Kopkedat Papua kirim petugas kesehatan ke Brukmahkot Korowai

Jayapura, nirmeke.com Kampung Brukmahkot dengan jumlah warga sekitar 23 Kepala Keluarga (KK) dan sebagian anak mudah masih mendiami tempat terasebut dan ada juga warga yang tersebar di dusun-dusun, mereka seakan terabaikan dari perkembangan kota dan terkadang pemerintah juga mengabaikan mereka belakang ini terlihat dengan kondisi kesehatan dan pendidikan mereka yang tidak tersentuh seperti di daerah lain Papua.

Salah satu warga Kampung Brukmahkot, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Yohanes Bongkatun, mengatakan hal yang sama. Pelayanan kesehatan dan pendidikan tidak diperhatikan di wilayahnya.

“Ada obat yang dikirim ke Brukmahkot tapi tidak ada petugas yang melayani. Sehingga tidak digunakan, malah ada yang dibuang begitu saja,” katanya.

Sementara itu Nataber Alia, penginjil di Kampung Burukmahkot mengatakan sejak 17 tahun terakhir, tidak ada petugas kesehatan yang datang melayani masyarakat, meskipun sudah dibangun Pustu.

“Namun sampai saat ini Dinkes Kabupaten Yahukimo belum kirim petugas. Padahal di sini sudah dibangun dua rumah untuk petugas tapi tidak ada yang bertugas,” katanya.

Dari keluhan ke keluhan ini, Kopkedat Papua bekerja sama dengan  Misionaris Cristian Trevor Jhonson sebagai donator mereka untuk mengirim dua petugas kesehatan di daerah terpencil pedalaman Korowai untuk melayani masyarakat di kampung Brukmakot.

Sejak tanggal 12 Januari 2018 lalu Michael Wambrau bersama istrinya Rosa Wamafma seorang mantri dan bidan ini tiba di kampung Brukmakot, distrik Seradala kabupaten Yahukimo guna membantu pelayanan kesehatan yang di kirim oleh Kopkedat Papua bekerja sama dengan Misionaris Cristian Trevor Jhonson.

Mantri michael bersama istrinya Rosa, sejak tiba di Brukmakot, mereka membantu pelayanan di Pustu Brukmakot yang Hampir tidak aktif sejak 2013 sampai saat ini.

Dengan adanya perawat yang di tempatkan di kampung Brukmakot sangat membantu, dalam sehari Michael mengaku banyak pasien yang datang hampir sekitar belasan orang dalam sehari untuk berobat ke Pustu dengan berbagai macam keluhan sakit dan penyakit lain.

Perawat Michael menerapkan cara untuk setiap pasien yang datang berobat harus mengkonsumsi obat langsung di tempat atas pengawasannya dia, tidak diperbolehkan mereka membawa pulang obat ke rumah karena menurut pengalaman yang sudah terjadi warga membawa obat lalu di rumah mereka tidak minum obat tersebut.

Michael menjelaskan bahwa kasus penyakit  yang banyak di derita masyarakat adalah Malaria, Diare,TB Paru, Hispa, Skabies  juga Gizi buruk dan anak-anak usia 6-5 Tahun belum cukup asupan Gizi.

Berikut obat-obatan di Pustu kata Michael saat ini mengunakan obat-obat yang masih ada di Pustu itu dan sebagian obat sudah mencapai Ekspair pada bulan lima dan bulan delapan, maka dia harus musnakan obat-obat tersebut.

“Kami dari Kopkedat juga bersama Misionaris Cristian Trevor Jhonson di Korowai Danowage ada berusaha untuk pengadaan obat-obatan untuk di Pustu Brukmakot,” ujarnya.

Sejak tanggal 29 Maret 2018, kami mendapatkan satu paket obat-obatan yang dikirim oleh Misionaris Trevor Jhonson dengan mengunakan Helivida ke Pos Brukmakot Korowai Batu dari  Danowage.

“Kiriman itu ada juga susu buat Balita dan kacang Hijau. Saya bersama istri akan membuat bubur kacang untuk di bagikan kepada bayi-bayi di kampung Brukmakot serta pemberian susu SGM buat bayi dan beberapa waktu lalu kami sudah nemberikan obat kombantrin buat anak-anak dan kami akan berikan lagi setiap enam bulan sekali,” ujarnya.

Yan Akobiarek, ketua Kopkedat Papua mengatakan Kopkedat Papua dan Misionaris bukan membawa alih pekekerjaan pemerintah untuk bekerja tetapi ini merupakan tangung jawab semua orang yang peduli terhadap sesama.

“Kami tidak bisa tingal diam melihat penderitaan masyarakat kami di pos-pos terpencil mereka saat ini dalam keadaan sakit bahkan berujung pada kematian maka kami harus bertindak untuk menyelamatkan mereka,”  kata Akobiarek.

Sebelumnya mantan Gubernur Papua, Lukas Enembe, yang berkunjung pada masa jabatanya pada Senin, 23 Oktober 2018 ke Danowage, Korowai Batu, meminta kepada Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Provinsi Papua, secara optimal menangani masalah pendidikan dan kesehatan di Korowai, sebab Korowai adalah suku terasing yang terakhir di Papua.

Ia mengatakan, dengan adanya bandara baru, Korowai Batu, di Danowage, diharapkan akses pelayanan pendidikan dan kesehatan jauh lebih baik.

“Saya harap jenis-jenis penyakit apa pun yang diderita masyarakat Korowai, harus ditangani serius oleh Dinas Kesehatan. Korowai harus jadi prioritas,” tegasnya.

Enembe berharap dengan dikirimnya tim kesehatan dari provinsi selama sepekan, dapat menangani apa saja keluhan penyakit masyarakat Korowai.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Papua, dr. Aloisius Giyai, berharap selama sepekan di Korowai, masyarakat dan tim kesehatan dapat bekerja-sama, sama halnya yang terjalin selama ini antara masyarakat dan misionaris Pdt. Trevor di Danowage.

“Kami bersama Kementerian Kesehatan, berkoordinasi dengan dinas terkait di empat kabupaten, di antaranya Dinas Kesehatan Boven Digoel, Asmat, Yahukimo dan Mappi. Yang paling utama melakukan pendataan status kesehatan masyarakat Korowai dari rumah ke rumah,” katanya.

Usai melakukan pendataan dan pelayanan kesehatan rombongan Kementrian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan provinsi Papua membuat 44 rekomendasi untuk Korowai dalam bidang Kesehatan dan Pendidikan. Dinkes berjanji awal tahun 2018 akan mengirim tim kaki telanjang untuk melakukan pelayanan di setiap kampung yang sudah ada Pustu maksimal dua petugas namun hingga saat ini hal tersebut belum juga terealisasi.(*)

Editor  : Admin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: