Adil Untuk PerubahanAdil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Tulis judul berita...
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
Reading: Militer Indonesia di tanah Papua
Share
Notification
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
  • Headline
  • Tanah Papua
  • Kesehatan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
  • Artikel
  • Cerpen Papua
  • Pariwisata
  • Editorial
Tulis judul berita...
  • Tanah Papua
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Perempuan & Anak
    • Ekonomi & Bisnis
    • Infrastruktur
    • Lingkungan
    • Olaraga
  • Jendela Papua
    • Kuliner
    • Lensa
    • Pariwisata
    • Travel
    • Seni & Budaya
  • Pena Papua
    • Catatan Aktivis Papua
    • Sastra
    • Cerpen Papua
    • Artikel
    • Siaran Pers
    • Berita Foto
  • Editorial
  • Kerjasama
    • Kabupaten Lanny Jaya
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved.
Adil Untuk Perubahan > Militer Indonesia di tanah Papua

Militer Indonesia di tanah Papua

admin
Last updated: November 22, 2018 04:26
By
admin
Byadmin
Follow:
8 years ago
Share
2 Min Read
TNI/Polri saat menjalankan tugas di tanah Papua
SHARE

Iklan Nirmeke

Jayapura, nirmeke.com – Gerakan 1998 berhasil mengulingkan sang diktator Soeharto, namun gagal membendung terkosolidasinya kembali kekuatan militer. Militerisme tetap hidup aman, secara ekonomi maupun politik. Tak heran bila praktek-praktek premanisme juga tumbuh subur di indonesia karena aparat kepolisian, militer, beserta pemerintah, membiarkan keberadaannya.

Tak pernah sanggup tegas menuntaskan kasus-kasus yang melibatkan militer malahan pemerintah turut membiarkan atau membenarkan tindakan-tindakan mereka. Sehingga wajar jika para jenderal pelangar HAM tidak tersentuh oleh hukum namun mereka seleluasa terlibat berpolitik.

Politik militer indonesia di Papua tumbuh subur, semenjak 1967 pemerintah Soeharto memberikan ijin operasi tambang kepada Freeport McMoran. Semenjak itu, militer indonesia terlibat full membekap kepentingan bisnis di Papua. Tahun 1970 transmigasi di datangkan ke Papua, sejak itu militerpun memainkan perannya membangun bisnis di sektor kehutanan.

Mulai perlahan-lahan militer membangun group-group bisnis perusahaan kayu, setelah hutan di babat habis, mereka mengantikan bisnis kayu log, menjadi bisnis kelapa sawit dan tambang. Semua dengan mudah mereka lakukan, dengan kekuatan militer sebagai penjaga bisnis mereka (penjagaan di areal perusahaan), mereka dengan aman membabat jutaan hektar kayu log, ribuan ton Emas, Nikel, Batu Bara di produksi oleh perusahaan mereka.

Demi kepentingan politik bisnis militer, mereka membunuh rakyat Papua. Di stikma dengan Separatis, Makar, Gerakan Penganggu Keamanan (GPK), Gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Teroris, di lontarkan oleh militer bagi rakyat Papua yang menentang dan menghalangi bisnis mereka. Tahun 1977, operasi militer berskala besar di lakukan di daerah pegunungan tenggah rakyat Papua adalah targetnya.

Tahun 1980-an TNI mendeklarasikan Papua sebagai Daerah Operasi Militer atau sering di sebut DOM, akibatnya lebih dari 10.000 orang Papua melarikan diri ke Papua Niew Guinea (PNG), Wasior berdarah, Wamena berdara, penembakan misterius di areal tambang Freeport, kasus Degeo, kasus puncak Jaya adalah bukti nyata aksi politik militer dalam mengamankan bisnis mereka sehingga rakyat Papua menjadi tumbalnya.

Bersambung,….

Related

Gabung Channel Whatsapp

Dapatkan berita terbaru dari Nirmeke.com di Whatsapp kamu
Klik disini untuk bergabung
Dengan anda klik untuk gabung ke channel kami , Anda menyetujui Persyaratan Penggunaan kami dan mengakui praktik data dalam Kebijakan Privasi kami. Anda dapat berhenti mengikuti kapan saja.
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link
Previous Article Periode pertama,  421 Mahasiswa Uncen di wisudakan
Next Article Diskriminasi di tanah Papua, dari konteks rasial, pembangunan hingga pelayanan publik
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terhubung Dengan Media Sosial Kami

1.4kFollowersLike
100FollowersFollow
100FollowersFollow
1kSubscribersSubscribe
300FollowersFollow

Lihat Topik Berita Lain Dari Nirmeke

Iklan dari Nirmeke.com
Ad image

Berita Hangat

Wapres Gibran Kunjungi Pasar Potikelek Wamena, Mama-Mama Papua Sampaikan Aspirasi Modal hingga Keamanan
Ekonomi & Bisnis Infrastruktur
1 day ago
Simbol Sakral Bukan Kostum Politik
Artikel Catatan Aktivis Papua
1 day ago
GPMR-I Tuntut Bupati Intan Jaya Temui Massa Aksi, Soroti Krisis Kemanusiaan dan Darurat Militer
Polhukam Siaran Pers Tanah Papua
2 days ago
Relawan Rampai Nusantara Papua Minta Wapres Gibran Buka Kembali Penerbangan Internasional Bandara Biak
Infrastruktur Tanah Papua
2 days ago
Adil Untuk PerubahanAdil Untuk Perubahan
Follow US
© 2025 Nirmeke. Design by Team IT Nirmeke. All Rights Reserved. Develop By Loteng Kreatif.
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Iklan
  • Jasa Buat Website
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?