Merusak hutan dan ekosistem, Papua akan kehilangan sumber air bersih

 

Jayapura, nirmeke.com  Setiap 22 maret selalu dirayaka sebagai hari Air Se Dunia atau dalam bahasa inggris adalah World day For Water.perayaan ini penting dan dijutukan agar publik merasa peduli akan air bersih. Hal ini juga memberikan ruang bagi publik menyadari bagaimana mengelola sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan.

Inisiatif peringatan ini pertama kali diumumkan pada sidang umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brazil. meskipun masyarakat adat sudah menyadari makna dari anugerah Tuhan terhadap air bagi kehidupan. pasalnya orang tua di kampung-kampung di Papua selalu mengingatkan agar jangan bermain dan merusak kepala air karena bisa banjir.

Air bisa memberikan kehidupan tetapi bisa memakan korban bilah terjadi banjir bah. sebaliknya krisis air, jelas tumbuhan kering dan tanah picah-picah akibat hujan tak kunjung turun. Afrika selalu jadi simbol krisis air, hingga group band Toto menulis lagu bertitel I bless the rains down in Africa.

Berbeda dengan Asmat, kelebihan air tetapi tak layak untuk di konsumsi sehinggga warga juga berharap hujan turun. sedangkan di danau Sentani kelebihan air danau tetapi sudah tak mungkin lagi di minum karena tercemar.

Oleh karena itu kualitas air sangat tergantung dari lingkungan dan ekosistem di sekitarnya. Jika hutan terjaga dengan baik sudah pasti menyimpan dan mengalirkan air jernih dan tak berkeruh. sebaliknya jika ditebang, air keruh dan tak layak dikonsumsi. Jaga hutan air mengalir sampai ke laut. (*)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: