Soal nama jembatan Holtecamp, Soekarno memiliki catatan pelanggaran HAM di Papua 

 Jayapuranirmeke.com – Merasa tidak melibatkan masyarakat adat Port Numbay dalam pengambil keputusan penentuan nama jembatan Hamadi Holtekamp, Wali Kota Jayapura diminta  untuk mempertimbangkan kembali keputusan untuk memberi nama jembatan itu menjadi Soekarnopura.

Hal ini dikatakan Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay George Awi kepada wartawan. Sabtu, (17/03/2018).

Menurutnya pemberian nama Soekarnopura sangatlah tidak tepat bagi masyarakat Port Numbay dan Papua karena Soekarno memiliki catatan pelanggaran HAM sebelum negara ini diintegrasikan ke Indonesia.

“Apa yang menjadi statement Wali Kota bahwa jembatan itu akan diberi nama Soekarno Putra kami tidak sependapat. Soekarno sudah banyak membunuh orang Papua sehingga kami tidak setuju,” tegas George Awi.

Bahkan ia mengusulkan kenapa tidak saja menggunakan nama Jokowi yang memiliki jasa besar untuk Papua karena beliau adalah presiden Indonesia yang cukup rajin melihat Papua.

“Kenapa tidak jokowi saja, (Nama Jembatan) karena selama ini jokowi menjadi presiden, berkali kali datang  membangun papua dan kami merasakan dampak pembangunan,” ujarnya.

Sebagai seorang pimpinan dalam mengambil keputusan untuk suatu objek pembangun  yang besar dan mengunakan tanah masyarakat adat Kata Awi,  harusnya Wali Kota melibatkan masyarakat adat sebagai pemilik hak hulat untuk mengusulkan nama.

“Kenapa walikota tidak membuka ruang untuk semua komponen masyarakat kita kumpul dan kita diskusikan dan dikaji, Dan ini juga Walikota bertentangan dengan visi misinya karena walikota berbicara tentang kearifan lokal, tapi tidak direalisasikan sehingga masyarakat tidak setuju harus ditarik peryataan itu,” ujar Awi.

Menurut Ketua LMA, untuk menamakan suatu opyek yang begitu besar harus diskusikan bukan wali kota pribadi yang usulkan, sehingga dirinya meminta wali kota jangan menkultisindividukan seseorang.

Ia juga menyangkan Kenapa Walikota tidak menggunakan nama kearifan lokal dari daerahnya sendiri seperti Yotefa, Port Numbay atau yang lainya.

“Kenapa nama lokal ini tidak diangkat menjadi nasional macam Ambon memiliki jembatan Halo, semua orang kenal sehingga nama lokal itu dinasionalkan dan ini kami sangat sesuaikan dengan tindakan walikota, dan  pembangunan jembatan itu menggunakan uang rakyat,” ujarnya.

Sebelumnya Walikota Jayapura Benhur Tomi Mano MM mengusulkan kepada Kemetrian PUPR agar jembatan Hamadi holtekam diberi nama Soekarnopura yang merupakan nama awal kota Jayapura, dalam kunjuganya beberapa waktu lalu di lokasi pembangunan jembatan. (*)

Tinggalkan Balasan