Kesaksian Barto, anak Korowai terkait pendulang emas

Jayapura, nirmeke.com – Terkait ekspoitasi Emas di Korowai, ini kesaksian anak Korowai Barto Anosanop ketika di temui Jubi beberapa waktu lalu di Jayapura.

Kata Barto, awalnya beberapa orang di Korowai Alimtapf menemukan emas di pingiran kali Dairam dan kali “Be”  sejak tahun 2015. dan di situ informasi mulai tersebar di seluruh Korowai bahkan sampai ke masyarakat umum bahwa di wilayah itu terdapat emas.

Tetapi orang Korowai sendiri belum tau cara mendulang emas sejak itu. dan nanti pada Tahun 2017 baru terjadi eksploitasi besar-besaran yang di lakukan beberapa oknum orang non Papua yang bekerja sama langsung dengan orang Korowai pemilik hak wilayat yaitu marga Yalik dan marga Hilom serta juga marga Tombub dan Bikatun.

Tempat pendulangan di Kali Dairam dan kali “Be” sendiri ada beberapa titik yang di buka untuk melakukan pendulangan dengan mengunakan mesin Alkon untuk melancarkan proses Pendulangan.

“Di kali “Be” terdapat satu titik dan kali “Dairam” ada dua titik jarak antara kali ” Be” dan kali  Dariam lumayan cukup berjauan.”

Jumlah orang Non Papua yang melakukan eksploitasi di kali Dairam 3. Pertama dibawah pimpinan Bos “Ungen” Ia memiliki karayawan 52 orang dan di Dairam 2, di bawah pimpinan Bos Gondrong memiliki karyawan 9 orang serta di kali “Be” menurut Barto dia belum mengetahui pasti jumlah karyawan di situ yang melakukan eksploitasi. mereka di kali “Be” di bawa pimpinan bos ” Ervan”.

Sebagian dari karyawan Pendulang emas mereka ke lokasi mengunakan Sepeda dari Yahukimo ke Korowai dengan melintasi jalan Trans Yahukimo Pegunungan Bintang dengan jarak 70 Km sampai di Korowai.

Dan sebagian karyawan  memobilisasi BAMA dan alat pendulangan dengan mengunakan  Heli dari PT Hevilif Aviator Indonesia yang mempunyai kantor pusat di Balikpapan. dengan bobot angkutan Hevilif 2550 kg dangan penumpang 6 orang.

Sejak tangal 30 Januari 2018 beberapa orang pemuda dari suku Korowai dan Suku Unaukam yang di bawa pimpinan Yakobus Kisamblo Mantan Anggota DPR Yahukimo dan Kepala distrik Langda Yesaya Biti Balyo dan Timius Aruman mereka bertiga memimpin aksi Demo di Bandara Yahukimo pada siang hari itu untuk Membubarkan para karyawan Pendulang emas yang Mengunakan Hevilif yang saat itu sedang parkir di bandara Yahukimo Nop Goliat Dekai.

Dan untuk saat ini beberapa orang yang karyawan termasuk Pailot Hevilif masih di tahan di Yahukimo atau sudah keluar belum jelas kepastiannya.

Barto Anosanop berharap kami orang Korowai selama ini jadi objek kepentingan dan tidak nikmati program pemerintah dengan baik sejak otonomi khusus Papua bergulir sudah 18 Tahun, kami di lupakan.

“Kami sakit tidak ada mantri, kami bodok tidak sekolah karena tidak ada orang yang mau datang mendidik kami. kami di hutan hanya tingal bersama penginjil dan pada tahun 2016 suara kami baru bisa di dengar dengan hadirnya Bapak-bapak dari Komunitas Kopkedat Papua.”

Kata Barto kami harap kedepan hasil alam kami di kelolah sendiri oleh kami pemilik hak ulayat untuk menghidupi kami orang Korowai. Saat ini orang Korowai yang sekolah tidak mampuh bayar sekolah, orang Korowai tidak punya rumah untuk anak-anak sekolah di Kota. kami hidup macam anak yatim piatu. Semoga kedepan dengan hasil alam kami gunakan dengan baik untuk masadepan anak cucu orang Korowai.

Sementara itu ketua Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil Papua (Kopkedat) Yan Akobiarek mengatakan untuk masalah tambang Korowai ini bukan hal yang baru disana tetapi hampir ada di banyak tempat di dataran rendah selatan Papua.

“saya spesifik menjelaskan di kali Dairam dan kali “Be” saja yang sejak 28/1/2018 saya upload dan mendapatkan banyak kecaman. Lokasi penambangan ini berada di antara pertengahan Kedua kampung yaitu kampung Kawe distrik Awimbon, Kabupaten Pegunungan Bintang dan kampung Brukmakot distrik Seradala Kabupaten Yahukimo.”

Saya malu mengatakan ini adalah tempat dari suatu pemerintahan karena mereka di sana tidak ada sentuhan baik oleh Pemerintah dalam arti tidak nikmati Otsus Baik.

Kata Yan, Kami harus tau juga bahwa wilayah ini masih hutan rimbah yang masih murni masyarakatnya di sana melarat sakit dan buta huruf dan kekurangan gizi sama halnya adik-adik kami di Asmat. Bahkan sedikitnya masyarakat mereka belum mengenal  injil Firman Tuhan secara baik, mereka ibaratnya seorang bayi yang baru lahir ke dunia butuh bimbingan dan teladan yang baik pula.

Kami Kopkedat Papua adalah Komunitas yang baru lahir juga dengan mencoba untuk sedikit berkarya di Negeri ini bersama misonaris dan para penginjil untuk mereka Kaum terlupakan di Rimba Papua, saat di sana kami sudah melakukan pendampingan sejak 2016-2018.

“Saya sama sekali malas bicara Emas saya selalu bicara pendidikan untuk adik-adik kami di Korowai di tempat kami lakukan pelayanan, tetapi kami sadar ini adalah satu ancaman, tahun lalu kasus Puti Hatil dari Korowai Afimabul membuka jalan masuk semua mata Dunia dan di Tahun 2018 Emas korowai ini lebih Membuka mata kita untuk melihat Krowai itu lebih utuh lagi.”

Semogah Masalah Tambang di kedua tempat, kali  Dairam dan kali”Be” bisa di netralisir dengan baik agar dapat di kelolah oleh pemilik tanah leluhur demi anak cucu mereka kedepan.(*)

 

Tinggalkan Balasan