Jimmy Weyato, guru perintis di Korowai Batu

Danowage, nirmeke.com – “Pada suatu kali Yesus duduk menghadap peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka:, “ Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahnnya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Injil Markus, 12: 41-44).

Inilah Jimmy Weyato, guru pertama di Korowai Utara. Dia adalah seorang pelopor pendidikan yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk kebaikan anak-anak di korowai.

Bagaimana Jimmy bisa terlibat menjadi seorang guru di Korowai Utara? Dia dulu bekerja di Tambang Freeport ketika dua anak dari wilayah Korowai dibawa kepadanya untuk diajar. Jimmy akan mulai bekerja jam 5 pagi dan tiba di rumah jam 6 sore setiap hari, hari yang sibuk di pertambangan itu. Lalu Jimmy akan menghabiskan waktu dari jam 6 sore sampai jam 8 malam setiap hari untuk mengajarkan anak pedalaman ini cara membaca dan menulis, berhitung matematika dan berbicara bahasa Indonesia. Dimanakan dua siswa pertama Jimmy sekarang berada? Ayub telah menyelesaikan SMA dan telah kembali ke desa Abuwage dan menjadi pemimpin gereja dan Enos sekarang belajar kedokteran di universitas Kedokteran Manado- buah-buah pertama dari hasil pelayanan Jimmy di wilayah ini.

Melihat banyaknya kebutuhan, Jimmy lantas memutuskan untuk berhenti dari pekerjannya di Freeport- pekerjaan yang sering dicari di Papua- untuk bergabung dengan tim misionaris Amerika, Trevor Johnson di desa Danowage yang berfokus pada pendidikan anak-anak di Korowai Utara.

Sudah bertahun-tahun lamanya Jimmy mengajar banyak anak di Korowai dengan setia bagaimana cara membaca dan menulis. Perin Lambe juga bekerjasama dengannya sampai mereka memutuskan untuk menikah pada 2011  – tim suami dan istri yang menakjubkan. Perin tidak dapat melahirkan anak-anak, namun jawaban yang setia yang selalu dia berikan adalah, “Tuhan telah memberikan saya banya anak-anak rohani dan saya akan melayani mereka!” Mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh dengan tanpa mengharapkan imbalan duniawi.

“Berapa banyak penghasilanmu bulan ini Jimmy?”  saya pernah bertanya kepadanya di tahun 2010 setelah melihat dia membeIi buku tulis dan pensil dan bahan-bahan sekolah untuk murid-murid dengan uangnya sendiri. Saya berniat untuk menanyakan berapa jumlah uang yang sudah dia kumpulkan dari donasi gereja bulan tersebut.

“Satu juta lima ratus ribu rupiah.” Jawab Jimmy. Sekitar 120 dolar.

“Oh, satu juta lima ratus ribu rupiah bulan ini, lumayan bagus. Kamu bisa beli kebutuhan sekolah hanya dengan uang satu juta lima ratus ribu rupiah setiap bulan?”

“Setiap bulan?” jawab Jimmy, “Tidak. Satu juta lima ratus ribu ini total yang saya dapatkan sejak satu setengah tahun yang lalu!” lanjutnya.

Saya cukup terkejut. Jimmy sudah menyerahkan pekerjannya yang bagus dan lebih banyak uangnya untuk menjadi miskin demi kepentingan anak-anak di Korowai. Dalam waktu 18 bulan semenjak beliau berheti bekerja di Freeport, dia sudah terserang malaria beberapa kali dan menghabiskan sebagian besar uangnya, bukan hanya untuk makannya atau untuk dia sehari-hari, tetapi juga untuk membeli buku tulis, pensil, penghapus dan Alkitab untuk anak-anak di Danowage untuk mengajarkan mereka membaca dan menulis kebenaran firman Tuhan.

Beberapa waktu setelahnya, ada seekor babi liar yang memasuki desa. Jimmy lalu menghadapi babi itu ketika dia melihat banyak anak-anak di desa tersebut. Dia takut apabila babi liar yang marah ini akan menyerang anak-anak, sehingga dia mendekati babi ini dan menempatkan dirinya di tengah-tengah babi dan anak-anak tersebut. Babi liar tersebut lalu menyerangnya dan Jimmy pun terluka di beberapa bagian tubuhnya. Kami lalu mengirim Jimmy ke doker untuk dioperasi dan dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya namun kami kami tidak menyetujuinya. Dokter pun lalu  memasukkan pin logan sebagai gantinya. Jimmy pun sembuh secara perlahan, namun Jimmy memutuskan untuk kembali ke Danowage sebelum waktu yang direkomendasikan dokter agar dapat segera mengajar anak-anak di Danowage.

Ini adalah sebuah pengorbanan! Seperti seorang janda miskin yang hanya bisa memberikan 2 peser di kotak persembahan, Jimmy juga hanya mempunyai sedikit uang untuk diberikan – tetapi di tengah-tengah keterbatasannya, dia memberikan semuanya kepada Korowai. Dia adalah contoh bagi kita, sama seperti janda menjadi contoh bagi murid-murid Yesus. Manusia tidak menilai sesuatu sebagaimana Tuhan menilainya. Apa yang miskin dan diabaikan oleh dunia seringkali sangat berharga di mata Tuhan. Janda miskin di injil Markus merupakan contohnya. Namanya bahkan tidak ditulis di Alkitab dan kita hanya melihat dan mempelajari beberapa detik dalam hidup janda ini, tetapi Yesus memujinya dan mengumpulkan murid-muridNya untuk menyaksikan tindaknnya dan belajar darinya. Jimmy juga merupakan teladan yang bagus bagi kita. Semoga kita tersentuh oleh teladannya sendiri dan didorong untuk meberi diri kita lebih dan lebih lagi untuk kepentingan orang lain.

Sekarang setelah kita memiliki Sekolah Lentera Harapan di Danowage, peran Jimmy sekarang telah selesai dan dia bukan lagi seorang guru. Kehadirannnya di sekolah telah pudar dan dia telah menjadi agak lelah di tengah-tengah proses ini. Oleh karena itu, saya menulis artikel singkat ini untuk memastikan usahanya tidak dilupakan atau tidak dinilai.

Semoga anak-anak Papua hidup lama dan sehat karena pengorbanan guru seperti Jimmy Weyato dan lainnya yang membuat keputusan untuk tinggal di dalam pedalaman dan mengajar mereka dari hari ke hari. (*)

Editor   : Admin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: