16 tahun penantian, BTM akhirnya resmikan pasar mama-mama Papua

 

Jayapura, nirmeke.com – Benhur Tomi Mano Wali kota Jayapura secara resmi mengunting pita tanda di resmikannya bangunan pasar mama-mama Papua yang selama ini di perjuangkan Solpap 16 tahun lebih bersama mama-mama Papua.

Benhur Tomi Mano dalam sambutannya mengatakan bertepatan dengan Hut kota Jayapura ke-108 Tahun di tempat ini, di atas tanah ini kita akan meresmikan pasar mama-mama Papua.

“Selaku Wali kota Jayapura tak lupa mengucapkan terima kasih kepada presiden RI Joko Widodo yang telah menerima aspirasi mama-mama Papua untuk membangun pasar modern demi meningkatkan sektor ekonomi berbasis kerakyatan di kota ini,” ujarnya.

Tak lupa juga BTM menyampaikan terima kasih kepada gabungan 44 BUMN dan BUMD, Pemerintah provinsi Papua, pusat serta pemilik hak wilayat yang turut serta dalam pembangunan ini.

Dengan diresmikannya pasar mama-mama Papua ini harus di maknai bahwa pemerintah pusat dan daerah senantiasa mengambil kebijakan yang berdasarkan pada kepentingan masyarakat umum,” ujarnya.

Mano menegaskan pedagang pasar harus menjaga gedung ini dengan berperilaku bersih, sehat serta tampil profesional dalam pasar ini. Hal ini tentunya akan memberikan kesan baik kepada para pengunjung dan konsumen sehingga nantinya para konsumen semakin banyak yang datang untuk berbelanja di tempat ini.

“Di pasar yang baru ini stop dengan kegiatan judi, togel, miras yang hanya merusak citra masyarakat Papua khususnya di kota Jayapura,” ujarnya.

Sementara itu Robert Awi, Kadis Perindagkop Kota Jayapura  dalam sambutannya mengatakan pasar mama-mama Papua di bangun oleh kontraktor BUMN dengan dukungan 24 konsorium BUMN. pasar di bangun 4 lantai dengan kapasitas 298 pedagang.

“Jumlah pedagang mama-mama Papua yang terdaftar dan terverifikasi oleh Pemkot sebanyak 212 pedagang dan mereka (pedagang) yang berjualan di luar 63 pedagang dengan jumlah total 275 pedagang sehingga kami laporkan mereka yang ada di luar masih bisa menampung dan mengakomodir ke dalam pasar yang baru,” ujar Awi.

Kata Awi, ada beberapa hal teknis yang di sampaikan pedagang sehingga menjadi perhatian kita bersama di antaranya belum tersedianya saluran pembuangan untuk lantai 3, belum di bangunnya kios dan warung di lantai 3 serta belum ada kesepakatan penentuan jam operasional pasar. (*)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: