersih akan menjadi nilai tambah bagi kita dan menjadikan kita sebagai man of the match.

EPILOG

Mari menjadikan ajang piala dunia sebagai forum untuk menyebarkan stimulus positif yang berekelanjutan bagi sesama. Bagaimanapun hanya akan ada satu pemenang, menang dan kalah hal yang biasa dan akan mendewasakan selama kita menjadikannya bahan reflektif.

Selamat menikmati perhelatan akbar Piala Dunia FIFA 2018 dan jangan hanya memberikan suara saat tim kebanggan berlaga namun juga harus memberikan suara saat perhelatan pesta demokrasi besok pada tanggal 27 Juni 2018.

Mari menjadi pemilih yang terlibat demi kebaikan bersama. Salam PAPEDA (Papua Penuh Damai).

 

 

*Penulis adalah aktivis pemerhati pendidikan sebagai volunteer di Gerakan Papua Mengajar serta aktivis yang concern bersuara dan turun lapangan terkait krisis ekologi sosial dan budaya pada Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: