Burukmahkot Tidak Ada Petugas Kesehatan, Dana BOK Terus Mengalir

Jayapura, nirmeke.com – Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan provinsi Papua dr Aaron Rumainum meminta kepala para kepala Puskesmas harus mengontrol Pustu yang sudah di bangun di beberapa kampung di Korowai. Jumat, (3/11/2017), Jayapura, Papua.

“Misalnya di Puskesmas Seredala bagian dari kabupaten Yahukimo sudah terima dana BOK Rp 250 juta pada semester pertama namun dari laporan warga di Pustu Burukmahkot tidak pernah kesana.”

Lanjutnya, Kepala Puskesmas sudah di tunjuk dan menerima dana BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) tersebut namun realisasi di lapangan tidak ada, warga yang datang mengatakan petugas tidak pernah ada di Pustu yang ada hanya bangunan tanpa penghuni.

“Mereka yang sudah menerima dana seperti ini harus memperhatika kesehatan di pos-pos yang ada Pustunya dengan menempatkan petugas keseatan di sana untuk melayani masyarakat jangan hanya tau terima uang saja,” tuturnya.

Dikatakannya dari setiap pos yang sudah memiliki Pustu (Puskesmas Pembatu) dari 4 Kabupaten baik Asrmat, Mappi, Boven Digoel dan Yahukimo harus menempatkan petugas masing-masing 2 orang supaya saling menolong di sana.

Sementara itu Nataber Alia, Pengingil di kampung Burukmahkot mengatakan sejak 17 tahun terakhir ini tidak ada petugas kesehatan yang datang melayani masyarakat disini untuk pengobatan meskipun di sini sudah di bangun Pustu.

“Burukmahkot sudah memiliki pustu dari tahun 2013 namun sampai saat ini Dinkes kabupaten Yahukimo belum kirim petugas dan di sini juga sudah di bangun 2 rumah untuk petugas tapi tidak ada yang bertugas.”

Lanjutnya, untuk mendapatkan obat, ia harus menempuh 2 hari agar bisa sampai ke kabupaten Yahukimo untuk meminta obat dan petugas untuk melayani masyarakat namun sampai saat ini belum di respon baik oleh mereka.

“Di sini banyak orang yang meninggal karena sakit malaria dan batuk-batuk dan juga penduduk paling banyak berkisar 200 orang. Saya berharap Pemda dan Dinkes Yahukimo dapat melihat kesehatan di daerah perbatasan ini,” kata Nataber yang juga sebagai kader untuk melayani pengobatan kepada masyarakat setempat.(*)

Tinggalkan Balasan