Antropologi Uncen, kisah di usia 40 tahun

Jayapura, nirmeke.com – Johz Manzoben adalah dosen generasi awal di Jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih (Uncen) yang sudah pensiun mengajar. Pada era 1970-an, ia salah seorang pemuda Papua yang ‘dipersiapkan’ menjadi dosen sebelum jurusan ini didirikan dengan mengirimnya belajar ke Universitas Indonesia.

Menerima Jubi untuk wawancara khusus pada Selasa (16/1) siang di teras rumahnya yang nyaman, Johz terlihat masih segar dan enerjik. Ia menceritakan tentang awal pendirikan Jurusan Antropologi Uncen yang 9 Januari kemarin genap 40 tahun.

“Rencana pendirian Jurusan Antropologi di Uncen diawali dengan pembentukan sebuah lembaga yang mengurus penelitian, museum, dan pendidikan antropologi di Uncen, langsung di-SK-kan oleh menteri pada 1 Mei 1963, setahun setelah Uncen berdiri dengan menunjuk Profesor Koentjaraningrat,” katanya.

Koentjaraningrat adalah antropolog terkemuka Indonesia yang mengajar di Jurusan Antropologi Universitas Indonesia (UI). Setelah mengaktifkan lembaga ini dengan kegiatan penelitian tentang kebudayaan Papua dan pembuatan museum antropologi Papua, tinggal kegiatan pendidikan yang belum terlaksana karena belum ada jurusan antropologi, karena minimnya tenaga dosen.

“Mereka yang mengelola lembaga tersebut adalah dosen dari UI dan peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dari Jakarta, tentu untuk mengelola dan mengajar sebuah jurusan di Uncen tidak bisa,” katanya.

Karena itu Koentraningrat meminta dan mengirimkan sejumlah pemuda ke UI untuk menjadi mahasiswa Jurusan Antropologi dengan perjanjian setelah tamat bersedia menjadi dosen di Uncen.

Diawali dengan mengirimkan Oscar Siregar pada 1970, kemudian empat orang lainnya pada 1976, Johz Manzoben pada 1977, serta Dumatubun dan Sanggenafa pada 1979.

Ketika Koentjaraningrat mendirikan Jurusan Antropologi Uncen pada 9 Januari 1978, para mahasiswa tersebut belum ada yang selesai. Baru kemudian Oscar Siregar kembali dan menjadi staf pengajar.

“Saya setelah selesai di UI kemudian melanjutkan S2 ke Universitas Leiden di Belanda, selesai langsung mengajar di Uncen pada 1986 bersama Sanggenafa, sedangkan yang lain sudah kembali dan mengajar pada 1982 dan 1983,” kenang Johz.

Sebelum para dosen baru dari Papua ini datang, jurusan diajar oleh sejumlah ‘dosen terbang’ dari UI yang kadang kala dalam satu semester datang satu kali.

“Di awal jurusan ini kebanyakan teman-teman yang mengajar melakukannya dengan susah, karena sulit menerapkan kurikulum seperti di UI, di sinilah suka dukanya,” ujar penulis buku tentang politik lokal masyarakat Papua ini.

KEUNGGULAN PENELITIAN

Peran penting lembaga antropologi di Uncen adalah melakukan penelitian awal tentang kebudayaan Papua yang akhirnya menjadi rujukan banyak penelitian berikutnya. Era 1960-an hingga 1970-an adalah medan yang tentu saja sangat berat untuk melakukan penelitian di pedalaman Papua.

Johz menceritakan, sejak didirikan pada 1963 penelitian antropologi tentang budaya Papua terus digencarkan oleh lembaga yang dipimpin Profesor Koentjaraningrat.

“Penelitian ini menjadi keunggulan tersendiri bagi lembaga antropologi Uncen, karena dari penelitian kami banyak peneliti dari berbagai negara di bidang antropologi, linguistik, pendidikan, kesehatan, arkeologi, dan botani melanjutkan penelitian,” ujarnya.

Penelitian yang telah dipublikasikan di antaranya oleh Profesor Koentaraningrat tentang kebudyaan orang Bonggo, terutama sistem kekerabatannya yang dipublikasikan dalam jurnal internasional BKIA.

Prof. Dr. Parsudi Suparlan meneliti tentang kebudayaan orang Arso yang dipublikasikan melalui Buletin of Irian Jaya Development. Kemudian Drs. Anwas Iskandar melakukan penelitian yang dibukukan tentang orang Mukoku.

Penelitian yang paling berkesan bagi Joshz yang juga dilibatkan sebagai peneliti lokal adalah bersama Prof. Dr. M.T Walker pada 1972 hingga1974. Penelitian tersebut tentang Fishing Industry in Jayapura: Market Resources In Jayapura; Copra Industri in Raja Ampat, Sorong; Economic and Sosial Change Among the Asmats.

“Ketika Prof Walker melakukan penelitian di Asmat selama setahun, kami diikutkan tinggal selama setahun hidup bersama dengan masyarakat di sana,” kenangnya.

Lembaga antropologi Uncen waktu itu terkenal juga dengan penerbitan jurnal ilmiah antropologi bernama “Buletin of Irian Jaya Development” yang terbit dari 1972 hingga 1955, kemudian 1998. Jurnal ini memuat berbagai hasil penelitian tentang Papua

“Majalah ini memiliki pelanggan dari berbagai lembaga internasional dan pribadi berjumlah 800 eksemplar, para pelanggan dari berbagai negara di dunia,” kata Johz.

Sedangkan untuk museum telah dikoleksi etnografi dari berbagai tempat di Tanah Papua yang dilengkapi inventaris, katalogisasi, dan display.

Kini Jurusan Antropologi Uncen beraktivitas seperti umumnya Jurusan Antropologi di perguruan tinggi provinsi lainnya di Indonesia. Termasuk di bidang penelitian, dengan keluhan yang mirip.

Ketua Jurusan Antropologi Uncen Marlina Falssy kepada Jubi mengatakan, sebenarnya saat ini banyak penelitian yang telah dilakukan dosen, alumni, dan mahasiswa, namun tidak terpublikasikan.

“Kami mempunyai jurnal yang dikerjakan Pak Jack Morin, tidak rutin juga karena terkendala keuangan, banyak hal yang kami lakukan tetapi hari ini kami akan refleksi semua yang terjadi agar memajukan jurusan ini ke depan,” katanya.

Meski jurusan ini sekarang memiliki 300 mahasiswa aktif dari angkatan 2013 hingga 2017, Marlina mengatakan peminat selalu naik dengan pada 2017 diterima 150 orang. Namun ini menurutnya tidak sebanding dengan jumlah dosen yang hanya 21 dengan dua orang masih pegawai kontrak dan tujuh orang sedang studi S3.

“Jadi dosen yang aktif tinggal 12, rationya tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan