Menangani gizi buruk dan campak di Asmat

 

Jayapura, nirmeke.com – Ketika perhatian pemerintah pusat tersedot ke kasus KLB gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, tiba-tiba muncul laporan kejadian serupa di Kabupaten Pegunungan Bintang yang menyebabkan 23 balita meninggal dunia.

Tim Satgas Terpadu Kemanusian mengevakuasi 14 anak penderita gizi buruk dan campak dari Distrik Atsi ke RSUD Agats di Kabupaten Asmat, Papua, Jumat, 19 Januari lalu.

Kepala Bidang Humas Polda Papua A.M. Kamal mengatakan, dari 14 anak yang dievakuasi 11 di antaranya adalah penderita gizi buruk, satu patah kaki dan tangan, dan dua bayi karena keluarga kena campak dengan mengikutsertakan orang tuanya.

“Kesebelas pasien dirujuk ke RSUD Agats dengan menggunakan kapal milik Polair Polres Mimika,” ujarnya.

Sebelum mengevakuasi, tim dengan personel empat orang dan satu motoris mengantarkan barang medis  dan bahan makanan bantuan Bhayangkari Daerah Papua, Bank Papua, Bank BRI, dan instansi lainnya. Bahan makanan di antaranya biskuit, susu buat anak balita, air mineral, beras, dan minyak goreng.

Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar juga sempat berkunjung ke Distrik Atsi dan melihat kondisi di sana. Termasuk melihat sejumlah anak dan ibu terkena campak dan malaria yang sedang dirawat di Puskesmas Distrik Atsi.

Kapolda mengatakan, pasien yang kekurangan gizi dievakuasi tim satgas untuk mendapat perawatan lebih baik.

Kombes Pol A.M. Kamal seperti dikutip Antara menjelaskan, Tim Satgas Terpadu Polda Papua menggelar pengobatan bagi 472 warga Asmat penderita campak dan gizi buruk yang tinggal di delapan kampung di Kabupaten Asmat. Di antaranya pengobatan dilakukan pada Sabtu, 20 Januari di dua distrik, yaitu Distrik Aip yang terdiri dari Kampung Kawet, Mausi, Comoro, Satoyot, Tomor Airo-Airo dan Distrik Awiyu yang terdiri dari Kampung Sagare, Yepu dan Wagi.

“Dari 472 pasien yang mendapat pengobatan, yang dirujuk ke Puskemas Atsi sebanyak 10 orang dengan diagnosis campak, dehidrasi dan kurang gizi, dan warga yang mendapatkan imunisasi sebanyak 112 orang, pada awal Januari ini terdapat lima anak yang meninggal dunia di sana yang disebabkan campak,” katanya.

KLB campak dan gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Asmat sejak September 2017 telah meyebabkan 61 anak dan balita meninggal dunia. Laporan ini menyebabkan Jakarta kaget sehingga mengerahkan tim untuk mengatasi keadaan.

Bupati Asmat Elisa Kambu mengakui, sejak September 2017 Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat mencatat adanya serangan penyakit campak. Namun baru 23 Desember mendapat laporan dari Uskup Keuskupan Agats Mgr Aloysius Murwito adanya balita meninggal di Kampung As, Distrik Pulau Tiga.

“Saya juga menemukan sendiri ada balita yang meninggal dan belasan anak terserang penyakit campak dan gizi buruk di Kampung As dan Atat, ketika itu langsung memerintahkan kepala Dinkes untuk menanggulanginya,” kata Kambu saat rapat koordinasi dengan Tim Kantor Staf Presiden (KSP), tim Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Provinsi Papua, TNI dan Polda Papua pada Rabu 16 Januari lalu seperti dikutip Antara.

Menurut Bupati timnya mulai bekerja p1 Januari dan 11 Januari telah merawat ratusan pasien penyakit campak. Sebanyak 393 orang diantaranya menjalani rawat jalan dan 175 orang harus menjalani rawat inap.

“Ada kendala yang terjadi saat menangani KLB ini, minimnya tenaga dokter karena hanya ada 12 dokter dan satu dokter spesial di Asmat,” ujarnya.

Bahkan dari 16 puskemas yang tersebar, hanya tujuh yang memiliki dokter. Selain itu minimnya peralatan kesehatan dan jarak yang berjauhan mengakibatkan banyaknya korban.
Dengan datangnya bantuan dari Mabes TNI, Polda Papua dan Kemenkes, Bupati Asmat berharap KLB ini bisa tertangani secara cepat.

Pastur Hendrik Huda yang mendampingi Tim Kantor Staf Presiden (KSP) mengungkapkan, wilayah di Kabupaten Asmat hampir 90 persen tertututup air dan semua warganya yang tersebar di 23 distrik (kecamatan) ihidup di pinggir sungai.

“Sebagian besar mereka hidup dan makan dari alam, yakni mencari ikan dan sagu, bahkan mereka sering meninggalkan rumahnya dengan perahu dayung bersama keluarganya menyusuri sungai dan membuat gubuk kecil untuk tinggal mencari makan, pola hidup ini yang membuat mereka jauh mendapatkan gizi yang baik,” katanya.

Sementara, Yan Akobiarek dari Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil (Kopkedat) Papua meminta pemerintah tidak hanya melihat masalah-masalah besar yang terjadi di Papua seperti KLB, tetapi juga masalah kecil.

“Hal terkecil pun harus diperhatikan sebelum menjadi masalah besar,” ujarnya kepada Jubi di Jayapura, Rabu (17/01/2018).

Menurut Yan, yang terjadi saat ini tidak hanya KLB di Asmat, tapi juga di beberapa wilayah di Papua seperti Korowai yang juga merupakan wilayah administrasi Kabupaten Asmat.

“Saya ambil contoh seperti di Baigon, Mabul, Amakot, Ayak dan sekitarnya, banyak masyarakat yang mengalami hal yang sama, tapi kasusnya tidak meledak sehingga berbagai penyakit di sana tidak diketahui orang banyak,” katanya.

Menurutnya, salah satu jalan keluar antisipasi kejadian serupa di masa depan adalah petugas kesehatan dan juga pendidikan bekerja dengan hati yang tulus.

“Jangan melayani dengan setengah hati, terutama dalam hal pelayanan kesehatan dan pendidikan,” katanya.

Di saat perhatian tersedot kepada masalah kesehatan di Kabupaten Asmat, dilaporkan di Distrik Okbab, Kabupaten 2 Bintang juga terjadi kasus gizi buruk yag menyebabkan 23 balita meninggal dunia di Kampung Pedam. Laporan yang diterima Dinas Kesehatan Papua adalah kematian balita terjadi sejak 6 Desember 2017 hingga 11 Januari 2018. (*)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: